Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~182


"Terima kasih ya ndrew mau menemaniku, padahal ini akhir pekan harusnya kamu jalan bersama kekasihmu." ucap Anne saat baru memasuki sebuah mall.


"Haisss, saya belum memiliki kekasih bu." Jawab Andrew yang langsung membuat Anne terkekeh.


"Benarkah? makanya hidup jangan terlalu serius." tukasnya bernada ejekan.


Sedangkan Andrew hanya menatapnya datar. "Sepertinya saya menyukai anda bu." lirihnya kemudian.


"Kamu bilang apa Ndrew ?" ulang Anne, musik yang di putar di mall sedikit nyaring hingga membuatnya tak jelas mendengarkan ucapan pria itu.


"Tidak apa-apa bu, saya hanya belum menemukan yang cocok saja. Oh ya ngomong-ngomong apa ibu sudah tahu jika Mall ini milik tuan James ?" ucap Andrew yang langsung membuat Anne menoleh padanya.


"Kau serius ?" Anne nampak tak percaya.


"Sebenarnya masih ada lagi bu, satunya yang dekat dengan kantor kita tapi ini yang paling besar." Andrew nampak mengedarkan pandangannya ke lantai atas.


"Mall yang dekat kantor itu ?" ulang Anne dengan wajah penasaran.


"Iya bu, itu Mall milik tuan James yang baru di buka." timpal Andrew.


Anne terdiam, ia mengingat sebelumnya pernah berbelanja di sana dan membuatnya harus berhutang 300 juta dengan pria itu meski pada akhirnya hutangnya di anggap lunas.


"Ternyata dia sengaja mengerjaiku."


"Memang ibu mau mencari apa di sini ?" tanya Andrew kemudian.


"Temanku beberapa bulan lagi akan melahirkan, jadi aku ingin melihat-lihat pakaian bayi." sahut Anne seraya mengedarkan pandangannya.


"Itu masih sangat lama bu." timpal Andrew.


"Paling tidak aku mempunyai persiapan untuk itu." sahut Anne.


"Baiklah, sepertinya tokonya ada di lantai atas." Andrew langsung mengajak Anne menaiki eskalator.


Sesampainya di lantai atas Anne kembali melewati beberapa toko hingga sampailah pada sebuah toko peralatan bayi dengan brand terkenal, ia tidak mungkin membelikan hadiah untuk anak bossnya itu yang biasa saja.


Tak apalah sedikit menguras uang tabungannya, toh ia bisa bekerja juga karena bantuan wanita itu.


"Itu bukannya tuan James ya bu? astaga apa itu kekasihnya yang di gadang-gadang selama ini, tidak ku sangka mereka telah menikah." ucap Andrew saat melihat James bersama seorang wanita hamil yang langsung membuat Anne menoleh.


Deg!!


Anne nampak tercengang dengan apa yang ia lihat, kenapa rasanya sakit sekali saat melihat pria itu bersama wanita lain.


Ketika Anne sedang menatapnya dengan mata berkaca-kaca, tiba-tiba James berbalik badan dan pria itu juga tak sengaja menatap ke arahnya dan pandangan mereka terkunci sejenak.


"Kau ?" ucap James dengan wajah tegang saat melihat istri keduanya yang berada tak jauh darinya itu.


"Siapa sayang ?' Grace langsung mengikuti arah pandang sang suami dan tak jauh dari sana nampak seorang wanita dan pria.


"Selamat siang tuan James." sapa Andrew kemudian, wajahnya sedikit tercengang saat melihat wakil direkturnya itu bersama seorang wanita dengan perut membuncit. Apa itu wanita berambut blonde yang di gosipkan oleh seantero kantor selama ini? sepertinya akan menjadi berita besar jika mereka tahu.


"Hm." James hanya mengangguk kecil menatap Andrew lalu pandangannya kembali ke arah sang istri yang terlihat tak percaya menatapnya.


"Kalian karyawannya suamiku di kantor? oh ya kenalkan aku Grace istrinya." Grace langsung mengulurkan tangannya sembari menatap Andrew dan Anne bergantian.


"Saya Andrew nyonya, bagian staf marketing." Andrew langsung membalas jabat tangan Grace.


"Oh." Grace nampak memandang rendah Andrew karena jabatannya.


"Kamu sama seperti dia juga ?" imbuhnya saat menatap ke arah Anne.


"Bu." bisik Andrew seraya menyenggol lengan Anne ketika melihat wanita itu diam saja.


"Hm, Anne." Anne langsung mengulurkan tangannya lalu pandangannya melirik ke arah suaminya yang berdiri di samping wanita itu.


"Oh baiklah." Grace segera menarik tangannya kembali, wanita itu terlihat jijik karena harus bersentuhan dengan karyawan biasa.


Sementara Anne dan James masih saling memandang, wanita itu langsung tersenyum sinis ia benar-benar telah di bodohi olehnya.


"Kalau begitu saya permisi." ucapnya, kemudian berlalu meninggalkan toko tersebut.


"Bu, mau kemana? katanya ingin berbelanja." Andrew langsung mengejar Anne saat wanita itu tiba-tiba berlari meninggalkannya.


Anne nampak tak dapat membendung air matanya lagi, saat menyadari pria itu juga telah menikahi wanita lain. Kenapa rasanya sakit sekali, harusnya sejak awal ia sudah siap untuk ini semua namun hatinya ternyata terlalu rapuh untuk itu.


Anne segera menuruni eskalator dengan cepat tak peduli beberapa orang menggerutu karena ia tabrak bahunya.


Namun belum sempat ia keluar dari mall tersebut tiba-tiba tangannya di tarik hingga tubuhnya menabrak dada bidang seseorang.


"Aku akan menjelaskan semuanya." ucap James seraya memeluknya dengan erat seakan tak mengizinkan wanita itu sejengkal saja pergi darinya.


Anne memejamkan matanya, ia berharap ini hanya mimpi dan perasaan kacaunya hanyalah ilusi sementara. Namun nyatanya dadanya rasanya sangat sesak, ia telah kalah dengan pertahanannya sendiri yang selama ini ia bangun dengan tembok tinggi.


Namun pada akhirnya tembok itu telah runtuh dan meninggalkan rasa sakit di hatinya.


"Lepaskan, tak ada lagi yang harus di jelaskan. Mari kita akhiri semuanya." ucapnya pada akhirnya yang langsung membuat James mengurai pelukannya.


"Sampai kapan pun kita tidak akan pernah berakhir." tegasnya kemudian.


Plakk


Sebuah tamparan langsung Anne daratkan di pipi pria itu hingga meninggalkan kemerahan di sana.


"Kau sangat egois tuan James, tolong biarkan aku pergi dan hidup berbahagialah dengan istri dan calon buah hati kalian." tegas Anne dengan mata berkaca-kaca, namun itu justru membuat James nampak mengeraskan rahangnya kemudian mencekal sebelah tangan wanita itu lalu mencium bibirnya dengan paksa.


Anne langsung melebarkan matanya, namun tenaganya yang tidak seberapa tak kuasa melawan pria yang telah menggila itu.


Sementara Andrew nampak terpaku di tempatnya, wajahnya terlihat syok saat melihat pemandangan di hadapannya itu. Ia tak menyangka jika wakil direkturnya dan managernya memiliki hubungan spesial selama ini.


Di sisi Lain Grace yang sedang melihat suaminya berciuman dengan wanita lain dari lantai atas nampak mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memerah. Rupanya wanita kurang ajar itu yang akhir-akhir ini telah membuat suaminya bersikap dingin padanya.


"Brengsek, James adalah milikku. Siapapun takkan ku izinkan memilikinya." umpatnya dengan geram.


Setelah puas memperdaya sang istri, James segera melepaskan panggutannya. Bibir Anne nampak bengkak dan memerah akibat perbuatannya tersebut.


"Drew ambil kunci ini, lalu antar wanita yang bersamaku tadi pulang." ucap James seraya melempar kunci mobilnya ke arah Andrew yang tentu saja langsung di tangkap oleh pria itu.


"Dan jaga mulutmu jika masih ingin bekerja." imbuhnya lagi seraya menatap Andrew dengan tajam.


Setelah itu James langsung menarik tangan Anne, lalu membawanya pergi dari mall tersebut.


"Hallo Mark, perintahkan manager untuk menutup mall sementara waktu. Amankan semua cctv dan rekaman milik pengunjung hari ini." perintahnya saat menghubungi asistennya tersebut.


"Anda membutuhkan mobil tuan ?" tanya sang manager tiba-tiba yang rupanya sedang mengikuti langkah mereka.


"Berikan mobilmu !!" perintah James kemudian.


"Ini mobil kantor tuan dan itu berarti mobil anda juga." sanggah sang manager seraya merogoh saku celananya lalu mengeluarkan kunci mobilnya.


"Terima kasih." James langsung membuka pintu mobilnya kemudian memerintahkan istrinya itu untuk segera masuk.


Sepanjang perjalanan Anne nampak diam membisu dan James yang sedang mengemudi terlihat sesekali melirik ke arah wanita itu.


"Ayo keluarlah, kita harus bicara !!" ucap James setelah tiba di rumahnya.


"Semua sudah jelas dan tak ada yang harus di bicarakan lagi." ucap Anne seraya turun dari mobilnya, kemudian wanita itu segera melangkah masuk.


"Tidak semua yang kamu lihat seperti apa yang kamu pikirkan." ucap James sembari mengikuti langkah istrinya itu.


"Terus maumu aku harus memikirkan apa tuan James yang terhormat ?" Anne langsung berbalik badan lalu menatap tajam suaminya itu, wajahnya nampak memerah karena emosi yang tertahan.


Kali ini ia harus tegas dan membuat pria itu mengakhiri ini semua jika tidak mungkin ia akan melibatkan William, sungguh Anne tak bisa berpura-pura lagi di hadapan pria itu.