
Sore itu Alex memerintahkan sang asisten untuk menghentikan mobilnya di sebuah bar ternama di kotanya tersebut.
Setelah melangkah masuk ia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut bar dan pandangannya langsung berhenti pada meja bartender di mana tampak dua orang yang sangat ia kenal sedang bermesraan.
Melihat itu darah Alex seketika mendidih, rahangnya mengeras dan tangannya terkepal kuat. Lantas ia segera mendekat dan menarik tubuh sang wanita menjauh hingga ciuman mereka terlepas.
"Ck benar dugaanku, kau tak lebih dari seorang j4l4ng. Ku pikir kau wanita yang berbeda rupanya sama saja seperti yang lain, aku benar-benar kecewa telah mengenalmu." geramnya menatap Elsa dengan tatapan tajam.
Sedangkan Elsa hanya menanggapinya dengan senyuman sinis. "Lalu kamu mau apa? bukankah dari awal aku sudah mengatakan apa tujuanku menggodamu ?" ucapnya tanpa perasaan dan itu membuat Alex semakin meradang, ia benar-benar membenci wanita itu sekarang.
"Sudahlah bro, dia saja tidak tertarik padamu. Jadi, berhenti mengejarnya. Elsa wanita bebas, dia berhak berhubungan dengan siapa pun baik itu dengaku maupun pria lain." timpal Marco memperingatkan kemudian beranjak dari duduknya lalu menepuk bahu pria itu beberapa kali.
"Ke depannya kita akan banyak melakukan kerja sama, jadi ku harap bersikaplah profesional tanpa mencampur adukkan masalah pribadi." imbuh Marco lagi lantas menarik tangan Elsa dan membawanya keluar dari bar tersebut.
Alex yang masih mengepalkan tangannya dan siap memukul pria itu langsung di tenangkan oleh sang asisten. "Tuan, sepertinya segelas wiskey akan membuat anda merasa lebih baik." tawarnya kemudian, ia tak ingin nama baik sang tuan tercoreng karena ribut hanya demi seorang wanita.
Apalagi tuannya itu sedang menghadapi proses perceraian dengan sang istri, ia tak ingin wanita itu justru akan memanfaatkan hal itu demi kepentingan pribadinya mengingat mereka menikah bukan dalam waktu yang singkat.
"Hm, pesankan beberapa minuman untukku !!" perintah Alex lalu menghempaskan bobot tubuhnya di kursi tak jauh dari sana.
"Bedebah !!"
Sepertinya Alex masih belum terima dengan apa yang ia lihat dan kini pria itu benar-benar merasa patah hati. Alex tak menyangka Elsa tega menyakiti perasaannya, meski dari awal ia tahu wanita itu mendekatinya dengan maksud tertentu.
Ia pikir wanita itu akan berubah mengingat hubungan mereka semakin hari semakin membaik, namun ia tak mengira jika Elsa benar-benar tak punya hati.
Sementara Elsa yang sedang berjalan beriringan dengan Marco menuju parkiran nampak terdiam, kenapa sebagian hatinya tiba-tiba terasa sakit saat melihat bagaimana Alex tadi menatapnya dengan penuh kebencian.
"Kamu baik-baik saja ?" tanya Marco kemudian.
"Tentu saja, terima kasih sudah membantuku." sahut Elsa dengan mengulas sedikit senyumnya.
Mungkin ini adalah keputusan yang tepat, sengaja membuat Alex membencinya agar pria itu segera melupakannya.
Malam pun mulai larut dan Alex tampak keluar dari bar tersebut dengan keadaan mabuk, beruntung ada sang asisten yang selalu setia menemaninya dan membawanya pulang dalam keadaan selamat.
Keesokan paginya Alex terbangun dengan kepala yang sangat sakit, sudah lama sekali ia tak banyak minum hingga membuatnya kini harus merasakan efeknya.
Setelah membersihkan dirinya pria itu bergegas meninggalkan rumahnya dan di sinilah ia berada sekarang, di depan rumah Elsa yang rupanya sudah di tinggalkan oleh sang pemiliknya.
Melihat sebuah papan iklan jika rumah tersebut sedang di jual, membuat Alex yakin jika wanita itu sudah tak ada lagi di sana.
Banyak sekali kenangannya bersama wanita itu di rumah tersebut dan tanpa Alex sadar pria itu tampak turun dari mobilnya kemudian melangkah mendekat.
"Maaf tuan, apa anda mau membeli rumah ini ?" sapa seorang pria yang baru saja keluar dari rumah tersebut.
"Di mana pemilik rumahnya ?" tanya Alex kemudian.
Alex mengangguk kecil lalu segera melangkah masuk, saat baru menginjakkan kakinya di dalam rumah itu Alex langsung mengedarkan pandangannya ke setiap sudutnya.
Di mana sebelumnya ia dan wanita itu telah menghabiskan malam panjang dengan bercinta di setiap sudut tempat tersebut dan itu membuat hatinya semakin sakit saja.
"Brengsek !!"
...----------------...
Sudah beberapa hari ini Alex benar-benar tak bisa konsentrasi bekerja, pria itu lebih banyak menghabiskan waktunya hanya untuk minum-minuman keras.
Penampilannya tampak berantakan dengan rambut sedikit memanjang dan bulu-bulu halus yang tumbuh di sekitar rahangnya terlihat sedikit lebat, entah sudah berapa lama pria itu tak mencukurnya.
Alex benar-benar tak mempunyai gairah untuk hidup, percintaannya selalu berakhir mengenaskan dan ia tak mengerti kenapa Tuhan begitu tak adil padanya.
Dan kini pria itu tak lagi mempercayai apa itu cinta, cinta hanya akan menghancurkan hidupnya.
"Tuan, sampai kapan anda akan seperti ini? apa perlu saya mencari keberadaan nona Elsa di Jerman ?" ucap asisten Alex yang baru saja datang, pria itu terlihat iba pada sang tuan yang tak pernah seperti ini sebelumnya.
Pengaruh wanita itu benar-benar sangat kuat hingga membuat sang tuan merasa begitu hancur.
Akhir-akhir ini tuan besarnya itu memang jarang datang ke kantor, pria itu lebih memilih mengurung dirinya di ruang kerja dengan di temani beberapa botol minuman keras yang sebagian telah kosong.
"Jangan pernah sebut namanya lagi di depanku !!" geram Alex, cinta yang pernah tumbuh subur di hatinya kini telah berubah menjadi sebuah kebencian.
"Ada kalanya wanita ingin di perjuangkan tuan dan begitu juga dengan nona Elsa, mungkin beliau menginginkan anda untuk sedikit berjuang lagi" timpal sang asisten.
"Ck, wanita seperti dia apa pantas di perjuangkan? di saat dia menikmati tidur denganku tapi di sisi lain dia juga bermesraan dengan pria lain. Lalu apa bedanya wanita itu dengan mantan istriku, semuanya sama saja." cibir Alex, lalu kembali meneguk minumannya. Sepertinya pria itu benar-benar sudah krisis kepercayaan terhadap wanita.
Asisten Alex nampak menghela napasnya sejenak. "Tapi saya rasa tidak semua wanita seperti itu tuan, semoga suatu saat anda menemukan sosok wanita yang benar-benar dapat membahagiakan anda." ucapnya kemudian, namun tuannya itu tak memberikan tanggapannya.
Pria itu nampak mencengkeram gelas di genggamannya dengan sangat kuat hingga seketika langsung pecah dan nampak darah segar mengucur ke lantai.
"Tuan, andai baik-baik saja ?" sang asisten langsung melangkah mendekat, namun Alex segera mengangkat tangannya agar ia tetap berdiri di tempatnya.
"Cari tahu usaha milik wanita si4l4n itu di Jerman dan segera hancurkan hingga tak bersisa !!" perintahnya kemudian yang sontak membuat asistennya itu nampak melebarkan matanya.
Suara tuannya yang dingin dan penuh penekanan membuat sang asisten langsung mengangguk.
"Ba-baik tuan." ucapnya kemudian.
"Inikan yang kamu inginkan? baiklah mari kita lihat kamu atau aku yang akan hancur."
Alex semakin mengepalkan tangannya hingga darah segar semakin mengucur dari tangannya akibat beberapa serpihan gelas yang telah menusuk kulitnya.
Sepertinya rasa sakitnya itu tak seberapa di bandingkan dengan sakit hatinya pada Elsa, wanita itu telah sukses menginjak harga dirinya sebagai seorang pria.