Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~256


"Apa semua sudah beres ?" tanya Alex saat Jack datang melapor malam itu.


"Sudah tuan, karena selama ini tuan Ben telah memproduksi bahan peledak ilegal di Apartemennya maka polisi menetapkan beliau yang bersalah atas insiden kebakaran tersebut." terang Jack memberikan informasi.


Alex nampak tersenyum menyeringai, sudah bertahun-tahun ia memendam sakit hati pada pria itu dan ketika saatnya tiba ia bisa membalas sakit hatinya tanpa harus mengotori tangannya sendiri.


Sebelumnya setelah mengetahui Ben berbisnis casino ilegal di kotanya, Alex selalu mengintai pergerakan pria itu bahkan Alex pun tahu jika akhir-akhir ini Ben juga sedang berbisnis bahan peledak.


Dan saat Sam mengabarinya jika Elsa dalam keadaan bahaya di dalam apartemen pria itu, seketika Alex memiliki ide licik.


Menjalankan rencananya dengan membuat aliran listrik seolah sedang terjadi konsleting dan terjadinya kebakaran yang pasti akan lebih dahsyat karena mengenai material bahan peledak milik pria itu.


Sangat berbahaya memang, bahkan ia dan anak buahnya harus mempertaruhkan nyawanya namun ia sudah mempelajari sebelumnya jika rencananya pasti akan berhasil.


Alex mengangguk kecil lalu memerintahkan asistennya itu untuk segera beristirahat karena pasti lelah dengan kejadian hari ini.


Kemudian pria itu menuang segelas wiskey, lalu membawanya berlalu ke jendela ruang kerjanya. Menatap pemandangan lampu kota yang nampak begitu cantik dari kejauhan.


Tiba-tiba Alex merasa sebuah tangan melingkar di perutnya. "Aku sangat merindukanmu." ucap seorang wanita dengan lirih dan Alex sudah bisa menebak siapa wanita itu.


"Apa kau merasa bersedih ?" ucap Alex kemudian dengan tersenyum sinis.


"Maksud kamu ?" timpal Celine tak mengerti.


"Pria itu telah pergi dengan mengenaskan, apa kau bersedih ?" ulang Alex lagi yang langsung membuat Celine melepaskan pelukannya.


Alex yakin istrinya itu pasti sudah mendengar kabar hari ini dan ia ingin melihat bagaimana reaksinya mendengar seseorang yang pernah menjadi teman kencannya itu tiada.


Meski lima tahun telah berlalu dari kejadian perselingkuhan wanita itu namun Alex belum sepenuhnya melupakan hal itu meskipun ia berusaha untuk memaafkannya mengingat ia juga diam-diam telah meniduri wanita lain.


"Aku bahkan sudah melupakannya, bukankah kita sudah sepakat untuk tidak membahas itu lagi? aku sangat mencintaimu sayang. Berapa kali aku harus mengatakan jika aku telah menyesali perbuatanku? aku merelakan karirku demi kamu, apa itu masih belum cukup? katakan aku harus bagaimana ?" timpal Celine yang kini menghadap suaminya itu.


"Apa kau yakin benar-benar menyesal dan tak mengulang lagi perbuatanmu dengan pria lain lagi, hm ?" sinis Alex yang langsung membuat Celine melebarkan matanya.


"A-apa maksudmu ?" Celine nampak salah tingkah, apa suaminya itu telah mengetahui hubungannya dengan Marco.


Melihat reaksi istrinya itu Alex nampak menatapnya datar lalu seketika pria itu tertawa nyaring. "Aku hanya becanda kenapa kamu seserius itu ?" ucapnya kemudian yang langsung mendapatkan pukulan dari wanita itu.


"Becandamu sangat tidak lucu." protesnya, kemudian Celine langsung memeluk suaminya itu.


"Aku sangat mencintaimu, tolong jangan pernah tinggalkan aku. Di dunia ini hanya kamu satu-satunya yang ku miliki." mohonnya kemudian.


"Jangan khawatir, aku masih mengingat janjiku pada orang tuamu, kecuali....." Alex menjeda ucapannya, pria itu mengingat bagaimana janjinya pada kedua mertuanya untuk selalu menjaga istrinya itu sesaat sebelum mereka tiada.


"Kecuali ?" Celine mendongakkan wajahnya menatap suaminya itu.


"Lupakan, tidurlah ini sudah malam !!" perintah Alex kemudian.


"Aku ingin tidur denganmu." mohon Celine dengan wajah memelas.


"Lihatlah pekerjaanku masih banyak." timpal Alex menatap istrinya tersebut.


Pandangan mereka nampak terkunci beberapa saat lalu Celine sedikit berjinjit mendekatkan wajahnya lantas mencium bibir suaminya itu.


"Kenapa ?" tanyanya kemudian karena akhir-akhir ini pria itu kurang bergairah padanya, meski ia sudah merasakan perubahan suaminya itu sejak lima tahun yang lalu namun pria itu selalu mendatanginya jika sedang menginginkannya dan kini ia merindukan sentuhannya.


"Aku hanya lelah." sahut Alex seraya melangkahkan kakinya menuju kursi kerjanya lantas menghempaskan bobot tubuhnya di sana.


Celine mengangguk kecewa. "Baiklah, aku tidur duluan. Tolong jangan terlalu larut bekerja." pesannya kemudian.


"Hm, selamat beristirahat." sahut Alex menatap wanita itu sejenak lalu kembali memeriksa berkas-berkas di hadapannya itu.


Celine yang kecewa segera meninggalkan ruang kerja suaminya itu, masih banyak waktu membuat pria itu kembali hangat seperti sebelumnya.


"Hallo, aku membutuhkan bantuanmu. Cari tahu siapa wanita yang sedang berusaha menggoda suamiku, aku akan membayar berapa pun yang kamu mau !!" perintahnya ketika menghubungi seseorang melalui sambungan teleponnya.


Kemudian wanita itu nampak tersenyum sinis, ia bersumpah akan melenyapkan siapa pun itu yang mencoba menggoda sang suami.


Sementara itu Alex yang berada di ruang kerjanya nampak menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya.


"Kenapa rasanya sangat berbeda ?" gumamnya saat mengingat bagaimana tadi ia berciuman dengan istrinya, sangat berbeda jika di bandingkan ketika ia berciuman dengan Elsa.


"Ini pasti salah."


Alex mencoba mengingkari perasaannya jika ia lebih menyukai berciuman dengan Elsa, setiap menyentuh wanita itu aliran darahnya selalu berdesir hebat yang tak pernah ia rasakan sebelumnya bahkan dengan istrinya itu sendiri.


"Bagaimana keadaannya? wanita itu benar-benar nekat, sebenarnya apa hubungan dia dengan bajingan itu? apa dia salah satu mantan kekasihnya ?"


Memikirkan hal itu Alex nampak geram, kemudian mengusap wajahnya dengan kasar. Apapun yang berhubungan dengan wanita itu selalu saja membuat emosinya memuncak.


Keesokan harinya.....


Pagi itu Elsa nampak terbangun saat merasakan sesuatu yang terasa berat di atas perutnya, lalu ia mengerjapkan matanya sejenak dan betapa terkejutnya saat melihat sebuah lengan kekar melingkar di pinggangnya.


"Apa ini mimpi ?"


Elsa yang belum sepenuhnya sadar menganggap jika itu semua adalah mimpi, kemudian wanita itu kembali memejamkan matanya lalu merubah posisinya dengan tidur miring.


Udara yang dingin pagi itu membuat wanita itu tanpa sadar merapatkan tubuhnya dan kembali tertidur.


Sementara itu Alex yang berada di sebelahnya nampak menahan senyumnya ketika melihat wanita itu merapatkan tubuhnya seakan sedang menginginkan kehangatan darinya.


Semalam Alex yang memikirkan Elsa langsung meninggalkan pekerjaannya lalu datang ke rumah wanita itu, dengan berbagai cara pria itu meyakinkan penjaga rumah wanita itu sampai ia di izinkan untuk masuk.


Menyadari kamar Elsa yang tak di kunci, Alex langsung saja masuk ke dalam meski sebelumnya ia mengumpat kesal karena bisa-bisanya wanita itu tidur tanpa mengunci pintu kamarnya terlebih dahulu.


Bagaimana jika ada pria asing diam-diam masuk ke dalam kamarnya dan Alex berharap hanya dia satu-satunya pria yang masuk ke dalam kamar wanita itu.


Namun ia juga tidak yakin mengingat Elsa adalah wanita penggoda dan sudah di pastikan wanita itu menggoda banyak pria di luaran sana.


Beberapa saat kemudian Elsa kembali terbangun saat merasakan usapan lembut di punggungnya, membuka matanya dan kembali terkejut ketika melihat dada bidang seseorang lantas wanita itu mendongakkan kepalanya melihat pria mana yang sudah lancang masuk ke dalam kamarnya.


"Ka-kau ?" ucapnya saat melihat Alex yang juga sedang menatapnya.