
Sore itu sepulang dari kantornya Anne langsung menuju kamarnya yang ia tinggali sebelumnya, karena tadi pagi ia terburu-buru ke kantor hingga tak sempat memeriksanya.
"Astaga, dia benar-benar menjadikan kamar ini sebagai gudang." Anne nampak tak percaya kamarnya kini telah di alih fungsikan untuk menyimpan barang-barang yang jarang di pakai.
"Selama sore, nyonya." sapa bibi Ester tiba-tiba hingga membuat Anne terperanjat kaget, pelayannya itu benar-benar sama persis dengan sang suami selalu saja muncul tanpa di sangka.
"Hm sore, aku ingin segera mandi. Jika bibi sudah selesai silakan pulang, aku belum berselera untuk makan malam." tukas Anne menatap pelayannya tersebut, kemudian segera menaiki anak tangga.
"Selama tuan James pergi saya di minta untuk menemani anda di sini." terang Bi Ester memberitahu.
Anne langsung menghentikan langkahnya kemudian berbalik badan menatap pelayannya itu. "Maksud bibi ?"
"Untuk beberapa hari ini tuan James tidak akan pulang nyonya, jadi saya di minta untuk menemani anda di sini." terang Bi Ester seraya membawa travel bag milik suaminya yang entah mau di bawa kemana, meski sebagai nyonya di rumah ini Anne tak mempunyai kuasa untuk ikut campur karena suaminya itu lebih mempercayai pelayannya tersebut.
Anne mengangguk kecil. "Baiklah terima kasih, tapi lebih baik bibi segera pulang." ucapnya lalu kembali menaiki anak tangga.
"Apa dia ada pekerjaan di luar kota ?"
Anne menghela napasnya sejenak, bahkan ia tak ingin peduli kemana pria itu pergi.
Setelah membersihkan dirinya Anne memutuskan untuk segera makan, sebenarnya ia sedang tak berselera namun ia tak ingin penyakit lambungnya kambuh karena melewatkan makan malamnya dan ia juga tak ingin mengecewakan pelayannya itu yang pasti sudah lelah memasak untuknya.
Sesampainya di lantai bawah, Anne sudah tak melihat Bi Ester. Wanita itu pasti telah pulang dan kini tinggallah ia seorang diri.
Anne segera menarik kursi lalu menghempaskan bobot tubuhnya di sana, mengisi piringnya dengan sedikit makanan lalu mulai menyantapnya.
Wanita itu nampak mengunyah seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut rumahnya yang terlihat sangat sepi. Bahkan jangkrik pun enggan bersuara untuk menemani malamnya.
"Selamat malam nyonya, tuan James meminta saya mengambil pakaiannya yang sudah di siapkan oleh Ester." ucap Mark setelah Anne membuka pintu untuknya.
"Masuklah !!" Anne segera menyuruhnya untuk masuk.
Setelah masuk pandangan Mark tertuju ke arah koper yang terletak di ujung ruangan, kemudian pria itu langsung mengambilnya.
"Kalau begitu saya permisi, nyonya." ucap Mark seraya membawa travel bag tersebut.
Anne mengangguk pelan, lalu kembali mengunyah makanannya. Sejak tinggal di sini ia sudah terbiasa tak di anggap istri, jadi untuk apa ia menyesali saat suaminya pergi tanpa pamit padanya.
Pergumulan yang sering mereka lakukan hanya atas dasar nafsu belaka dan bukanlah cinta, jadi tak ada keharusan untuk saling memberikan kabar.
Mark terlihat ragu melangkahkan kakinya saat melihat sikap dingin sang nyonya. "Apa anda tidak ingin bertanya kemana tuan James pergi, nyonya ?" ucapnya pada akhirnya sebelum ia benar-benar keluar dari rumah tersebut.
Anne mengangkat wajahnya menatap asisten suaminya itu. "Pintu keluar ada di depan, tuan Mark." ucapnya kemudian.
Mark mengangguk kecil entah kenapa wajahnya terlihat iba, kemudian pria itu segera berlalu pergi.
Sementara itu di tempat lain James nampak membawa Grace kembali ke rumahnya, keadaan wanita jauh lebih baik saat ini dan senyumnya terus mengembang ketika mengetahui ia akan menginap beberapa hari di rumahnya.
"Makanlah yang banyak, anak kita menginginkan Daddynya agar tetap sehat." Grace meletakkan potongan daging di atas piring James saat mereka sedang makan malam bersama.
"Terima kasih." timpal James sembari mengunyah makanannya.
"Kamu juga makanlah yang banyak, kata dokter berat badan bayi dalam kandunganmu juga sangat rendah." imbuhnya lagi.
"Tentu saja aku akan menjaga anak kita dengan baik." Grace terlihat sangat bersemangat bahkan wanita itu memenuhi piringnya dengan berbagai makanan.
"Itu lebih baik." timpal James.
"Kamu akan menemaniku di sini kan ?" Grace menatap suaminya itu dengan wajah memohon.
"Hm, Mark akan membawakan beberapa pakaian kerjaku ke sini." sahut James di tengah kunyahannya.
"Jadi kamu akan menginap lama di sini? terima kasih aku sangat menyayangimu." Grace langsung memeluk lengan kekar suaminya itu lalu menyandarkan kepalanya di sana, rupanya usahanya untuk mencelakai dirinya sendiri beberapa waktu lalu telah merubah sikap suaminya yang akhir-akhir ini sangat dingin menjadi lebih hangat bahkan pria itu kini akan tinggal bersamanya.
Keesokan harinya....
"Banyak kerjaan yang harus ku selesaikan, tuan Mark." sahut Anne seraya melangkah mendekati mobil pria itu.
"Ku harap anda tidak terlalu bekerja keras, nyonya." timpal Mark lagi.
"Terima kasih sudah mengkhawatirkan ku." sahut Anne menatap pria itu sejenak lalu segera masuk ke dalam mobilnya.
Tentu saja Anne harus bekerja keras untuk membayar hutang-hutang keluarganya pada suaminya itu.
Sesampainya di kantornya Anne tak melihat mobil suaminya, mungkin saja pria itu belum datang.
"Selamat pagi, An." sapa William yang juga baru datang.
"Selamat pagi juga tuan William." Anne langsung membungkuk memberikan hormat.
"Jika kamu kesepian selama James mengecek proyek di luar kota, berkunjunglah ke rumah. Istriku pasti akan sangat senang." ucap William menatap istri dari wakil direkturnya tersebut.
"Jadi dia sedang berada di luar kota."
Anne langsung mengangguk. "Baik tuan, nanti saya usahakan." ucapnya kemudian.
Setelah itu Anne melangkah mengikuti bossnya itu masuk ke dalam kantornya, Anne masih tak habis pikir suaminya sama sekali tak menghubunginya jika ingin ke luar kota meski hanya berbasa-basi semata.
"Memang lebih baik seperti ini dan ku harap malam itu akan menjadi malam terakhir dia menyentuhku, karena ku takkan sudi lagi di sentuhnya."
...----------------...
Hingga beberapa hari kemudian James belum kunjung pulang, pria itu juga tak datang ke kantor. Mungkin masih berada di luar kota pikir Anne.
"Sayang, kamu janjikan hari ini akan menemaniku jalan-jalan. Beberapa hari ini kamu selalu sibuk mengecek proyek." keluh Grace pagi itu saat mereka sedang sarapan, pria itu selalu pergi pagi dan pulang di saat ia sudah terlelap tidur.
"Bukankah itu sudah menjadi pekerjaanku ?" ucap James, beberapa hari ini ia memang sangat sibuk dengan proyek barunya yang berada tak jauh dari kota tempat wanita itu tinggal. Untuk itu ia sengaja menginap di kediamannya tersebut, karena jika harus pulang ke rumahnya dengan Anne akan memakan waktu lebih lama lagi.
"Baiklah, aku mengerti kau memang selalu sibuk." Grace terlihat mengerucutkan bibirnya.
"Ayo habiskan lah makananmu." tukas James saat melihat piring wanita itu masih penuh.
"Aku sudah tak berselera." sahut Grace masih dengan nada kesal.
"Baiklah kita pergi jalan-jalan hari ini, tapi habiskan makananmu dahulu." bujuk James dan tentu saja membuat wanita itu langsung tersenyum girang dan segera menghabiskan makanannya.
Beberapa saat kemudian sembari menunggu wanita itu berganti pakaian, James terlihat menghempaskan bobot tubuhnya di kursi taman belakang rumahnya.
Matanya nampak menatap kontak istri keduanya itu yang terlihat sedang online, namun lama ia tunggu tak ada satu pun pesan yang masuk ke ponselnya.
"Sedang online bersama siapa dia ?" gumamnya, ada perasaan kesal saat melihat wanita itu beberapa kali mengetik namun bukan di tujukan padanya.
Beberapa hari ini James memang sengaja tak menghubungi wanita itu, ia ingin tahu jika dirinya tak ada apa wanita itu akan mencarinya atau bahkan merindukannya. Namun istrinya itu sama sekali tak pernah bertanya tentangnya baik pada teman kantornya atau Mark sekalipun.
Padahal hampir satu minggu ini pikirannya selalu di penuhi oleh wanita itu, setiap ia tak sibuk selalu mengeceknya melalui cctv. Namun sepertinya hanya dia sendiri yang terlalu memikirkannya.
"Aku sudah siap, ayo." tiba-tiba Grace datang hingga membuat James segera mematikan cctv di ponselnya, baru saja ia ingin mengecek keadaan istri keduanya itu namun wanita itu sudah mengganggunya saja.
Sesampainya di sebuah Mall, Grace mengajak suaminya masuk ke dalam toko khusus pakaian bayi. Wanita itu ingin membeli beberapa kelengkapan untuk sang buah hatinya nanti.
Meski baru menginjak usia 6 bulan kehamilan, namun Grace sudah antusias untuk menyiapkannya. Apalagi bayi yang ia kandung berjenis kelamin laki-laki yang tentu saja pasti akan menjadi kebanggaan suaminya itu.
"Apa ini bagus ?" tanya Grace saat menunjukkan sebuah kaos kaki bayi bergambar boneka.
"Hm, itu sangat bagus. Ambillah beberapa pasang." sahut James, pria itu juga terlihat antusias dengan mengambil beberapa pakaian hangat untuk sang buah hatinya nanti.
Namun tanpa ia sadari seorang wanita sedang memperhatikannya dengan mata berkaca-kaca dan saat pria itu berbalik badan untuk meletakkan tumpukan pakaian bayi di dalam troli pandangan mereka tiba-tiba bertemu.
"Kau !!" ucapnya dengan wajah tak percaya saat melihat wanita tersebut.