
"Siapa dia honey, apa dia pria selingkuhanmu ?" William nampak mengeraskan rahangnya dan itu membuat Merry menjadi takut.
Sepertinya suaminya itu memang tidak mengenali siapa sosok dosennya tersebut dan itu berarti Artha telah membohonginya? tapi bagaimana bisa pria itu tahu banyak hal tentang pembantaian orang tuanya dan juga William?
"Jadi kamu tidak mengenal Artha ?" ulang Merry memastikan.
"Jika aku mengenalnya maka pasti sudah ku ledakkan kepalanya karena berani sekali menggodamu." sahut William.
"Tidak ada yang menggodaku, Will. Sebenarnya aku hanya ingin mengetes saja apa kamu akan cemburu atau tidak jika aku membicarakan pria lain." ralat Merry dengan mengusap lengan suaminya itu, lebih baik ia menahan diri dulu untuk tidak berkata jujur sambil mencari bukti keterlibatan pria itu dalam pembantaian ayahnya sesuai kata Artha.
Karena jika Merry menuduhnya seperti sebelum-sebelumnya maka pria itu akan selalu mengelak.
"Dan kamu sudah tahu jawabannya bukan ?" William menatap datar istrinya itu.
"Ten-tentu saja." Merry mengangguk setuju lalu menyandarkan kepalanya di bahu pria itu.
Sesampainya di mansionnya, William membiarkan istrinya itu naik ke kamarnya lalu dirinya dan James berlalu ke ruang kerjanya.
"Cari tahu siapa pria bernama Artha, James. Aku yakin istriku sedang menyembunyikan sesuatu !!" perintah William sesampainya di ruang kerjanya lalu pria itu melangkahkan kakinya menuju jendela yang ada di sana, pandangannya nampak tertuju pada beberapa pengawalnya yang sedang berjaga di belakang rumahnya.
"Kau jangan macam-macam, honey." imbuhnya lagi dalam hati, tanpa sadar tangannya nampak mencengkeram horden di sampingnya itu.
"Baik tuan, secepatnya akan saya selidiki." angguk James dengan patuh, meski sang tuan sedang berdiri membelakanginya.
"Lalu bagaimana dengan keadaan tuan Martin ?" tanya William kemudian.
James nampak menghela napasnya. "Satu jam yang lalu saya mendapatkan laporan jika beliau sudah siuman dari tidur panjangnya tuan." terang James yang langsung membuat William berbalik badan menatap asistennya itu dengan geram.
"Ceroboh, kenapa baru mengatakannya sekarang ?" hardiknya dengan murka.
"Maaf tuan, sebenarnya saya baru mendapatkan kabar beberapa saat lalu dan saya sengaja tidak mengatakannya karena sedang ada nyonya." sahut James.
"Nyonya, nyonya siapa ?" Merry yang tiba-tiba masuk langsung menyela dan sontak membuat William maupun James menoleh padanya.
"Tidak bisakah kau ketuk pintu dahulu sebelum masuk, honey ?" tegur William menatap istrinya itu.
"Maaf, aku lupa." Merry nampak tersenyum nyengir.
"Kalau begitu saya permisi, tuan." James segera berlalu pergi sebelum nyonya mudanya itu bertanya lebih jauh.
Sedangkan Merry nampak menatap kepergian pria itu dengan wajah penasaran tapi mungkin bukan hal penting pikirnya.
"Katakan, kamu ingin apa ?" William mendekati sang istri, tak biasanya gadis itu mencari dirinya duluan.
"Will, kamu mencintaiku kan ?" Merry balik bertanya.
"Apa kamu masih ragu ?" William nampak mengernyit.
"Ti-tidak, aku hanya ingin kamu mau membantuku menemukan di mana kedua orang tuaku ?" ucapnya dengan nada memohon.
"Tentu saja, James dan anak buahnya sudah berusaha mencarinya." sahut William seraya mengangkat tangannya lalu mencoba melepaskan kancing gaun yang di pakai oleh gadis itu.
"Kalian sudah lama sekali mencari masa belum ketemu juga." gerutu Merry menumpahkan kekesalannya karena sepertinya suaminya itu tak serius mencari kedua orang tuanya.
"James pasti segera menemukannya honey, bersabarlah." bujuk William seraya menelan ludahnya karena telah berhasil melepaskan seluruh kancing gaun gadis itu hingga menampakkan sebuah bra berenda yang tak sepenuhnya berhasil menampung gundukan kenyal favoritnya.
Saat tangan suaminya mulai menelusup masuk ke dalam sana membuat Merry baru menyadari jika pakaian atasnya sudah tak berbentuk lagi.
"Dan kau selalu menikmatinya, honey." William langsung menarik pinggang istrinya semakin merapat lalu m3lum4t bibirnya dengan lembut.
Tangan pria itu pun tak tinggal diam dan mulai menanggalkan pakaian sang istri satu persatu hingga kini menyisakan kain tipis yang menutupi pusat gairahnya.
Dengan bibir masih saling bertautan William membawa gadis itu menuju sofa hingga kini berada di atas pangkuannya.
"Ahhh, Will." Merry mendesah nikmat saat bibir pria itu turun ke lehernya lalu berakhir di kedua bukit kembarnya.
Merry selalu tak tahan saat pria itu memainkan puncak gundukan kenyalnya dengan bibirnya, mengulumnya serta menyesapnya dengan sedikit kasar hingga membuatnya langsung m3r3m4s rambut sang suami seakan ingin menenggelamkan kepala pria itu di sana.
William tersenyum menyeringai, sepertinya pria itu selalu menikmati setiap perbuatannya yang mungkin akan menjadi kenangan terindah baginya.
"Will, please. Aku menginginkan mu." mohon Merry saat miliknya di bawah sana sudah berkedut dan basah akibat sentuhan nakal pria itu.
"Ini baru permulaan honey, aku akan membuatmu tidak akan pernah bisa melupakan setiap sentuhanku." William mengangkat istrinya itu lalu merebahkannya di atas meja kerjanya yang kosong.
Kemudian pria itu melebarkan kedua paha istrinya itu lalu menenggelamkan wajahnya di sana hingga membuat istrinya itu merem melek di buatnya.
"Will, please." Merry memohon dengan napas terengah-engah menatap suaminya itu hingga membuat William tersenyum kecil lalu pria itu mulai melucuti pakaiannya sendiri dan mulai mengarahkan kejantanannya yang panjang dan berurat itu ke inti pusat istrinya itu.
Dengan sekali hentakkan pria itu berhasil membenamkan miliknya sepenuhnya dan mulai bergerak perlahan.
"Kau selalu sempit, honey." racau William saat merasakan miliknya serasa di urut di dalam milik istrinya itu.
Ruang kerja yang tadinya nampak rapi kini terlihat berantakan, karena mereka melakukannya di setiap sudut tempat tersebut.
Hingga d3s4han panjang dari keduanya menandakan mereka telah sampai puncaknya untuk ke sekian kalinya.
Merry nampak jatuh di atas tubuh suaminya setelah mendapatkan pelepasan hebatnya.
Beberapa harinya kemudian....
"Merr, tunggu !!" Artha nampak mengejar Merry saat gadis itu seharian ini mengabaikannya dan lebih memilih berkumpul dengan teman-temannya.
Setelah kejadian waktu itu Merry sengaja tak pergi ke kampusnya selama beberapa hari dan lebih memilih mengikuti kuliah secara online.
"Kamu mau apa ?" Merry langsung terkejut saat tiba-tiba Artha mencekal tangannya hingga membuatnya menghentikan langkahnya saat akan keluar kelasnya.
"Kalian pulang saja duluan, hari ini Merry ada bimbingan dengan saya !!" perintah Artha pada beberapa mahasiswa lainnya.
"Apa kamu sudah membuat keputusan ?" ucap Artha setelah kelas sudah kosong.
"Aku tidak harus membuat keputusan apapun, aku sudah menikah dan aku mencintai William." tegas Merry kemudian.
"Apa kau tetap akan mencintai William jika pria itu ikut terlibat dalam pembantaian orang tuamu ?" tanya Artha yang sontak membuat Merry memicing.
"Aku tidak percaya." tegas Merry.
"William adalah pelakunya, karena dia ingin menguasai harta ayahmu maka dia memerintahkan James untuk membunuh tuan Martin dan nyonya Sera." imbuh Artha kemudian.
Deg!!
Merry langsung terduduk di kursi, gadis itu nampak syok saat mengetahui suaminya adalah pelaku pembantaian di kediaman orang tuanya waktu itu.