
"Katakan James berita baik apa yang kau dapatkan !!" William terlihat tak sabar.
"Sebelumnya saya meminta maaf yang sebesar-besarnya tuan dan saya siap menerima hukuman apapun itu." sahut James kemudian.
"Maksud kamu ?" William nampak mengernyit tak mengerti.
"Sebenarnya surat cerai yang dulu pernah anda perintahkan untuk menyerahkannya pada tuan Martin tidak pernah saya sampaikan ke beliau, tolong maafkan saya." terang James dengan raut wajah tegang.
"Lalu ?" William masih belum mengerti dengan maksud perkataan asistennya itu.
"Saya kira waktu itu anda terpaksa melakukannya karena mendapatkan tekanan dari tuan Martin, untuk itu saya sengaja tak mengirimkan surat itu dan saya rasa tuan Martin juga pasti mampu mengurus perceraian anda dan nyonya Merry tapi...." James menjeda ucapannya sejenak hingga membuat William nampak semakin tak sabar.
"Tapi apa ?" tanyanya dengan memicing.
"Rupanya tuan Martin selama ini tak pernah mengurus perceraian itu tuan dan itu berarti.." James belum menyelesaikan perkataannya tapi lagi-lagi William sudah menyelanya.
"Itu berarti aku dan Merry belum pernah bercerai ?" potong William yang langsung di angguki oleh asistennya tersebut.
"Benar tuan dan ini akta nikah asli anda bersama nyonya Merry." James langsung memberikan sebuah dokumen pada bosnya itu.
William segera memeriksa dokumen tersebut yang sebelumnya sempat ia serahkan ke pengadilan untuk mengurus perceraiannya.
"Ku rasa kau harus mendapatkan imbalan yang setimpal James." William nampak sangat senang, akhirnya statusnya dengan istrinya itu jelas.
Harusnya ia mencari tahu dari dulu dan tak mempercayai sandiwara Martin begitu saja.
"Apa anda akan langsung memberikan kabar baik ini pada nyonya, tuan ?" tanya James kemudian.
"Tentu saja, tapi tidak sekarang. Aku akan memberikan kejutan padanya nanti." sahut William dengan wajah sumringah dan itu membuat James ikut senang, akhirnya ia bisa melihat bosnya itu kembali bahagia.
Sementara itu di tempat lain Merry yang sedang berada di dapur hotel nampak sibuk menyiapkan makan siang untuk William.
"Enak ya bisa berkencan dengan bos, apa dia sangat perkasa ?" sindir salah satu karyawan wanita saat melewati Merry.
"Maksud kamu ?" Merry yang tak mengerti dengan ucapan teman kerjanya itu langsung menatapnya.
"Jangan munafik deh, kamu tak hanya menjadi pelayan pribadi tuan William saja kan? ku rasa kamu juga telah merayunya dan melempar tubuhmu di ranjangnya. Lagipula sangat tidak masuk akal kamu yang karyawan baru di sini dan belum memiliki pengalaman sama sekali bisa-bisanya di tunjuk menjadi pelayan pribadi beliau." cibir wanita itu dengan nada hinaan.
"Aku tidak melakukan apapun terhadap tuan William dan kenapa beliau memilihku aku juga tidak tahu, namun jika kamu ingin menggantikan posisiku untuk melayani beliau pasti dengan senang hati ku berikan tugasku padamu." tegas Merry.
"Benarkah kau akan memberikan tugas itu padaku ?" wanita bernama Claire itu langsung berbinar-binar menatap Merry, wanita itu seakan baru saja mendapatkan sebuah harta karun.
"Hm, tentu saja." Merry mengangguk yakin.
"Baiklah kalau begitu kamu buatlah alasan apapun itu pada pak manager." perintah Claire kemudian lalu wanita itu berlalu pergi untuk merapikan penampilannya.
Claire terlihat sangat senang, lagipula dirinya juga tak kalah cantik dari wanita itu dan ia juga sudah di pastikan sangat jago di atas ranjang mengingat dulu sebelum putus dengan kekasihnya mereka sering melakukan hubungan terlarang.
"Apa tidak ada yang kurang? aku tidak mau tahu jika tuan William protes karena tidak sesuai menunya." ucap Claire beberapa saat kemudian.
Sepertinya wanita itu baru saja merapikan penampilannya, make upnya terlihat sedikit tebal dan juga aroma parfum yang menggoda serta kemejanya yang pres body itu nampak menonjolkan asetnya yang sedikit menyembul karena kancing atasnya yang sengaja di buka sebagian.
"Semuanya sudah lengkap, semoga berhasil." sahut Merry seraya menyerahkan troli makanan yang baru saja ia tata itu.
"Tenang saja selama ini aku tidak pernah gagal dengan pekerjaanku." Claire nampak sangat percaya diri, kemudian wanita itu segera berlalu pergi.
Merry yang melihat kepergian rekan kerjanya itu hanya bisa menghela napasnya, dari dahulu hingga sekarang pesona mantan suaminya itu memang tak pernah redup.
Dan itu membuatnya sedikit cemburu namun ia segera menepis jauh-jauh perasaannya itu yang menurutnya hanya sia-sia saja.
Sementara itu dengan percaya dirinya, Claire nampak mengetuk pintu kamar William. Setelah mendapatkan sahutan dari dalam, wanita itu segera mendorong pintu yang memang sengaja tak tertutup rapat itu.
"Selamat siang tuan, saya membawakan makan siang untuk anda." ucap Claire dengan suara yang menggoda.
William yang sedang sibuk dengan pekerjaannya langsung mengangkat wajahnya saat mendengar suara wanita asing di dalam kamarnya.
"Saya Claire, tuan. Mulai hari ini saya yang akan melayani anda." sahut Claire dengan percaya diri.
"Di mana Merry ?" tanya William kemudian, pandangannya masih tajam ke arah pelayan tersebut.
"Mulai hari ini Merry tidak bisa melayani anda lagi tuan dan saya yang menggantikannya." sahut Claire.
"Siapa yang menyuruhmu menggantikan tugasnya ?" William berkata dengan sedikit keras hingga membuat Claire langsung memucat.
"Merry sendiri tuan, katanya dia tak sanggup melayani anda. Merry memang seperti itu tuan anaknya sangat pemalas dan kerjanya juga tak pernah benar." sahut Claire dengan sedikit membumbui perkataannya agar pria itu percaya padanya.
"Pergi dari sini dan bawa keluar semua makanan itu !!" perintah William kemudian.
"Tapi tuan, percayalah saya menghidangkannya dengan sepenuh hati buat anda dan saya juga bisa melakukan apapun yang anda mau asalkan anda merasa senang selama tinggal di sini." Claire mencoba membujuk William bahkan wanita itu nampak sedikit membusungkan dadanya yang besar itu untuk menggoda pria itu.
"Pergi dari sini !!" perintah William tak peduli.
"Tapi tuan...."
"Saya bilang pergi dari sini !!" akhirnya William berteriak dengan keras hingga membuat Claire langsung berjingkat kaget.
James yang kebetulan lewat di depan kamar William langsung saja masuk. "Ada apa, tuan ?" tanyanya kemudian.
"Segera bawa wanita itu pergi dari hadapanku James dan bawalah istriku kemari !!" perintah William saat melihat asistennya tersebut.
"Baik, tuan." sahut James lalu segera membawa wanita itu dari sana.
"Istri, siapa istri tuan William? bukankah dia baru putus dengan nona Vivian ?" gumam Claire seraya mendorong troli makanannya.
Sesampainya di dapur hotel, James langsung memanggil Merry. "Nyonya, anda di panggil tuan ke kamarnya." ucapnya kemudian yang membuat Claire semakin tak percaya hingga ia mengedipkan matanya berkali-kali.
"Nyo-nyonya ?" gumamnya kemudian.
Merry nampak menghela napasnya kesal, ia pikir pekerjaannya melayani William telah berakhir nyatanya ia kini harus berhadapan dengan pria itu lagi.
Setelah Merry pergi dari sana, Claire memberanikan diri untuk bertanya pada James. "Tuan, jadi istri tuan William adalah...." ucapnya namun pria itu langsung menyelanya.
"Lebih baik bungkam mulutmu dan bekerjalah seperti biasa jika tidak ingin aku mengusirmu dari sini." sela James menatap tajam wanita itu, kemudian pria itu bergegas pergi dari sana.
Claire yang masih berkeringat dingin karena ketakutan segera mencari kesibukan, karena ia pun tak ingin di pecat sesuai kata pria itu.
"Ada apa lagi, bukankah makan siangmu sudah di bawakan tadi ?" tanya Merry setelah masuk ke dalam kamar mantan suaminya itu, meski ia yakin pria itu sama sekali belum menyentuh makanannya tersebut.
William yang sedang menatap pemandangan kota dari jendela kamarnya langsung berbalik badan saat mendengar suara wanita itu.
"Siapa yang menyuruh wanita itu datang kesini ?" ucap William dengan nada datar menatap istrinya tersebut, ya sekarang pria itu sudah sangat percaya diri menyebut wanita itu adalah istrinya.
"Memang kenapa? bukankah sama saja aku atau dia yang melayanimu." sahut Merry acuh tak acuh, wanita itu nampak melipat kedua tangannya di depan dadanya seolah tak ada rasa takut saat menghadapi pria itu.
"Kau telah melanggar surat kontrak kerjamu nyonya Smith dan kau tahu apa resikonya ?" ucap William seraya berjalan mendekati wanita itu.
"Jangan panggil aku seperti itu, aku bukan istrimu lagi." sungut Merry tak terima.
"Kamu memang benar-benar keras kepala." lirih William setelah mengikis jarak di antara mereka yang membuat Merry nampak menelan ludahnya, lalu segera memalingkan wajahnya.
"Ayo ikut dan pikirkan hukuman apa yang cocok untukmu." William langsung menarik tangan wanita itu lalu membawanya keluar dari kamar sekaligus sebagai tempat kerjanya itu.
"Kau mau bawa aku kemana ?" Merry berusaha melepaskan cekalan pria itu di pergelangan tangannya tapi tak berhasil.
"Diamlah honey dan pikirkan saja hukuman yang pantas kau terima nanti." sahut William, tak peduli seluruh karyawan maupun tamu hotel memperhatikannya.
Pria itu terus saja menggandeng tangan istrinya itu hingga mereka masuk ke dalam mobilnya.