
Beberapa saat kemudian Camela nampak masuk ke dalam ruang William dengan setumpuk berkas di tangannya.
"Tuan, saya membawakan berkas-berkas yang anda minta." ucapnya kemudian.
"Letakkan di atas meja saya !!" perintah William menatap sekretarisnya itu sejenak, kemudian kembali menatap istrinya yang sedang makan.
"Baik, tuan. Apa ada lagi ?" tanya Camela setelah itu.
"Tidak ada, keluarlah !!" perintah William dengan menggunakan kode tangannya, sedangkan pandangannya tetap fokus pada sang istri.
Camela nampak mengangguk kecil meski bosnya itu tak melihatnya, kemudian segera meninggalkan ruangan tersebut.
Beberapa saat kemudian setelah selesai menghabiskan makanannya, Merry nampak melotot tak percaya dengan perintah suaminya itu.
"Ka-kamu serius ?" tanyanya memastikan.
"Tentu saja, kamu bilang selama ini sudah belajar dengan keraskan? kalau begitu buktikan, kerjakan semua laporan itu !!" ulang William dengan tegas.
Merry nampak berpikir sejenak, sungguh wanita itu tidak paham mengenai bisnis dan sejenisnya.
Bahkan apa yang ia pelajari di kampusnya mungkin hanya sedikit yang terserap oleh otaknya.
"Jadi kamu tidak bisa dan menolaknya ?" imbuh William dengan cibirannya saat istrinya tak menjawab.
"A-aku bisa kok, bahkan aku lebih baik dari pada sekretarismu yang sok centil itu." Merry bergegas bangkit dari duduknya lalu menarik kursi di depan meja kerja suaminya itu.
"Ini mah gampang." ucapnya lagi seraya membuka berkas-berkas tersebut.
William nampak mengulas senyum tipisnya kemudian beranjak menyusulnya lalu duduk di kursi kerjanya berhadapan dengan wanita itu.
"Apa dia menjalankan bisnis haram, bagaimana bisa keuntungan perusahaannya begitu besar ?" gumam Merry saat memeriksa berkas di tangannya itu.
"Apa dia jualan obat terlarang atau bisnis prostitusi ?" imbuhnya lagi dalam hati.
Merry nampak sangat serius memeriksa berkas-berkas tersebut namun sama sekali tak ada petunjuk untuk hal itu.
"Apa kau mulai menyerah ?" William nampak mengawasi Merry yang terlihat mengerutkan dahinya menatap banyak berkas di hadapannya itu.
"Ck, akan ku tunjukkan jika aku lebih baik dari pada sekretarismu itu." sahut Merry.
Padahal wanita itu juga sedikit kurang paham karena baru kali ini di hadapkan dengan pekerjaan kantor.
"Bekerjalah dengan profesional seperti Camela tanpa banyak bertanya dan menerka-nerka." ucap William yang langsung membuat Merry menelan ludahnya.
"Apa dia bisa membaca pikiranku ?" gumamnya kemudian.
"Sekretarismu memang profesional tapi lihatlah penampilannya jauh dari kata profesional." cibir Merry kemudian, sepertinya ia tak terima jika di bandingkan dengan wanita lain.
"Menurutku biasa saja." William menanggapi dengan santai.
"Biasa saja bagaimana? itu dadanya saja hampir tumpah begitu, tapi bagimu itu mungkin biasa saja karena kamu juga menikmatinya." sinis Merry menatap suaminya itu.
"Jadi apakah kau sedang cemburu nyonya Merry Smith ?" William bukannya terpancing dengan perkataan sang istri, pria itu justru balik menggoda.
"Ti-tidak, siapa yang cemburu. Hanya kasihan saja sama kamu, jadi pria kok murahan banget segala wanita kau embat." cibir Merry yang langsung membuat William mengeraskan rahangnya.
Pria itu seakan tak terima dengan perkataan wanita itu, baginya yang bisa di cap murahan hanya seorang wanita.
Karena demi harta mereka rela menjual tubuhnya, sedangkan bagi pria kaya seperti dirinya sah-sah saja melakukan hal itu lagipula selama ini ia pun tak pernah bermain api di kantornya sendiri.
William seorang pria profesional, pria itu tidak akan menghancurkan perusahaannya sendiri hanya demi kesenangan sesaat.
Dan larangan dia untuk semua karyawan berhubungan dengan sesama rekan kerja adalah mutlak peraturan yang dirinya pun selalu patuhi.
"Aku kaya dan mempunyai segalanya jadi sah-sah saja melakukan itu." tegas William yang berusaha tak terpancing dengan ucapan istrinya itu.
Merry nampak terdiam dan enggan membalas perkataan suaminya. "Semua pria memang sama saja." gumamnya dalam hati.
"Jangan harap." sahut Merry dengan kesal.
Sepertinya William dan Merry sangat menjunjung tinggi harga dirinya, andai saja salah satu dari mereka ada yang mengalah mungkin hubungan mereka selanjutnya akan lebih mudah.
Karena cinta itu saling berbagi bukan siapa yang paling mengerti.
Dan cinta itu saling menerima bukan siapa yang paling bertahta.
William nampak menggeram kesal kemudian pria itu segera beranjak dari duduknya lalu berlalu keluar ruangannya dengan membanting pintunya sedikit kasar.
William yang sedari kecil selalu mendapatkan banyak penolakan bahkan dari keluarganya sendiri membuat pria itu benar-benar tumbuh dewasa dengan menjunjung tinggi harga dirinya.
Pantang baginya untuk merendah hanya karena sebuah perasaan.
"Tuan." James segera bangkit dari duduknya saat William mendatangi ruangannya.
"Katakan di mana dan bagaimana keadaan pria itu sekarang ?" ucap William kemudian.
"Tuan Alex membawa tuan Martin ke benua Asia dan beliau beserta nyonya Sera sedang mengalami koma setelah peristiwa waktu itu." terang James.
"Awasi terus James, terutama Alex !!" perintah William, pria itu nampak mengepalkan tangannya saat mengingat pria bernama Alex itu.
Alex adalah anak angkat tertua di keluarga Martin dan pria itu adalah lelaki yang akan di jodohkan oleh Martin dengan satu-satunya putri kandungnya itu.
"Baik tuan." angguk James dengan patuh.
"Apa saya boleh memberikan saran, tuan ?" imbuhnya lagi menatap punggung tuannya tersebut.
"Katakan !!" William yang sedang menatap jendela di depannya itu langsung berbalik badan menatap sang asisten.
"Mungkin membuat nyonya Merry segera mengandung putra anda secepatnya akan mengubah keadaan, tuan. Karena cepat atau lambat tuan Martin pasti akan segera siuman dari tidur panjangnya." ucap James memberikan saran.
"Itu yang ku pikirkan James, hanya saja sampai sekarang istriku belum kunjung mengandung juga." timpal William sedikit frustasi.
"Tidak semua wanita akan cepat mengandung, tuan. Namun, memeriksa keadaan beliau ke dokter mungkin bisa anda pertimbangkan." saran James lagi.
William nampak mengangguk setuju, mungkin ia akan segera membawa istrinya itu ke dokter nanti.
Beberapa saat kemudian William kembali masuk ke dalam ruangannya, namun pria itu langsung menggeleng kecil saat melihat istrinya tertidur dengan kepalanya di letakkan di atas meja kerjanya.
Ehm
William berdehem pelan hingga membuat Merry langsung terbangun lalu mengusap wajahnya yang masih mengantuk.
"Ka-kamu sudah kembali, aku hampir selesai tenang saja." ucap Merry, namun saat melihat berkas-berkas yang ia kerjakan tadi sudah tidak ada di hadapannya wanita itu langsung terperanjat.
"Di-dimana kok tidak ada ?" Merry nampak celingukan mencari kertas-kertas di tangannya sebelum ia ketiduran.
"Jadi, apa ini ilmu yang kau dapatkan selama berkuliah ?" cibir William seraya memperhatikan berkas di tangannya itu.
"Tentu saja, hebatkan aku." Merry nampak memuji dirinya sendiri.
"Sepertinya kau berniat membuat perusahaanku hancur." William langsung melemparkan berkas-berkas tersebut ke dalam tempat sampah.
"Ke-kenapa di buang ?" Merry nampak melotot tak percaya, hampir dua jam wanita itu mengerjakannya dan sekarang pria itu dengan seenaknya membuangnya begitu saja.
"Katakan siapa dosen yang membimbingmu? besok aku akan segera menemuinya." tegas William yang sontak membuat Merry menelan ludahnya.
Wanita itu tiba-tiba merasa frustasi, sebagai seorang dosen Artha adalah pria yang sangat tampan dan matang.
Dan itu pasti akan menjadi masalah bagi suaminya, bisa-bisa ia tidak akan di izinkan untuk pergi kuliah lagi jika mengetahui dosennya adalah pria itu.
Dosen termuda di kampusnya dan tentu saja menjadi idola baru di sana.