Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~96


"Iya, siapa nama lengkapnya ?" tanya James pada wanita yang mengasuh Ariel itu.


"Nama lengkapnya Ariel Ciro Mar..." ucap wanita itu namun terjeda saat Anne tiba-tiba datang mendekat.


"Permisi." ucap Anne seraya menatap tak ramah pada James.


"Sayang, bukankah aunty sudah bilang di larang bicara dengan orang asing karena itu sangat berbahaya." tegur Anne menatap Ariel yang baru saja selesai menghabiskan es krimya.


"Hm." Ariel mengangguk patuh.


"Baiklah mbak, tolong ajak Ariel main di kamar saja ya." ucapnya lagi pada sang pengasuh.


"Baik, mbak Anne." sahut pengasuh tersebut lalu bersiap-siap membawa Ariel pergi.


Setelah itu mereka segera meninggalkan Cafe tersebut dan di ikuti Anne di belakangnya, namun baru beberapa langkah seseorang nampak memanggil.


"Tunggu !!" ucap James hingga membuat Anne langsung berhenti lalu berbalik badan menatap pria tersebut.


"Ada yang bisa di bantu, tuan ?" ucap Anne.


"Saya bukan orang berbahaya seperti yang kamu tuduhkan itu." tegas James.


"Saya tidak pernah menuduh anda, tuan. Jika anda tersinggung saya mohon maaf, karena yang saya tahu orang jahat tidak akan pernah mengakui dirinya jahat." sahut Anne yang masih berdiri di tempatnya.


"Kau..." James terlihat geram.


"Maaf, saya permisi dulu." ucap Anne, kemudian berbalik badan lalu melangkahkan kakinya pergi.


James yang masih merasa geram, langsung saja mengejar wanita itu.


Kemudian menarik lengannya hingga membuat Anne menabrak dada bidangnya, beruntung Cafe tersebut sedang sepi karena jam makan siang sudah usai satu jam yang lalu.


Hanya beberapa pelayan yang nampak sibuk bersih-bersih dan tak begitu memperhatikan mereka.


"Apa kau ada masalah denganku ?" ucap James dengan kesal.


"Tuan, kita bahkan tidak saling mengenal jadi bagaimana bisa mempunyai masalah ?" ucap Anne seraya menatap sinis tangan kekar James di lengannya, hingga membuat pria itu langsung melepaskannya.


Sepertinya Anne sedikit pun tak terancam saat pria di hadapannya itu nampak ingin sekali menerkamnya hidup-hidup.


"Lain kali jaga bicaramu." ucap James menatap tajam Anne, pandangan mereka nampak bertemu sesaat namun James langsung mengalihkan pandangannya kemudian berlalu menjauh.


"Pria sinting." umpat Anne seraya merapikan pakaiannya, lalu mengusap lengannya yang terasa panas akibat cengkeraman kuat pria tersebut.


Setelah itu Anne bergegas pergi dari sana, sesuai perintah bossnya ia harus memastikan putranya itu baik-baik saja dan melewati harinya dengan tidur siang.


Sementara itu Merry kini nampak berada di kantornya Alan. "Al, sepertinya aku belum siap dan ingin mengembalikan proyek itu." ucapnya siang itu.


"Aku tidak setujui Merr, bukankah mengerjakan proyek besar adalah impianmu. Jika kau berhasil menyelesaikannya itu akan membuat perusahaanmu semakin di kenal." Alan menolak dengan halus.


"Tapi sampai detik ini pun aku belum mendapatkan investor." sahut Merry setengah frustasi.


"Kenapa kamu tidak menggunakan dana perusahaanmu dulu sembari menunggu investor datang." saran Alan.


"Itu tidak mungkin Al, bagaimana jika sampai nanti aku juga belum mendapatkan investor bisa-bisa perusahaanku akan defisit dan bangkrut." tolak Merry.


"Aku janji akan membantumu, apa kamu tidak percaya padaku hm? aku sama Alex bersahabat bertahun-tahun jadi tidak mungkin aku membuatmu susah." Alan berusaha meyakinkan.


"Aku akan memikirkannya." sahut Merry seraya beranjak dari duduknya.


"Aku butuh jawaban secepatnya dan ku harap kau menyetujui saranku." Alan ikut beranjak dari duduknya.


"Baiklah, terima kasih." sahut Merry, kemudian segera meninggalkan kantor sahabat kakaknya itu.


Alan yang menatap kepergian Merry, nampak tersenyum penuh maksud. Wanita itu memang mempunyai ambisi yang sangat besar dan ia menyukai itu, namun kadang sebuah ambisi tanpa rencana yang matang pada akhirnya hanya sebuah kegagalan yang di dapat.


"Aku tak sabar menunggu waktu itu tiba." gumamnya, sepertinya pria itu sedang merencanakan sesuatu.


Sepertinya hari ini adalah hari sial bagi wanita itu, tidak hanya tenaga dan pikirannya yang terkuras habis tapi hatinya juga sangat lelah.


Kemudian Merry segera turun untuk mengecek kondisi ban mobilnya tersebut, semoga saja kondisinya tidak parah gumamnya.


Sementara itu James yang sedang dalam perjalanan menuju hotelnya, pandangannya tak sengaja ke arah mobil yang sedang menepi di pinggir jalan.


Nampak seorang wanita sedang berdiri di samping mobilnya itu.


Deg!!


"Nyonya muda." gumam James seraya menatap seorang wanita di seberang jalan.


"Berhenti." perintahnya pada sang sopir, setelah mobilnya menepi James nampak mengawasi wanita yang pernah menjadi istri bossnya tersebut.


Meskipun 4 tahun sudah berlalu namun James masih bisa mengenali mantan istri tuannya itu.


Wanita itu kini terlihat lebih dewasa, namun tubuhnya tak sesintal dulu. Nyonya mudanya itu terlihat lebih kurus saat ini.


"Segera putar balik dan berhenti di depan mobil yang menepi itu." perintah James pada sopirnya itu seraya menunjuk mobil yang ada di jalur seberangnya.


Sopirnya tersebut segera mengemudikan mobilnya kembali lalu memutar balik ke jalur sebelahnya.


"Lebih cepat lagi." James terlihat tidak sabar, ia tidak ingin sampai kehilangan jejak wanita itu.


Meski Merry sudah tak mempunyai hubungan lagi dengan sang tuan, namun James sangat penasaran dengan kehidupan wanita itu saat ini.


Apalagi saat melihat tubuhnya yang sangat kurus membuatnya berpikiran macam-macam.


Biarlah ia melanggar sumpahnya pada sang tuan agar tidak mencari tahu apapun tentang wanita itu, karena tuannya itu sudah benar-benar ikhlas melepaskannya.


"Ah, sial." umpat James saat mobil yang di kendarai oleh Merry telah menghilang dari sana.


"Sepertinya kau perlu meningkatkan kemampuan menyetirmu." imbuhnya menegur sang sopir.


Kemudian James kembali masuk ke dalam mobilnya dengan mendengus kesal.


Dan tak berapa lama, ponselnya berdering nyaring. "Ya, tuan." sahutnya saat baru menjawab panggilan dari William.


"Kau baik-baik saja, James ?" tanya William saat mendengar suara asistennya yang terdengar kesal.


"Saya baik-baik saja tuan." sahut James.


"Kamu sedang di mana sekarang ?" tanya William dari ujung telepon.


"Masih dalam perjalanan tuan, oh ya tuan ada hal penting yang mau saya bicarakan tadi saya tak sengaja melihat nyo...." ucapan James terjeda saat William memotong.


"Cari penerbangan secepatnya, James. Klan sedang tidak baik-baik saja." perintah William yang langsung membuat James nampak terkejut.


"Baik, tuan. Tolong jangan lakukan apapun sebelum saya datang, saya tidak ingin anda dalam bahaya." mohon James.


Akhirnya sore itu James dan juga Emely segera melakukan penerbangan menuju Amerika saat mendapatkan kabar jika Klan yang mereka bentuk selama ini mendapatkan serangan tiba-tiba.


...----------------...


Tiga bulan pun berlalu dan semenjak kepergiannya waktu itu James pun belum juga kembali ke Singapura, sepertinya pria itu telah melupakan jika pernah melihat nyonya mudanya di negara tersebut.


Sementara itu Merry yang mengikuti saran Alan untuk melanjutkan proyeknya tersebut, nampak kurang beruntung karena tak ada satu pun investor yang mau bekerja sama dengannya.


Hingga membuat perusahaannya kini di ambang kebangkrutan.


"Apa yang harus ku lakukan ?" gumamnya seraya berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya, wanita itu hampir tak mampu menggaji karyawannya karena semua dana yang ia miliki telah di alokasikan ke proyeknya tersebut.


"Alan? Alan pasti bisa membantuku." imbuhnya kemudian.


Jarum jam menunjukkan pukul 9 malam dan wanita itu kini nekat meninggalkan rumahnya untuk menemui rekan kerjanya tersebut.