Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~79


William nampak melangkahkan kakinya masuk ke dalam sebuah ruangan tersembunyi yang selama ini memang sering ia gunakan saat sedang ingin sendiri.


Ruangan tanpa jendela itu terlihat temaran karena minimnya cahaya yang menerangi.


Di sana nampak banyak sekali foto Merry dari berbagai tahun terpatri rapi di atas dinding.


Sepertinya William tak pernah sedikit pun melewatkan masa pertumbuhan gadis itu.


Kemudian William mengambil sebuah cambuk sepanjang dua meter lalu tanpa berpikir panjang pria itu langsung mencambuk tubuhnya sendiri.


Dari dulu pria itu selalu menyakiti dirinya sendiri saat gagal menjaga Merry, meski selama bertahun-tahun tak menampakkan dirinya secara langsung tapi William selalu mengawasi gadis itu dari kejauhan.


Namun kali ini William merasa gagal dan ia takkan memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu pada istrinya itu.


Pria itu langsung bersimpuh di lantai setelah puas menyakiti tubuhnya sendiri lalu butiran kristal nampak jatuh membasahi pipinya.


"Maafkan, aku." lirihnya.


Beberapa hari kemudian....


"Maaf tuan, saya belum menemukan keberadaan nyonya." lapor James malam itu, pria itu nampak sangat bersalah karena usahanya belum mendapatkan hasil.


William yang berada di ruang kerjanya terlihat berantakan, pria itu benar-benar tak merawat dirinya dengan baik sejak istrinya menghilang.


Bulu-bulu halus yang tumbuh di sekitar rahangnya nampak lebat, entah berapa hari pria itu tak mencukurnya.


Rupanya William benar-benar tak bisa kehilangan gadis itu, Merry terlalu candu baginya dan tanpa kehadirannya di sisihnya membuat seorang William seakan enggan untuk hidup.


"Sebenarnya apa yang kau kerjakan James, ini sudah hampir satu minggu istriku menghilang ?" geram William dengan kesal.


"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tuan." terang James.


"Kerahkan semua anak buahmu, saya tidak mau tahu bagaimana pun juga istriku harus segera di temukan." titah William kemudian.


"Baik, tuan." James mengangguk kecil kemudian pria itu segera berlalu pergi.


Setelah menghabiskan sebatang rokoknya, William pun segera meninggalkan ruangan kerjanya kemudian berlalu menaiki tangga menuju kamarnya.


Beberapa hari ini pria itu sudah mencari sang istri di setiap sudut tempat namun gadis itu seperti di telan bumi.


Keesokan harinya....


"Kau ?" Martin nampak terkejut saat William tiba-tiba datang ke kantornya.


"Aku ingin tahu keadaan istriku, apa kau sudah mendapatkan kabar ?" ucap William to the point, pria itu sudah sangat frustasi jadi mau tak mau ia mendatangi Martin.


"Bukankah sudah ku bilang jangan pernah dekati putriku lagi." Martin menatap William dengan sinis.


"Aku sangat mencintai putrimu, ku mohon mengertilah. Kami sudah menikah, aku dan Merry saling mencintai." William menegaskan perasaannya.


"Omong kosong, sampai kapan pun aku tidak akan menerima pernikahan kalian jadi jangan pernah lagi muncul di hadapanku atau putriku lagi." tegas Martin, kemudian pria itu nampak mengambil sebuah berkas di atas mejanya yang memang sebelumnya sudah ia persiapkan.


"Ambil apa yang sudah menjadi hakmu dan mulai hari ini kita sudah tak ada keterikatan lagi dan perusahaan ini menjadi milikmu sepenuhnya sesuai amanat kakekmu." Martin menyerahkan berkas kepemilikan perusahaannya pada William.


Sepertinya pria itu sudah memikirkan keputusannya dengan matang, sungguh Martin tidak rela jika menyerahkan putrinya pada William mengingat penyakit pria itu.


Setelah kepergian Martin, William nampak menggenggam berkas di tangannya dengan kuat seakan ingin menghancurkannya.


Padahal perusahaan itu adalah satu-satunya jalan baginya untuk tetap berhubungan dengan Martin.


William sedikit pun tak masalah jika sang kakek memberikan separuh hartanya pada Martin, mengingat atas jasa Martin selama ini.


Namun kini pria itu benar-benar telah memutuskan hubungan dengannya dan itu membuat William merasa kecewa karena mungkin ia akan benar-benar berpisah dengan Merry.


"Bangun dan buatkan aku makanan, pemalas !!" teriak Arthur seraya menarik selimut tipis yang menutupi tubuh Merry pagi itu.


Merry yang terkejut langsung beranjak bangun, beberapa hari ini Arthur memang sangat berubah bahkan Merry sampai tak mengenalinya lagi.


Pria itu sangat kasar dan tak segan membentaknya setiap kali pulang, ingin sekali Merry kabur namun Arthur selalu mengunci Apartemennya dari luar.


"Tidak bisakah kau berbicara sedikit pelan, aku tidak tuli." protes Merry yang mulai hilang kesabaran, kini ia menyesal karena telah mempercayai pria itu.


Merry segera beranjak dari ranjangnya kemudian berlalu keluar meninggalkan Arthur yang nampak mengacak rambutnya dengan kasar.


"Apa cuma ini yang bisa kau buat ?" Arthur menatap omelet sedikit hangus di atas meja makannya.


"Aku bukan koki jadi jangan meminta apa yang tidak ku bisa, lagipula ini sangat enak." sahut Merry seraya memakan omelet buatannya dengan sedikit kesal.


"Berani kau melawanku ?" Arthur langsung menjambak rambut Merry hingga membuat gadis itu mendongakkan kepalanya ke atas.


Namun Merry langsung mendorong sikutnya sendiri ke belakang hingga mengenai perut Arthur dan membuat pria itu meringis kesakitan.


"Brengsek, apa kau ingin cari mati ?" hardik Arthur sembari meringis kesakitan.


"Yakin kau ingin membunuhku ?" Merry nampak tersenyum menatap Arthur.


Gadis itu sudah mengetahui tujuan Arthur yang sebenarnya dan itu membuatnya bisa menekan pria itu.


Flash back....


Malam itu Merry yang sedang haus nampak keluar dari kamarnya untuk mengambil air minum.


Karena tak ingin mengganggu Arthur, Merry terlihat mengendap-endap ke dapur.


Namun saat melewati kamar Arthur, ia mendengar pria itu sedang berbicara dengan seseorang di telepon.


"Aku tidak mau tahu, bagaimana pun caranya segera temukan keberadaan Martin maupun Sera dan langsung habisi saja." ucap Arthur yang langsung membuat Merry melebarkan matanya, kemudian gadis itu menempelkan telinganya semakin dekat agar lebih jelas mendengarnya.


"Aku pasti akan membayarmu mahal untuk itu, karena satu-satunya pewaris Martin sudah ada di tanganku." imbuh Arthur lagi dan sontak membuat Merry terkejut.


Sejak saat itu Merry tetap pura-pura tidak tahu rencana Arthur sembari membuat rencana untuk kabur.


"Apa maksudmu ?" Arthur memicing saat mendengar ucapan Merry.


"Jika aku mati, apa mungkin kau masih bisa mendapatkan harta Daddy ?" cibir Merry dengan tersenyum penuh kemenangan.


"Rupanya kau sudah tahu, baguslah jadi tak ada lagi yang perlu ku tutupi." Arthur nampak tersenyum menyeringai dan tentu saja membuat Merry sedikit takut, namun gadis itu berusaha untuk bersikap biasa saja.


"Aku yakin sedikit saja kau melukaiku, Daddy dan William tidak akan pernah mengampunimu." Merry mencoba menakuti Arthur.


"Ayah dan ibumu sedang di ujung kematiannya dan ku rasa William tak benar-benar mencintaimu karena hingga saat ini pria itu tak memcarimu jadi lebih baik tanda tangani ini sekarang juga." Arthur menyodorkan sebuah berkas ke hadapan Merry.


Merry langsung menatap berkas tersebut, rupanya Arthur memintanya untuk menandatangani surat kuasa pengalihan perusahaan milik ayahnya.


"Benar-benar licik." gumam Merry kemudian, sepertinya ia harus segera membuat rencana agar bisa kabur dari Apartemen pria itu.


"Aku tidak mau." tegas Merry.


"Aku bilang tanda tangani !!" hardik Arthur menatap tajam Merry.


"Tidak mau." Merry bersikukuh.


"Kau ingin melakukannya dengan cara lain rupanya." Arthur melangkah mendekati Merry dengan tersenyum menyeringai dan sebelah tangannya terlihat memegang senjata apinya.