Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~298


"Ini terlalu larut malam tuan Alex, Axel tak pernah tidur selarut ini." protes Elsa saat Alex membawa putranya itu pulang dalam keadaan sudah tidur.


Jarum jam telah menunjukkan pukul 11 malam dan pria itu baru membawa putranya pulang.


"Dia sudah tidur dari tadi saat menungguku meeting dengan klien." sahut Alex dan bersamaan itu nampak seorang wanita datang menyusul dengan membawa sesuatu di tangannya.


"Saya membawa sepatu Axel yang ketinggalan di mobil." ucap Lucy yang membuat Elsa nampak tersenyum sinis, jadi mereka pergi bertiga pantas betah pikirnya.


"Terima kasih Luc, pulanglah Jack akan mengantarmu." timpal Alex seraya mengambil sepatu milik putranya itu.


Lucy nampak menatap dalam bosnya itu kemudian dengan ragu menganggukkan kepalanya dan itu tak luput dari pandangan Elsa.


Kentara sekali jika wanita itu mengagumi pria itu, lagipula wanita mana yang tak menyukai sosok Alex selain tampan pria itu juga sangat kaya raya.


"Baiklah, kalau begitu saya pulang dulu." ucapnya dengan sedikit membungkukkan badannya, lantas berlalu pergi dari sana dan lagi-lagi tanpa menatap ke arah Elsa sedikit pun seakan keberadaan wanita itu tak terlihat di matanya.


"Cepatlah bawa masuk Axel, di luar sangat dingin." ucap Elsa kemudian.


"Lain kali jangan seperti ini lagi, dia bisa sakit kalau tidurnya kurang cukup." tegur Elsa setelah Alex menutup pintu kamar sang putra dari luar.


"Kamu sakit ?" tanya Alex saat melihat wajah pucat wanita itu.


"Aku baik-baik saja, sekarang pulanglah ini sudah larut malam." sahut Elsa lalu segera menyuruh pria itu untuk pulang.


"Apa aku boleh minta air hangat, di luar udara sangat dingin jadi aku sedikit minum saat meeting tadi." mohon Alex kemudian.


"Kamu mabuk di depan putraku ?" Elsa langsung melebarkan matanya.


"Tidak, dia di kantor bersama Jack dan aku meeting bersama Lucy serta beberapa karyawan lainnya." terang Alex dengan jujur.


"Oh." Elsa hanya menanggapinya dengan ber oh ria, rasanya malas sekali mendengar pria itu menyebut nama wanita itu.


Kemudian Elsa segera mengambil air hangat untuk pria itu "Minumlah setelah itu segeralah beristirahat." ucapnya kemudian.


"Ku dengar dari Jack besok kamu mulai bekerja di kantor mantan kekasihmu itu." ucap Alex seraya mendudukkan dirinya di meja makan.


"Gosip cepat sekali beredar." gerutu Elsa.


"Hm, tapi kamu jangan khawatir aku masih bisa antar jemput Axel sekolah. Karena aku hanya mengambil pekerjaan part time sekitar 4 sampai 5 jam sehari jadi aku masih bisa tetap mengurus Axel setelah itu." terang Elsa.


Ia tidak mau di anggap sebagai seorang ibu yang tak bertanggung jawab karena terlalu sibuk bekerja, lagi pula saat santai ia bisa gunakan waktunya untuk merancang dan menjual desainnya secara online.


"Kenapa harus bekerja di sana? apa uang yang ku berikan masih kurang ?" ucap Alex dengan nada mulai dingin.


"Tidak, uangmu lebih dari cukup untuk kebutuhan Axel. Aku hanya tidak ingin bergantung padamu untuk kebutuhanku sendiri, lagipula aku sangat suka bekerja." sahut Elsa beralasan.


"Apa profit perusahaan itu bagus ?" tanya Alex lagi yang langsung membuat Elsa nampak mengernyit.


"Untuk apa kamu bertanya seperti itu ?" ucapnya kemudian.


"Menurutmu ?" timpal Alex yang masih duduk di kursinya.


"Kamu jangan macam-macam tuan Alex, tolong jangan mencampuri urusanku." sela Elsa, kemudian segera bangkit dari duduknya.


Sangat mudah bagi pria itu untuk mengakuisisi perusahaan Max yang tak terlalu besar itu, namun ia takkan membiarkan itu terjadi.


"Dia bukan pria yang baik El, jadi ku harap jangan terlalu percaya padanya." ucap Alex seraya melangkah mengikuti wanita itu ke arah pintu keluar.


"Aku tahu siapa yang baik dan tidak, jadi terima kasih sudah mengingatkan ku." sinis Elsa seraya membuka pintu apartemennya dengan lebar agar pria itu segera keluar dari unitnya.


"Tapi kali ini percayalah padaku dia sedang menginginkan sesuatu darimu, aku tidak mau karena ketidak waspadaanmu itu putraku menjadi korbannya." Alex kembali memperingatkan.


"Lalu apa sekretarismu itu juga tak mengincar sesuatu darimu, hm ?" balas Elsa, mengingat bagaimana wanita itu menatapnya dengan pandangan tak suka.


"Dia tidak ada hubungannya dengan semua ini, dia karyawan yang cukup sopan dan loyal." bela Alex kemudian.


"Terserah kamu sungguh aku tak peduli, tapi jika terjadi sesuatu pada putraku akibat perbuatan wanita itu aku bersumpah akan membawanya pergi jauh darimu." tegas Elsa dan sontak membuat Alex meradang lalu mendorong wanita itu ke dinding belakangnya dan menghimpit tubuhnya di sana.


"Dia juga putraku, aku yang melahirkannya dan mengasuhnya jadi aku yang lebih berhak dari pada kamu." balas Elsa dengan meninggikan suaranya yang langsung membuat Alex hilang akal kemudian menekan tengkuk wanita itu itu lantas m3lum4t bibirnya dengan kasar.


Mendapatkan serangan tiba-tiba, Elsa nampak memberontak apalagi saat pria itu menggigit bibirnya agar bisa lebih dalam menciumnya.


Namun tenaganya yang tak seberapa membuatnya pada akhirnya lelah dan pasrah sampai pria itu benar-benar puas lalu melepaskannya.


Plakk


Beberapa saat kemudian sebuah tamparan langsung Elsa daratkan di pipi pria itu setelah melepaskan panggutannya.


"Aku membencimu tuan Alex, sangat membencimu." hardik Elsa lalu mendorong pria itu keluar dari unitnya lantas menutup pintunya dengan kasar.


Elsa nampak bersandar di belakang pintu dengan wajah berlinang air mata, meratapi nasibnya yang tak pernah tenang sejak kehadiran pria itu di hidupnya.


Begitu juga dengan Alex pria itu juga nampak menyesali perbuatannya yang tak mampu mengendalikan emosinya dan membuat wanita itu semakin membencinya.


Keesokan harinya....


"Selamat pagi nyonya." sapa Jack seperti biasa yang selalu setia menunggu di depan unitnya setiap pagi.


Elsa menatap unit apartemen milik Alex yang masih nampak tertutup rapat, entah pria itu ada di dalam atau sudah berangkat ke kantor.


Namun tiba-tiba ia tercengang saat melihat sepasang pria dan wanita yang baru datang lantas membuka pintu unit tersebut.


"Tuan Alex sudah pindah semalam, nyonya." ucap Jack saat melihat keterkejutan di wajah wanita itu.


Mendapati Jack memperhatikannya Elsa langsung berdehem kecil. "Aku tidak peduli, tuan Jack." ucapnya lalu segera melangkah melewati pria itu.


Sesampainya di kantor barunya Elsa langsung di suguhi dengan tumpukan pekerjaan, namun ia nampak semangat karena ia memang sangat menyukai bekerja.


"El, nanti makan siang bersama ya." ajak Max saat menghampiri mejanya.


"Aku tidak bisa Max, karena harus menjemput putraku di sekolah." tolak Elsa dengan halus.


"Ya sudah kita jemput bersama-sama, setelah itu kita pergi makan siang." bujuk Max tak menyerah.


Elsa nampak menghela napasnya sejenak, lalu dengan berat hati menganggukkan kepalanya. Sungguh ia tak ingin memberikan pria itu harapan dan semoga ini terakhir kali ia menyetujui permintaannya.


Anggap saja sebagai balas budi atas kebaikan pria itu yang telah menerimanya bekerja di kantornya.


"Baiklah, sampai jumpa nanti siang." Max nampak tersenyum lebar sebelum meninggalkan meja wanita itu.


Siang harinya Elsa menghubungi Jack agar tidak menjemputnya karena ia akan pulang bersama Max.


Setelah menjemput sang putra kini mereka mengunjungi salah satu restoran terbaik di kotanya tersebut.


"Ini terlalu berlebihan Max." ucap Elsa tak enak hati.


"Tidak ada yang berlebihan, jika ini restoran pilihan Axel." sahut Max seraya menarik kursi untuk wanita itu.


"Axel ?" Elsa langsung melotot, bagaimana bisa putranya itu mengetahui restoran semewah ini.


Elsa semakin merasa tidak enak dengan Max karena pasti harga makanan di sini mahal-mahal semua.


"Sayang, katakan apa kamu pernah pergi kesini sebelumnya ?" ucapnya pada sang putra.


"Hm, tentu saja. Daddy dan tante Lucy pernah mengajakku makan di sini dan apa Mommy tahu, es krim di sini sangat enak sekali." terang Axel dengan polosnya dan itu membuat Elsa nampak menghela napasnya.


"Siapa Lucy, kau mengenalnya ?" tanya Max penasaran, karena setahunya Alex tak pernah berhenti mengejar wanita itu meski pada akhirnya Elsa selalu menolaknya.


"Dia....." Elsa menjeda ucapannya saat tiba-tiba melihat kedatangan Alex bersama sekretaris kesayangannya itu.


Kenapa kebetulan sekali, takdir benar-benar sedang mempermainkannya.