
"James, apa sudah kau hubungi Natalie untuk segera datang kemari ?" tanya James sesampainya di kantornya, semalam ia memerintahkan asistennya itu untuk menyuruh Natalie menemuinya di kantornya.
Pria itu harus membuat perhitungan pada wanita itu berkat ulahnya ia hampir saja mencelakai istrinya sendiri.
"Sudah, tuan." angguk James.
Sesuai perkataan James, siang harinya Natalie nampak memasuki kantor William dengan wajah angkuh seperti biasanya.
"Sayang." Natalie langsung mengulas senyumnya saat baru masuk ke dalam ruangan William.
William yang sedang meeting dengan kedua karyawannya langsung menyudahi dan menyuruh mereka untuk segera keluar.
"James bilang kau memanggilku ?" ucap Natalie setelah karyawan William menutup ruangannya dari luar.
William terlihat kesal, kemudian ia beranjak dari kursi kerjanya. "Kenapa kau melakukan itu semua bukankah kau tahu apa akibatnya ?" ucapnya dengan menekankan kata-katanya.
"Maafkan aku Will, aku tahu tapi aku rela menjadi pelampiasanmu." Natalie berjalan mendekati William, namun William langsung menjauh.
Pria itu nampa melangkahkan kakinya ke arah jendela kaca kantornya dan tentu saja itu membuat wanita itu kecewa.
"Aku sudah beberapa kali mengingatkan mu Nat, tapi kau sepertinya sengaja melakukan itu." tegas William setelah berbalik badan dan menatap wanita cantik di hadapannya itu.
"Tolong maafkan aku." mohon Natalie.
William nampak mendesah kesal kemudian ia mengambil sebuah cek di atas meja.
"Aku sudah memutuskan tidak akan memperpanjang kerja sama kita, ambil cek ini kurasa itu cukup untuk kerja kerasmu selama ini." William menyerahkan cek tersebut pada Natalie, namun wanita itu enggan menerimanya.
"Apa itu berarti kau juga akan meninggalkan ku ?" tanya Natalie kemudian.
"Hm, aku sudah menikah Nat jadi mengertilah." sahut William yang langsung membuat Natalie terperanjat.
"Ja-jadi kau sudah menikah ?" tanyanya tak percaya.
"Hm. " angguk William.
"Nggak, aku nggak mau kau tinggalkan Will." Natalie langsung memeluk William.
"Aku mencintaimu Will, aku tidak peduli kau sudah menikah atau tidak." mohon Natalie dan bersamaan itu pintu ruangan kerja William nampak di buka dengan kasar.
"Honey." William langsung mendorong tubuh Natalie menjauh saat melihat Merry masuk ke dalam ruangannya.
"Tolong jangan salah paham, aku akan menjelaskan semuanya." mohon William pada istrinya itu.
"Aku mempercayaimu Will, aku yakin kamu tidak akan tega menyakitiku." Merry nampak mengulas senyumnya meski saat ini ia ingin sekali memukul suaminya itu sampai babak belur karena membiarkan wanita lain memeluknya.
Namun ia harus tetap terlihat tegar di hadapan Natalie, agar wanita itu tidak merasa menang.
"Terima kasih." William nampak bersyukur.
"Will, kamu tidak bisa melakukan ini padaku." protes Natalie, sudah bertahun-tahun lamanya ia menunggu pria itu dan ia tidak rela jika pada akhirnya William menikah dengan orang lain.
"William berubah pasti semua gara-gara kamu kan ?" Natalie menuding Merry dengan wajah geramnya
"Dasar wanita kurang ajar." Natalie melayangkan tamparannya namun Merry langsung menahan tangan wanita itu lalu menghempaskannya hingga membuat wanita itu jatuh dan terbentur ujung meja kerja William.
"Arrgghh, sakit." nampak darah mengucur dari dahi Natalie dan itu membuat William langsung panik.
"Will, aku tidak sengaja." Merry merasa bersalah, namun William yang segera menggendong Natalie dan membawanya pergi nampak mengabaikan istrinya itu.
"Tenanglah nyonya, nona Natalie pasti baik-baik saja." James langsung menenangkan.
"Semoga saja." Merry terlihat syok, ia merasa tak begitu kuat mendorong Natalie tapi kenapa wanita itu bisa terluka parah.
"Nyonya, mari saya antar pulang." ajak James kemudian.
"Aku ingin melihat keadaannya, James." mohon Merry.
"Lebih baik jangan dulu nyonya, nona Natalie sedang emosi. Saya khawatir beliau akan membawa masalah ini ke jalur hukum jadi biar tuan William yang mencoba menenangkannya." bujuk James.
"Baiklah." Merry nampak pasrah.
"Dalle bisakah mampir ke kampus sebentar." mohon Merry setelah mobil mereka meninggalkan kantor William.
"Anda sudah tidak ada kelas, nona." timpal Dallas yang sedang duduk di sebelah kursi kemudi.
"Aku ada keperluan dengan Sarah." sahut Merry mengingat Sarah ada bimbingan sore ini.
"Baiklah, nyonya." Dalle segera melajukan mobilnya menuju kampus nyonyanya tersebut.
Sesampainya di sana seperti biasanya Merry menyuruh pengawalnya itu menunggu di gerbang kampusnya.
Ia tidak suka jika pengawalnya itu mengekorinya kemana-mana apalagi di dalam kampus.
"Merr, belum pulang ?" tanya Artha tiba-tiba saat Merry masuk ke dalam kelasnya.
Sedangkan Artha yang sepertinya baru selesai mengajar masih duduk di mejanya tersebut.
"A-aku mencari Sarah." sahut Merry.
"Sarah baru saja pulang." terang Artha seraya bangkit dari duduknya.
"Baiklah." Merry nampak kecewa, padahal saat ini ia butuh sahabatnya itu.
"Tunggu, Merr. Kemarilah apa kamu sedang ada masalah ?" Artha segera mendekati Merry, pria itu melihat gadis itu sedang sangat sedih.
"Ayo duduk sini !!" Artha menuntun Merry ke salah satu kursi yang ada di kelas tersebut lalu mendudukkannya di sana.
"Katakan apa yang terjadi ?" tanya Artha dengan lembut.
Namun Merry yang tak kuasa menahan tangisnya langsung Artha bawa ke dalam pelukannya.
"Menangislah jika itu bisa membuatmu merasa lebih baik." Artha mengusap punggung Merry dengan lembut, entah kenapa sudut hatinya terasa sakit saat mendengar gadis itu menangis.
"Terima kasih."
Beberapa saat kemudian Merry langsung menarik tubuhnya menjauh setelah merasa lebih baik.
"Mau cerita ?" tawar Artha kemudian namun Merry langsung mengggelengkan kepala.
"Terima kasih, baiklah aku akan pulang saja." Merry segera beranjak, namun Artha langsung menahan tangannya.
"Mau ku traktir makan di kantin? biasanya makan banyak akan membuat seseorang bisa sedikit melupakan masalahnya." tawar Artha.
Merry nampak berpikir sejenak kemudian ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Baiklah." Merry mengangguk setuju, karena hari masih sore.
Di kantin Artha nampak memesan banyak makanan untuk Merry, karena Artha tahu gadis itu suka sekali makan.
"Terima kasih." Merry mulai bisa tersenyum, entah kenapa saat bersama Artha ia selalu merasa lebih tenang.
Merry tidak tahu bagaimana Artha sesungguhnya tapi yang ia tahu pria itu sangat baik terlebih selalu ada di saat ia sedang membutuhkan.
"Untuk ?" Artha mengernyit tak mengerti.
"Semuanya, kamu selalu ada saat aku butuh, terima kasih." sahut Merry dengan menatap pria di hadapannya itu.
"Merr." panggil Artha kemudian yang langsung membuat Merry yang sedang makan langsung mengangkat wajahnya.
"Haruskah aku katakan pada Merry jika yang menembak ayah dan ibunya adalah William, sepertinya akan seru."
Artha nampak menimbang rencananya dan pria itu langsung tersenyum miring.
"Di mana kedua orang tuamu ?" pancing Artha kemudian yang sontak membuat Merry tersentak.
"Mereka...." Merry menjeda ucapannya, seketika peristiwa waktu itu berputar lagi di ingatannya.
.
Guys saya mohon maaf ya jika akhir-akhir ini jarang balas komen kalian, karena kesibukan di real yang lumayan menyita waktu. Saat senggang nanti pasti akan saya balas satu-satu, terima kasih sebelumnya masih setia dengan cerita receh ini 🙏🙏🙏