Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~204


"Da-dari mana kamu tahu aku sedang hamil ?" Anne nampak heran pada suaminya yang tiba-tiba bertanya tentang kehamilannya padahal sebelumnya ia tak pernah memberitahukan apapun padanya.


"Apa yang tidak ku tahu tentangmu? semua aku tahu." tegas James.


"Tapi ini anakku sendiri." Anne langsung memegang perutnya dengan posesif.


"Sendiri? hey nona keras kepala apa kamu lupa siapa yang telah menanam bibit berkualitasnya di dalam sana? kecuali kau pernah tidur dengan pria lain." tukas James yang sontak membuat istrinya itu melotot padanya.


"Aku tidak pernah tidur dengan pria lain, kamu pikir aku wanita apaan." selanya dengan sinis.


"Jadi ?" James nampak menahan senyumnya menatap istrinya yang salah tingkah itu.


"I-iya ini bayi kita, tapi asal kamu tahu dia tidak akan kemana-mana dan selamanya akan bersamaku." tegas Anne, lagipula pria itu sudah memiliki anak yang lain jadi ia takkan mengizinkan membawa anaknya juga.


"Tidak hanya bersamamu, tapi juga kita bersama dan di rumah yang sama." timpal James yang langsung membuat Anne menatapnya, apa itu artinya pria itu lebih memilihnya?


"Kenapa dia pucat sekali, apa dia sedang sakit ?" gumamnya saat melihat wajah pucat suaminya itu.


"Atau mungkin dia kurang tidur karena harus menjaga bayinya semalaman." imbuhnya lagi karena setahunya bayi yang baru lahir selalu begadang tiap malam, memikirkan hal itu sudut hati Anne mendadak nyeri.


Membayangkan bagaimana suaminya dengan wanita itu kompak mengurus bayi mereka, lalu tanpa sadar Anne mengusap perutnya seakan memberikan kekuatan pada bayinya.


"Aku tidak mengerti maksudmu." Anne memalingkan wajahnya, jantungnya selalu berdetak tak karuan setiap kali bertatap mata dengan pria itu.


James mengulurkan tangannya lalu menggenggam tangan wanita itu. "Sayang dengarkan aku, kita suami istri dan tentu saja akan tinggal bersama. Mengerti ?" ucapnya dengan tegas.


"Tapi bagaimana dengan dia ?" tiba-tiba Anne merasa sangat egois saat meminta penjelasan perihal hubungan pria itu dengan istri pertamanya yang juga telah memberikannya seorang anak.


"Kami sudah berpisah sesaat setelah dia melahirkan." terang James, tetiba raut wajahnya berubah kecewa saat mengingat putranya yang telah tiada.


Anne melihat banyak kesedihan di wajah pria itu, apa suaminya terpaksa meninggalkan istri pertamanya tersebut?


"Aku tahu kamu pasti sangat kecewa, aku tidak apa-apa jika kamu memang lebih memilih mereka. Aku tidak akan menuntut apapun padamu, lagipula dia cinta pertamamu dan memang lebih baik jika kalian bersama. Kamu tenang saja aku akan baik-baik saja, kamu jangan memikirkan perasaanku." timpal Anne kemudian, meski ada rasa sesak saat mengutarakannya.


"Sudah bicaranya, hm ?" James nampak gemas menatap istrinya itu yang tak membiarkan dirinya memberikan penjelasan, lalu ia memberikan sentilan kecil di dahinya.


"Sakit." Anne langsung mengusap dahinya yang terasa panas akibat sentilan pria itu.


"Sekarang dengarkan aku, karena aku takkan mengulangi untuk kedua kalinya." Tegas James kemudian.


"Aku dan Grace telah berpisah, oke? karena aku tidak pernah mentolerin sebuah penghianatan dan kita sampai kapan pun akan tinggal bersama." tegas James yang di simak oleh istrinya itu dengan seksama.


"Lalu bagaimana dengan bayi itu? kamu tidak menelantarkannya kan ?" Anne nampak penasaran bagaimana nasib bayi tak berdosa itu jika kedua orang tuanya berpisah.


Jika di berikan kepercayaan ia juga pasti rela mengasuhnya, ia akan menganggapnya seperti anak kandungnya sendiri. Ia tak akan berlaku seperti ibu tirinya yang telah menyia-nyiakannya.


Mendengar perkataan sang istri, James nampak menghela napasnya. Meski ia sudah mengikhlaskan kepergian sang putra tetap saja ia masih merasa sangat kehilangan.


"Dia telah tiada." sahutnya dengan lirih yang langsung membuat Anne menatapnya tak percaya.


"Ti-tiada ?" ucapnya meminta penjelasan.


James mengangguk pelan, lalu pandangannya nampak kosong ke depan.


"Maafkan aku." Anne langsung memeluk suaminya itu, pria itu pasti telah melewati hari yang berat akhir-akhir ini.


"Terima kasih." ucap James kemudian.


"Untuk ?" tanya Anne yang masih memeluknya dengan sangat erat seakan menunjukkan jika ia ada dan peduli padanya.


"Kamu selalu saja mencari kesempatan." Anne langsung memukul lengan kekar pria itu dan itu membuat James semakin terkekeh.


Tak berapa lama pintu ruangan dokter nampak di buka dari dalam dan Anne beserta James segera beranjak dari duduknya.


"Dengan keluarga tuan Wijaya ?" ucap dokter tersebut.


"Saya putrinya, dok." Anne segera mendekati sang dokter yang terlihat tak baik-baik saja.


"Sebelumnya kami memohon maaf yang sebesar-besarnya nyonya, kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan tuan Wijaya tapi sepertinya Tuhan berkehendak lain." terang dokter tersebut dengan wajah kecewanya.


Anne nampak memejamkan matanya sejenak, ia memang sudah siap jika terjadi sesuatu pada ayahnya tersebut mengingat pria itu sudah sakit sejak lama dan mendapatkan serangan jantung pun sudah beberapa kali sejak perusahaannya bangkrut.


"Boleh saya melihatnya, dok." ucapnya kemudian.


"Tentu saja, silakan" dokter langsung mempersilakan Anne untuk masuk.


Anne segera masuk bersama James untuk melihat jasad sang ayah, tak banyak kenangan indah bersama pria itu dalam hidupnya tapi ia sudah mengikhlaskannya dan menghapus semua dendam dan amarah pada pria itu.


Kini ayahnya tidak akan sakit lagi baik sakit fisiknya maupun sakit batinnya akibat ulah sang ibu tirinya yang begitu semena-mena padahal ayahnya itu sangat mencintainya.


Keesokan hari....


"Ka-kalian mau kemana ?" Nyonya Kartika nampak melebarkan matanya saat melihat Anne membawa beberapa koper pakaiannya.


"Kembali ke Amerika." sahut Anne.


"Benarkah? baguslah jadi aku lebih leluasa tinggal di sini." timpal wanita paruh baya itu tanpa rasa malu sama sekali.


"Terserah saja tapi rumah ini sudah ku jual." sahut Anne yang langsung membuat ibu tirinya itu melotot menatapnya.


"Di ju-jual bagaimana ?" protesnya kemudian.


"Ini rumahku jadi aku berhak menjualnya, perkara kamu mau tinggal di mana aku tak peduli." sahut Anne, sebenarnya ia masih ingin memberikan wanita itu pelajaran mengingat perbuatan kejinya dahulu namun biar saja Tuhan yang akan membalasnya.


"Tidak bisa seperti itu dong, bagaimana pun juga aku istri ayahmu selama belasan tahun, paling tidak aku mendapatkan harta gono gini." tegas nyonya Kartika tak terima.


"Pernikahan kalian tak pernah terdaftar jadi kamu tak mendapatkan hak apapun dan Tasya juga bukan anak kandung papa." terang Anne.


"Pernikahan kami sah asal kamu tahu." Nyonya Kartika langsung mengambil akta nikahnya lalu menunjukkannya pada anak tirinya tersebut.


"Kau pikir itu asli ?" Anne langsung tersenyum mengejek.


Dari semua perbuatan keji sang ayah pada ibunya, Anne bersyukur pria itu tak melakukan kebodohan dengan menikahi wanita itu secara sah.


"Ini pasti asli." Nyonya Kartika nampak memeriksa akte nikahnya dengan teliti, ia mengingat suaminya itu menikahinya secara sah setelah menceraikan istri pertamanya.


Lalu jika akte pernikahan mereka palsu, apa berarti pria itu telah menipunya dahulu? jadi sebenarnya pria itu tak pernah bercerai dari istri pertamanya?


"Silaunya harta memang terkadang membuat seseorang menjadi bodoh." cibir Anne yang langsung membuat nyonya Kartika geram.


"Anak kurang ajar, aku pasti akan melenyapkanmu." Nyonya Kartika langsung menyerang Anne secara membabi buta.


.


Tolong jangan tagih double up dulu ya, saya masih ingin fokus namatin Ameera dulu.