Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~93


"Hati-hati." Alan langsung mengulurkan minuman saat Merry tersedak lalu wanita itu segera meminumnya.


"Terima kasih." ucap Merry setelah merasa lebih baik.


"Jadi kamu mau menemani saya ke undangan tuan Weslyn kan? di sana pasti banyak pebisnis yang akan datang dan kamu bisa saling bertukar pikiran bersama mereka di sana." bujuk Alan kemudian, meski tujuannya bukan hanya itu.


Karena sebenarnya Alan ingin memamerkan hubungannya dengan wanita itu pada para koleganya.


Merry adalah pengusaha wanita yang sedang hangat di bicarakan dan tentu saja itu akan menjadi kebanggaan tersendiri baginya karena bisa menggaetnya.


Sedangkan Merry nampak enggan melanjutkan makan siangnya, rasanya ia sudah tidak berselera saat Alan menyebutkan pria bernama Weslyn tersebut.


"Maaf Al, aku tidak bisa. Aku sudah janji pada Ariel untuk menemaninya jalan-jalan besok." tolak Merry dengan halus.


Alan mengangguk kecil, wajahnya langsung pias dengan penolakan wanita cantik yang sedang duduk di hadapannya itu.


"Baiklah, aku mengerti." ucapnya kemudian.


Sementara itu di tempat lain James, Vivian dan Emely baru saja tiba di sebuah hotel di Singapore setelah melakukan beberapa jam perjalanan dari Amerika.


Brukkk


"Apa kau tidak punya mata ?" tegur James saat seseorang menabraknya tiba-tiba.


"Maaf tuan saya tidak melihat anda." ucap Anne, lalu wanita itu langsung menelan ludahnya saat segelas kopi yang ia bawa tumpah mengenai kemeja pria di depannya itu.


Tadinya Anne yang baru beranjak dari duduknya dengan membawa sisa kopinya langsung berbalik badan meninggalkan mejanya, namun ia tak melihat jika ada seseorang lewat di belakangnya dan ia langsung saja menabraknya.


"Kau harus ganti rugi, lihatlah kemejaku rusak gara-gara kopimu itu." tegur James setelah menatap noda kopi latte di lengan kemejanya.


"Tentu saja, anda minta ganti rugi berapa ?" Anne kembali meletakkan kopinya di atas meja, lalu merogoh dompet di saku celana kerjanya


"200 dolar." sahut James yang langsung membuat Anne melebarkan matanya.


"Apa kau ingin merampokku ?" ucapnya tak percaya saat pria itu meminta ganti rugi dua juta rupiah lebih padanya.


"Kemeja saya sudah rusak dan kau harus menggantinya dengan yang baru." James menunjukkan lengan kemejanya yang terkena noda kopi pada wanita itu.


"Eh tuan, ini cuma terkena noda kopi nanti di cuci juga bersih sendiri. Sekarang ambillah buat laundry jika ada kelebihan buatmu saja." Anne mengambil tangan pria itu lalu meletakkan 10 dolar Singapore di sana, kemudian segera pergi dari Cafe yang ada di hotelnya menginap tersebut.


"Sial." James langsung m3r3m4s selembar uang di tangannya tersebut, jika di rupiahkan mungkin hanya 100 ribuan saja.


"Paman baik-baik saja ?" tanya Emely saat baru datang bersama Vivian.


"Kemejaku kotor." sahut James.


"Lebih baik Paman ganti baju dulu di kamar, kami akan menunggumu di sini." saran Emely kemudian.


"Akan ku bersihkan di kamar mandi saja." sahut James.


"Kalian pesan makanan saja duluan." imbuhnya lagi, kemudian pria itu berlalu menuju kamar mandi yang ada di sana.


James mengambil tisu toilet lalu membersihkan noda di kemejanya, namun tetap saja tak hilang dan akhirnya ia menggulung kedua lengan kemejanya itu hingga sikunya.


Setelah itu pria itu segera meninggalkan toilet tersebut.


"Nak, jangan lari-lari." teriak seseorang namun.....


Brukkk


Ariel yang sedang di kejar oleh pengasuhnya langsung menabrak James yang baru saja keluar dari toilet.


"Paman talau jayan lihat ke depan butan ke bawah jadi nablak Aliel kan." tegur Ariel setelah mendongakkan kepalanya menatap pria dewasa yang ada di hadapannya itu.


James yang sedang kesal terlihat semakin kesal ketika mendapatkan teguran dari seorang bocah, namun saat melihat wajah bocah kecil itu entah kenapa kemarahannya tiba-tiba menguap begitu saja.


Aura bocah tersebut nampak tak biasa di mata James dan itu membuatnya seketika diam.


"Maaf tuan." pengasuh Ariel langsung meminta maaf.


"Tidak apa-apa, lain kali berhati-hatilah." tegas James seraya menatap segelas kopi yang di bawa oleh wanita di depannya tersebut, kemudian segera berlalu dari sana.


"Akhirnya, lega juga." ucap Anne setelah keluar dari toilet wanita, lalu ia mengambil kopinya yang sebelumnya di titipkan pada pengasuhnya Ariel.


"Ayo sayang kita kembali ke kamar." ajaknya kemudian sembari menggandeng tangan mungil Ariel.


Namun James yang mendengar suara wanita yang tak asing di telinganya langsung berbalik badan.


"Paman setelah ini kita jalan-jalan ya." mohon Emely saat James baru duduk.


"Lebih baik kalian beristirahat dahulu." tegas James menatap Emely dan Vivian bergantian.


"Kita jauh-jauh kesini bukan untuk tidur Paman." mohon Emely.


"Baiklah, hanya sekitaran sini saja. Saya tidak mau kalian tersesat, karena saya juga ada pekerjaan lain." akhirnya James menyerah dan mengizinkan mereka pergi.


"Terima kasih, Paman. Semoga kau mendapatkan jodoh di sini." sahut Emely namun James tak lagi menanggapinya, karena bagi pria itu kebahagiaan sang tuan adalah yang utama.


Beberapa saat kemudian Emely dan Vivian segera meninggalkan James yang nampak sibuk memeriksa pekerjaan di ipadnya.


Lalu mereka melangkahkan kakinya menuju deretan pusat perbelanjaan yang berada tak jauh dari hotel tersebut.


Saat melewati sebuah toko yang menjual pakaian yang di buat dari rajutan benang, Emely langsung menghentikan langkahnya.


Sepertinya gadis itu sangat tertarik dan akan membeli beberapa potong sebagai persiapan musim dingin saat ia kembali pulang nanti.


"Nyonya ini berapa harganya ?" tanyanya pada seorang wanita paruh baya yang sedang sibuk merajut.


"100 dolar." sahutnya.


"Astaga ini terlalu mahal." timpal Vivian yang nampak terkejut saat mengetahui harga sepotong sweater tanpa merk seharga satu juta lebih.


"Tapi ini bagus." Emely nampak tertarik.


"Jangan lihat dari harganya tapi lihatlah siapa pembuatnya." ucap seseorang yang langsung membuat Emely dan Vivian langsung menoleh ke sumber suara.


Seorang wanita mengenakan masker serta kacamata riben nampak berdiri tak jauh dari mereka.


"Buatan seorang ibu itu tidak bisa di hargai dengan nominal uang, karena setiap rajutan yang beliau buat selalu di sertai cinta dan doa bagi pemakainya." imbuh wanita itu yang tak lain adalah Merry.


Toko rajutan tersebut adalah langganan Merry sejak dahulu, pemiliknya adalah seorang wanita paruh baya yang hidup sebatang kara lalu menyumbangkan hasil rajutan tangannya itu untuk para gelandangan atau tuna wisma.


Emely yang menatap Merry terlihat mengerutkan dahinya, entah kenapa ia tiba-tiba merasa tidak asing dengan suara wanita di balik masker tersebut.


"Ambillah, ini untukmu." Merry memberikan sebuah sweater pada Emely lalu ia segera membayarnya.


"Terima kasih sayang, aku melihat kebahagiaanmu akan segera datang." ucap wanita pembuat rajutan itu pada Merry.


"Terima kasih." sahut Merry lalu segera meninggalkan tempat tersebut.


Sementara itu Emely masih saja tercengang, gadis remaja itu nampak menatap kepergian Merry.


"Ayolah kita pergi dari sini." ajak Vivian kemudian.


"Tidak, aku mau beli beberapa potong lagi." tolak Emely.


"Astaga Em, apa kau akan menghabiskan uangmu hanya untuk barang seperti ini ?" tegur Vivian dengan nada merendahkan.


"Kenapa aunty mulai mengaturku? barang ini tak seberapa di banding dengan berapa banyak uang Daddy yang aunty habiskan." protes Emely dengan nada sindiran yang tentu saja membuat Vivian nampak gelagapan.


"Bu-bukan begitu sayang." ucapnya membela diri, mengingat ia sering sekali belanja barang-barang bermerk dari credit card yang di berikan oleh William padahal sebenarnya pria itu memberikan padanya untuk keperluan Emely.


Namun Emely sudah tak menghiraukan wanita itu lagi, gadis itu lebih memilih melihat beberapa sweater lalu segera membayarnya.


"Sweater buatan seorang ibu pasti rasanya lebih hangat." gumamnya kemudian, sungguh gadis remaja itu sangat merindukan seorang ibu.


Baginya Elena dan Vivian hanya seorang wanita yang gila harta dan mereka tak pantas menjadi ibu meski ia tak menampik mereka berdua berlaku baik padanya entah tulus atau karena harta sang ayah.


Sementara itu Merry yang melangkahkan kakinya menuju hotelnya nampak bergumam sendiri. "Sepertinya wajah gadis itu tak asing." ucapnya kemudian.


"Dia mirip sekali dengan Emely, mungkin sekarang dia sudah sebesar itu." imbuhnya lagi.


Sesampainya di lobby hotel, Merry segera melepaskan masker yang sedari tadi melindungi wajahnya dari paparan sinar matahari.


"Selamat sore bu." sapa seorang security.


"Mommy." teriak Ariel tiba-tiba seraya berlari mendatangi sang ibu dan bersamaan itu James yang masih duduk di Cafe tak jauh dari sana langsung mengangkat wajahnya menatap bocah yang menabraknya tadi berlari ke arah seorang wanita.


.


Maaf ya guys saya tidak bisa membuat alur ini sat set seperti ingin kalian, karena cerita ini akan panjang dan setiap tokoh penting akan mendapatkan bagian cerita masing-masing seperti di novel-novel saya sebelumnya.