
"Hancurkan seluruh perusahaan milik keluarga Alan jangan sampai ada yang tersisa !!" perintah William dengan murka, ia langsung meradang setelah mengetahui jika Alan dan ayahnya telah merampas seluruh aset mantan istrinya hingga menghilang entah kemana.
"Baik tuan." sahut James.
"Lalu sudah sampai mana proses hukum bajingan itu ?" tanya William lagi.
"Saya pastikan jika tuan Alan takkan bisa bebas dengan jaminan tuan, karena bukti yang kita serahkan sangat akurat. Saya yakin beliau akan mendekam beberapa tahun di penjara." terang James, jauh sebelum kejadian itu ia di perintahkan oleh tuannya tersebut untuk mengumpulkan banyak bukti tindak kejahatan Alan selama dua tahun terakhir.
William terlihat puas dengan kinerja asistennya tersebut dan sekarang ia harus segera mencari keberadaan mantan istrinya itu.
"Apa kau sudah mendapatkan kabar di mana putraku dan ibunya sekarang ?" tanyanya kemudian.
"Anak buah saya sudah menyusuri setiap bandara tapi tak ada jejak mereka tuan." sahut James.
"Kereta dan pelabuhan, apa kau sudah memeriksanya di sana ?" tukas William dengan tak sabar.
"Sudah tuan tapi nihil, nyonya Merry dan keluarganya benar-benar sangat pandai menghilangkan jejaknya." sahut James.
"Anne, wanita itu pasti tahu. Segera cari dia James !!" perintah William kemudian, wanita itu pasti tahu keberadaan anak dan mantan istrinya tersebut.
Lagipula Anne tak mungkin tetap ikut mantan istrinya setelah wanita itu bangkrut dan tak mempunyai apa-apa lagi.
"Baik, tuan. Saya akan segera mencarinya." sahut James lalu segera pamit undur diri.
Setelah sang asisten berlalu pergi, William nampak beberapa kali menghubungi ponsel mantan istrinya namun masih saja belum aktif.
"Di mana kalian berada ?" gumamnya dengan frustasi, pria itu nampak sangat rindu dengan sang putra.
"Celine? wanita itu pasti tahu." William kembali mengecek ponselnya namun ia tak menyimpan nomor wanita yang menjadi kakak ipar Merry itu.
"Sial." umpatnya.
Kemudian pria itu kembali fokus ke layar komputernya, sembari menunggu kabar dari asistennya lebih baik ia segera membuat perhitungan pada keluarga Alan dan menghancurkan perusahaannya adalah jalan satu-satunya.
Sementara itu di tempat lain Anne yang baru saja melamar pekerjaan di beberapa perusahaan nampak singgah di sebuah warung pinggir jalan.
Wanita itu masih tak menyangka bossnya itu telah jatuh miskin dalam hitungan hari dan kini mau tak mau ia harus mencari pekerjaan lainnya.
Sebenarnya mantan bossnya itu tetap ingin mengajaknya ikut pergi bersamanya, namun mengingat dirinya sebagai tulang punggung keluarga akhirnya ia memutuskan takkan meninggalkan kota kelahirannya tersebut.
"Segera transfer uang untuk check up ayahmu dan juga untuk keperluan kuliah adikmu."
Anne nampak menghela napas sejenak saat baru saja membaca pesan yang di kirim oleh ibu tirinya tersebut.
Ayahnya yang sudah sakit-sakitan tak lagi bisa bekerja, ia juga masih mempunyai adik tiri yang masih kuliah dan otomatis dirinya lah yang menanggung kebutuhan mereka semua.
"Iya mah nanti ku transfer." balas Anne kemudian dan tak berapa lama pesannya pun di balas.
"Tidak ada nanti-nantian, kamu mau ayahmu cepat mati hah ?"
Anne langsung berdecak, selalu saja ancaman itu yang di layangkan oleh ibu tirinya tersebut.
Seandainya sang ayah tak mencintai wanita itu, mungkin ia sudah membawa ayahnya itu pergi jauh dan merawatnya sendiri.
"Sudah ku transfer mah, maaf tidak seperti biasanya aku belum gajian bulan ini." balas Anne, setelah ia mentransfer sejumlah uang pada ibu tirinya tersebut.
"Dasar anak tak berguna, percuma ayahmu sekolahin kamu tinggi-tinggi tapi tak becus cari kerja yang benar."
Baginya sudah biasa di perlakuan kasar oleh wanita itu, ia hanya berharap sang ayah tidak di perlakukan seperti dirinya di rumah.
Hmm
Tiba-tiba seseorang berdehem nyaring hingga membuat Anne langsung menoleh ke sumber suara.
"Saya harap kamu tidak gila gara-gara jadi pengangguran." cibir James, pria itu tiba-tiba duduk di sebelahnya dan itu membuat Anne menjadi semakin kesal.
Entah kenapa sejak pertama kali bertemu dengan pria itu, ia sudah tak menyukainya meski ia telah mengetahui fakta jika pria itu adalah asisten dari mantan suami sang boss.
"Bukan urusanmu." sahut Anne dengan singkat, lalu wanita itu segera menyantap sepiring nasi rames yang baru saja di hidangkan oleh sang pemilik warteg.
Untuk menghadapi kenyataan hidup ia memang harus banyak makan agar kuat dan tidak gila seperti apa yang di katakan oleh pria di sebelahnya itu.
"Badan saja kecil tapi porsi makan seperti kuli." sindir James saat melihat sepiring penuh makanan di hadapan wanita itu.
"Jangan banyak bicara, jika lapar makanlah." timpal Anne dengan kesal.
"Tapi sepertinya tuan James yang terhormat ini tak mungkin datang ke tempat seperti ini untuk makan siang." imbuhnya lagi dengan nada sindiran.
"Baiklah ku rasa kau cukup paham apa yang ingin ku ketahui, sekarang katakan di mana nyonya Merry dan keluarganya berada ?" ujar James to thn point.
Anne nampak tersenyum sinis, bukannya menjawab wanita itu justru memesan seporsi makanan lagi pada pemilik warteg langganannya tersebut.
Tak berapa lama seporsi makanan yang sama dengannya pun terhidang di hadapannya.
Kemudian wanita itu segera menggesernya ke hadapan James hingga membuat pria itu langsung memicing.
"Makanlah tuan, baru kita bicara. Rasanya kurang sopan jika saya makan sendiri sedangkan anda terlihat seperti sedang kelaparan." tukas Anne dengan nada mengejek.
James nampak menggeram, rupanya wanita itu ingin bermain-main dengannya namun melihat watak wanita itu yang sulit untuk di dekati membuatnya mau tak mau menurutinya untuk memakan makanan yang menurutnya asing tersebut.
Apalagi tempat makan itu terlihat sangat kotor dan kumuh jauh dari kata layak, belum lagi beberapa pengunjung juga terlihat berpakaian lusuh dan kotor hingga membuatnya tak berselera.
Pria itu heran bagaimana bisa wanita itu tinggal di lingkungan seperti ini padahal penampilannya saat bekerja terlihat layaknya orang berada.
"Tenang saja tuan makanan itu tak beracun." timpal Anne saat melirik pria di sebelahnya itu yang hanya memandang makanannya tanpa berniat menyentuhnya.
"Kau pikir saya takut." James yang merasa tertantang langsung menyuapkan makanan tersebut ke dalam mulutnya.
"Tenyata enak juga." gumam pria yang sebelumnya tak pernah makan sejenis nasi tersebut, selanjutnya James nampak begitu menikmati makanannya dan mengabaikan tempat yang menurutnya sangat kotor itu.
"Tidak beracun sih tapi kalau setelah ini kamu bolak-balik ke kamar mandi itu bukan urusanku." ucap Anne yang langsung membuat James menghentikan kunyahannya lalu menatap wanita itu dengan pandangan membunuh.
"Becanda, serius amat hidupmu." gerutu Anne sembari terkekeh kecil.
"Jangan main-main denganku nona." ancam James dengan geram.
"Iya-iya, baiklah cepat habiskan jika ingin mengetahui di mana bu Merry dan keluarganya berada." tukas Anne kemudian.
Beberapa saat kemudian James terlihat sudah menghabiskan makanannya, wajah pria bule itu nampak memerah karena kepedasan.
Beruntung rahangnya di tumbuhi oleh bulu-bulu halus yang belum sempat ia cukur hingga membuatnya tak begitu tampak kepedasan, jika tidak wanita itu akan semakin memperoloknya.
"Sekarang katakan di mana mereka berada ?" tanyanya kemudian dengan tak sabar.