Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~123


"Tuan, nona Celine sudah datang." lapor sekretaris William pagi itu.


"Suruh masuk." perintah William, pria itu nampak fokus dengan beberapa berkas di atas mejanya.


William ingin mencari tahu keberadaan mantan istrinya itu melalui Celine, mudah-mudahan wanita itu mau bekerja sama dengannya.


"Selamat pagi tuan William." sapa Celine setelah melangkah masuk, wanita berpenampilan seksi itu nampak berjalan dengan anggun ke arah sang bos besar pemilik perusahaan di mana ia di dapuk menjadi brand ambassadornya.


William langsung mengangkat wajahnya. "Duduklah !!" perintahnya sembari menatap wanita itu sejenak, lalu kembali memeriksa pekerjaannya.


Penampilan Celine yang teramat seksi membuatnya sedikit risih, wanita itu mengenakan rok yang sangat pendek dengan atasan kemeja yang kancingnya sengaja di lepas beberapa biji hingga aset berharganya hampir menyembul keluar.


"Senang bertemu anda kembali tuan, semoga perjalanan bisnis anda lancar." Celine mulai berbasa-basi setelah menghempaskan bobot tubuhnya di atas kursinya.


"Hm, begitulah." sahut William singkat, pria itu nampak membubuhkan tanda tangannya di beberapa berkas yang sedang ia cek.


"Saya turut bersedih dengan berita pembatalan pertunangan anda dengan nona Vivian, semoga itu hanya gosip semata." tukas Celine lagi, wajahnya ia buat sesedih mungkin padahal dalam hatinya ia bersorak senang.


Inilah alasan kenapa ia tetap memperjuangkan pria itu daripada harus memilih bersyukur memiliki suami seperti Alex.


William pria sangat berpengaruh di negara tersebut di banding dengan sang suami, jika ia berhasil menaklukkan pria itu hidupnya pasti akan lebih sempurna daripada saat ini.


"Itu sudah berlalu jangan di bahas lagi." sahut William, pria itu masih sibuk dengan berkas-berkasnya yang menumpuk akibat terlalu lama menetap di Indonesia.


"Semoga anda cepat mendapatkan penggantinya, seorang wanita yang lebih baik dan sangat mencintai anda." timpal Celine lagi yang langsung membuat William mengangkat wajahnya.


Tiba-tiba di tatap oleh William membuat jantung Celine berdetak cepat, lalu wanita itu sengaja membusungkan dadanya agar pria itu menatap aset berharganya.


Lagipula pria mana yang tidak tertarik padanya, terutama asetnya yang besar dan kencang berkat operasi plastik yang ia lakukan sebelumnya.


"Terima kasih, tapi lebih baik doamu itu buatmu sendiri." ucap William lalu mengalihkan pandangannya, pria itu sangat paham jika wanita yang duduk di hadapannya itu sedang berusaha menggodanya.


"Saya belum menemukan pria yang cocok tuan, rasanya jaman sekarang sangat susah mencari pria yang benar-benar menghargai kesetiaan kita." sahut Celine mencoba mendapatkan simpati pria itu.


"Jadi kamu masih single ?" pancing William meski pria itu sangat tahu siapa wanita itu, sepertinya mengikuti permainannya tak ada ruginya.


"Saya tipe wanita yang sangat sulit dekat dengan seorang pria tuan, mungkin yang mendekati saya banyak tapi sampai sekarang saya belum menemukan pria idaman saya. Karena saya ingin menjalin hubungan sekali seumur hidup, menjadi istri yang setia adalah impian terbesar saya selain karir saya sebagai seorang model." sahut Celine.


"Benarkah ?" William kembali menatap wanita di hadapannya itu, mencari kebohongan di matanya lalu ia tersenyum sinis.


"Jujur tipe pria idaman saya itu seperti tuan." ucap Celine seraya menggigit bibir bawahnya, semoga pria itu tidak marah akan pengakuannya yang tiba-tiba.


"Sepertinya kita terlalu jauh berbicara dari topik hari ini." William langsung mengalihkan pembicaraan.


"Maaf tuan jika anda tak nyaman." Celine berucap dengan nada bersalah.


"Lupakan saja, jadi saya memanggilmu kesini sebenarnya untuk menawarkan pekerjaan baru karena sebelumnya publik sangat puas dengan kinerjamu." ucap William kemudian, padahal sebelumnya ia memanggil wanita itu untuk mencari tahu keberadaan mantan istrinya namun ia tiba-tiba mempunyai rencana lain.


"Dengan senang hati tuan, apapun perintah anda pasti akan saya lakukan dengan sebaik mungkin." sahut Celine dengan nada lembut.


"Baiklah untuk lebih jelasnya kamu bisa menemui James di ruangannya." perintah William kemudian.


"Baik tuan." Celine sebenarnya masih ingin berlama-lama bersama bossnya tersebut, namun pria itu tak lagi menghiraukannya lagi seakan urusannya dengannya telah selesai.


Brukkk


"Maaf tuan saya tak sengaja." Celine yang sengaja menyenggol sebuah map di atas meja William hingga jatuh langsung membungkuk untuk mengambilnya.


"Lain kali berhati-hatilah." ucap William tanpa melihatnya.


"Maaf tuan." Celine terlihat kesal harusnya momen ia membungkuk bisa menarik perhatian pria itu karena hampir seluruh gundukan kenyalnya yang besar itu terlihat namun nyatanya pria itu seakan buta dengan kenikmatan yang ia tawarkan.


"Sial." umpat Celine seraya meninggalkan ruangan tersebut.


"Apa tuan William gay, masa sedikit pun tak tertarik padaku." umpatnya kemudian.


Sementara itu di tempat lain Merry nampak mulai bekerja part time sebagai pelayan di hotel.


Sebenarnya ia bisa saja bekerja di kantoran tapi rasa traumanya yang telah menghancurkan perusahaan sang ayah membuatnya enggan mendatangi sebuah perkantoran lagi.


Lagipula bekerja secara part time takkan menyita banyak waktunya, ia hanya mengambil waktu empat sampai lima jam sehari.


Jadi waktu untuk sang putra akan lebih banyak, apalagi bocah kecil itu kini mulai kembali bersekolah.


Tokk


Tokk


"Permisi, saya mengantar sarapan pesanan anda." teriak Merry setelah mengetuk salah satu pintu kamar hotel tempatnya bekerja.


Tak lama sang pemilik kamar pun membuka pintu kamarnya. "Bawa masuk !!" perintahnya kemudian.


Merry nampak menelan ludahnya saat melihat pria bertelanjang dada yang penuh tato itu memerintahkannya untuk masuk.


"Baik, tuan." sahutnya, lalu dengan perasaan was-was ia segera masuk. Semoga saja pria itu tak berbuat buruk padanya.


"Letakkan di sana." pria itu menunjuk ke arah nakas di samping ranjangnya dan betapa terkejutnya Merry saat melihat seorang pria lagi nampak tertidur pulas di atas ranjangnya dengan penampilan yang sama yaitu bertelanjang dada.


"Apa ada lagi tuan ?" tanya Merry dengan menunduk.


"Keluarlah !!" perintah pria tersebut yang langsung membuat Merry merasa lega lalu segera berlalu keluar dari sana.


"Apa stok wanita sudah berkurang ?" gumamnya saat menerka hubungan dua lelaki di dalam kamar tersebut, lalu wanita itu langsung bergidik ngeri saat membayangkan mereka tidur dalam satu ranjang dan melakukan hal yang tidak-tidak.


Saat melewati sebuah lorong, tiba-tiba ia tak sengaja mendengar suara aneh dari salah satu pintu yang sepertinya tak di tutup dengan rapat, sengaja atau lupa pikirnya.


"Sial, apa mereka tidak bisa melakukannya saat jam tidur malam saja." gerutunya seraya melangkah dengan cepat, jarum jam baru menunjukkan pukul 9 pagi tapi telinganya sudah di kotori oleh suara percintaan tamunya.


Sepertinya wanita itu lupa saat menjadi istrinya seorang William juga tak pernah mengenal waktu untuk menuntaskan hasratnya.


"Tuan, saya telah menemukan tempat tinggal tuan Alex di New York." ucap James sore itu.


"Benarkah ?" William yang masih saja sibuk dengan pekerjaannya langsung mengangkat wajahnya menatap asistennya tersebut, dugaannya benar di Amerika ia akan semakin mudah menemukan mantan istrinya itu berada.


"Iya tuan dan saya juga mendapatkan kabar yang sepertinya anda akan suka saat mendengarnya." sahut James yang langsung membuat bossnya itu mengernyitkan dahinya.