Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~221


"Hai, masih ingat padaku ?" ucap Marco saat melihat Anne baru keluar dari toilet dengan seramah mungkin, bukankah memang begitu harusnya menghadapi seorang wanita? apalagi itu wanita spesial yang akhir-akhir ini telah mengacaukan pikirannya.


Anne yang tadinya terkejut langsung mencoba bersikap biasa saja. "Maaf siapa ya ?" ucapnya berpura-pura tak mengenali.


"Kita pernah bertemu di sebuah pesta beberapa waktu lalu, waktu itu kau tak sengaja menabrakku." terang Marco mengingatkan.


"Oh ya saya ingat, tolong maafkan saya atas kejadian waktu itu tuan. Apa anda baik-baik saja? apa ada yang terluka ?" timpal Anne berpura-pura peduli, padahal jauh dalam lubuk hatinya ia sedikit khawatir menghadapi pria asing yang berniat ingin melenyapkan suaminya itu.


"Hatiku yang sedang tidak baik-baik saja." ucap Marco lirih namun masih bisa Anne dengar hingga membuat wanita itu mengernyit tak mengerti.


"Maksudnya akhir-akhir ini keadaanku kurang membaik." ralat Marco kemudian.


"Benarkah? ku harap anda selalu sehat-sehat saja tuan." timpal Anne dengan wajah yang ia buat khawatir.


"Terima kasih sudah mengkhawatirkan ku, ngomong-ngomong kita belum berkenalan sebelumnya. Aku Marco Anderson, panggil saja Marco." Marco nampak mengulurkan tangannya, wanita itu pasti akan terkejut mendengar namanya.


Ia adalah pengusaha terkenal di negerinya, tapi sepertinya tak sesuai pikirannya karena wanita di hadapannya kini justru bersikap biasa saja.


Anne sedikit ragu untuk membalas jabat tangan pria itu, namun saat melihat senyum tulusnya wanita itu langsung mengulurkan tangannya juga.


"Anne, Anne Wijaya." sahutnya kemudian.


"Nama yang cantik, secantik orangnya." puji Marco masih dengan menjabat tangan wanita itu.


"Terima kasih." Anne langsung menarik tangannya kembali.


"Sepertinya aku harus segera kembali, bosku sangat galak aku tak ingin mendapatkan masalah." imbuhnya lagi, lalu segera berlalu meninggalkan Marco yang masih berdiri mematung di tempatnya.


"Benar-benar wanita menarik." gumam Marco saat menatap Anne berjalan tergesa-gesa meninggalkannya seorang diri.


Sial, baru kali ini ia di tinggalkan seorang wanita begitu saja. Padahal biasanya para wanita akan mengejarnya apalagi setelah mengetahui identitasnya.


"Apa aku sudah tak menarik lagi ?" gumamnya seraya menatap pantulan dirinya di hadapan cermin yang berada tak jauh darinya itu.


"Maaf sedikit lama tadi toilet sedang antri." ucap Anne setelah sampai di mejanya kembali.


James yang tadinya sedang beranjak pergi untuk mencari istrinya itu, kini kembali duduk di kursinya.


"Baiklah ayo kembali ke kantor aku tidak ingin menunggu lagi hanya karena seseorang yang tidak penting." ucap Jennifer seraya melirik ke arah Anne yang kembali memakan desertnya, kemudian ia segera beranjak dari sana.


"Tapi aku belum selesai." Anne langsung protes.


"Astaga, perasaan dari tadi kamu makan terus apa itu belum cukup ?" cibir Jennifer dengan kesal.


"Baiklah-baiklah, kita kembali ke kantor sekarang." Anne langsung meletakkan sendok di atas piring desertnya, kemudian bergegas bangkit dari duduknya. Wajahnya nampak kecewa menatap desert yang baru setengahnya ia habiskan itu.


"Padahal itu enak sekali, sabar ya Nak nanti sepulang bekerja kita mampir kesini lagi." gumamnya seraya mengusap perutnya.


"Aku naik mobil ini, kalian berdua naiklah mobil satunya !!" perintah Jennifer seraya membuka pintu mobil milik James, lalu segera masuk ke dalam.


Sementara Anne dan Rose terpaksa naik mobil satunya dan mengikuti wakil direkturnya itu dari belakang.


Namun tanpa mereka sadari Marco nampak mengawasi mereka dari kejauhan. "Benar-benar menarik, rupanya wanita itu bekerja untuk James." gumamnya kemudian.


Sementara itu Rose yang melihat Anne nampak melamun langsung mengajaknya berbicara.


"Anda baik-baik saja ?" tanyanya sedikit berbisik agar tak terdengar oleh yang lain.


Anne mengangguk kecil, lalu mengalihkan pandangannya ke jendela sampingnya dengan wajah muram.


Sesampainya di kantornya Anne yang baru akan menuju kursinya, tiba-tiba tangannya langsung di tarik oleh suaminya lalu di bawanya masuk ke dalam ruangannya.


"Astaga, bagaimana jika ada yang melihat ?" Anne langsung melepaskan tangannya yang di cekal oleh pria itu.


"Tidak ada yang melihat, jika ada ya biarkan saja berarti itu mungkin waktunya hubungan kita harus di umumkan" timpal James dengan enteng seraya duduk di kursi kerjanya.


"Jangan lakukan itu, aku masih mau bekerja dan hari ini aku sangat senang karena proposal yang ku buat akhirnya di pilih." Anne nampak sangat senang.


"Hanya beberapa waktu ku mohon, setelah perutku membesar aku berjanji akan berhenti bekerja." mohon Anne dengan mengerucutkan bibirnya dan itu membuat James nampak gemas.


"Kemarilah !!" James menepuk pahanya agar istrinya itu duduk di sana dan tentu saja langsung di angguki wanita itu dengan senang hati.


"Aku mempunyai sesuatu buat kamu." ucap James kemudian.


"Masuklah !!" ucapnya kemudian saat mendengar pintunya di ketuk dari luar yang tentu saja itu membuat Anne langsung kelabakan dalam pangkuan pria itu.


Apalagi layar cctv sedang mati hingga membuatnya tak bisa mengetahui siapa yang datang.


"Astaga, apa kamu gila ?" ucapnya dengan kesal karena dengan sengaja suaminya itu ingin menunjukkan hubungan mereka.


"Permisi tuan saya membawa pesanan anda." ucap seseorang yang langsung membuat Anne nampak lega.


Rupanya Rose yang datang dengan membawa sebuah nampan.


"Bisa aku beranjak dari sini, aku malu " mohon Anne yang masih berada di pangkuan pria itu.


"Diamlah sayang, kau tahukan akibatnya jika terlalu banyak bergerak." timpal James kemudian yang langsung membuat Anne diam tak berkutik.


"Tuan, ini desert untuk nyonya sudah siap." tawar Rose dengan wajah sedikit menunduk setelah menyiapkan Desert yang ia bawa tadi.


"Baiklah terima kasih, Rose." timpal James.


"Sama-sama tuan." balas Rose lalu segera pergi dari sana.


"Astaga, bukankah itu desert yang ada di hotel tadi ?" Anne langsung berteriak girang.


"Makanlah sepuasmu, bukankah kau sangat menginginkannya ?" James langsung melonggarkan pelukannya.


"Terima kasih banyak." tanpa sadar Anne langsung melingkarkan tangannya di leher pria itu lalu mengecup bibirnya dengan singkat, Namun saat akan beranjak pria itu justru menekan tengkuknya lalu m3lum4t bibirnya dengan sedikit rakus.


Lama mereka bertukar saliva, saling m3lum4t dan menyesap hingga keduanya hampir kehabisan napas lalu menyudahinya.


Malam harinya, Jennifer yang sedang dalam perjalanan pulang nampak mendapatkan pesan dari seseorang hingga membuatnya langsung membelokkan mobilnya ke sebuah Cafe.


"Ada apalagi sih kak ?" ucapnya ogah-ogahan saat menemui kakaknya itu.


"Duduklah ada yang ingin ku bicarakan, penting." perintah Marco dengan menekankan kata-katanya.


"Jika kakak masih menyuruhku untuk menjauhi James, aku tidak akan melakukan itu." sahut Jennifer yang nampak jengah.


"Kenapa kamu mengambil proyek yang sedang ku incar? bukankah kau yakin proyek itu akan gagal di dapatkan oleh bajingan itu ?" tuding Marco to the point.


"Aku juga tidak tahu kak, karena tiba-tiba ada proposal yang baru masuk dan ternyata itu justru yang di setujui oleh mereka." sahut Jennifer, mengingat sebelumnya ia berjanji pada kakaknya itu untuk menggagalkan proyek milik James asal pria itu tak mengganggu pria pujaannya itu lagi.


"Kau membuatku semakin membenci bajingan itu asal kamu tahu." geram Marco.


"Ini pasti gara-gara wanita kampungan itu." Jennifer ikut kesal saat mengingat tiba-tiba Anne juga mengajukan proposal miliknya.


"Wanita kampungan ?" Marco langsung mengernyit.


"Tentu saja, asisten sekretarisnya James. Wanita kampungan yang rumornya sedang ada fair dengan tuan William itu yang proposalnya menang." terang Jennifer berapi-api.


"Benarkah ?" Marco nampak semakin tertarik, pria itu memang selalu tertarik dengan kehidupan pribadi William maupun James yang selama ini berusaha ia hancurkan tapi tak pernah berhasil.


"Tentu saja, lihatlah bukankah dia kampungan." Jennifer langsung menunjukkan foto Anne yang diam-diam ia potret saat wanita itu sedang makan.


"Sudah kampungan, rakus pula." imbuhnya lagi.


"Wanita ini ?"


.


Minal aidin wal fa'idzin semuanya, mohon maaf lahir & bathin. Jika ada perkataan saya selama ini yang menyinggung perasaan kalian saya pribadi memohon maaf yang sebesar-besarnya🙏🙏