Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~198


"Apa selama ku tinggal Papa baik-baik saja ?" tanya Anne siang itu saat memberikan sepiring mangga buat sang ayah.


Tuan Wijaya nampak menatap putrinya itu dengan perasaan bersalah. "Maafkan papa." lirihnya kemudian.


"Tidak usah minta maaf Pa, semua sudah berlalu. Sekarang aku hanya ingin Papa sehat dan bahagia, katakan Papa ingin apa pasti akan ku turuti kecuali suruh berdamai dengan Mama Kartika dan Tasya itu tidak mungkin Pa." timpal Anne seraya menggenggam tangan kurus sang ayah, tangan yang dahulu kekar dan mampu memberikan ancaman pada relasi bisnisnya kini tak berdaya lagi.


Mungkin saat ini ayahnya sedang menjalani karmanya atas perbuatannya terhadap sang ibu yang rela menemaninya dari nol, namun setelah sukses di sia-siakan begitu saja.


Berselingkuh dengan ibu tirinya hingga membuat ibu kandungnya itu depresi dan berakhir menghabisi nyawanya sendiri.


Setelah itu penderitaan Anne di mulai ketika sang ayah membawa wanita selingkuhannya dan anak tirinya pulang ke rumah. Saat itu ia hanya bisa pasrah ketika hasil jerih payah kedua orang tuanya di nikmati oleh mereka.


Namun Anne yakin setiap perbuatan baik atau buruk pasti ada balasannya masing-masing, beberapa tahun kemudian perusahaan sang ayah jatuh bangkrut hingga mereka tak punya apa-apa lagi selain rumah yang mereka tinggali saat ini.


Rumah mewah yang di bangun dengan penuh cinta oleh kedua orangtuanya, banyak sekali kenangan bersama ibunya di sana dan Anne berjanji apapun yang terjadi akan tetap mempertahankannya.


Sebenarnya ayahnya bisa saja menjualnya dan membelikannya dengan rumah yang lebih kecil, namun hingga kini pria paruh baya itu tetap mempertahankannya meski terkadang rela kegelapan karena tak mampu membayar listrik.


Ia yakin ayahnya itu memiliki alasan tersendiri padahal sang ibu tiri dengan berbagai cara telah merayunya untuk menjualnya.


"Papa menyesal selama ini telah bersikap tak adil padamu Nak, mata Papa di butakan oleh cinta sesaat yang Papa kira itu selamanya." ucap tuan Wijaya kemudian.


"Jangan di bahas lagi Pa, saat ini Papa harus fokus pada kesembuhan Papa. Aku akan mencari dokter yang terbaik untuk menyembuhkan sakit Papa." Anne menggenggam tangan ayahnya begitu erat, tangan yang beberapa kali pernah menampar pipinya saat ia melawan sang ibu tiri.


Namun Anne tidak akan dendam, meski selama ini ayahnya tak pernah memberikan kasih sayangnya tapi ia bersyukur pria itu masih mau membesarkannya dan membiayai sekolahnya.


"Bagaimana hubunganmu dengan suamimu, apa kalian baik-baik saja ?" tanya sang ayah kemudian.


"Kami baik-baik saja Pa, dia sedang sibuk dengan bisnisnya jadi tidak bisa ikut tapi jika sudah selesai pasti akan menjemput kami." sahut Anne meyakinkan.


"Kami ?" tuan Wijaya nampak mengernyit.


"Hm, saat ini aku sedang hamil Pa." Anne langsung menganggguk kecil.


"Jadi Papa akan mempunyai cucu ?" tuan Wijaya nampak belum percaya namun matanya berkaca-kaca juga.


"Tentu saja Pa." sahut Anne lalu memeluk ayahnya tersebut, dahulu pria itu seakan enggan memeluknya kini tubuh yang telah rapuh itu membalas pelukannya tak kalah erat.


Ehmm


Tiba-tiba seseorang berdehem nyaring hingga membuat keduanya saling melepaskan pelukannya.


"Ck, terlalu drama. Aku mau pergi karena calon menantuku mengajak kami shopping lagi, jagalah rumah ini baik-baik dan jangan menyentuh barang-barang mahal milikku dan Tasya." ucap nyonya Kartika seraya berdiri dengan angkuh di ambang pintu kamar sang ayah, setelah itu wanita tersebut berlalu pergi.


"Wanita tak tahu diri." gerutu Anne ketika melihat kepergian ibu tirinya tersebut, sedikit pun tak ada rasa hormat pada sang ayah yang notabennya masih menjadi suami sahnya.


"Jangan terlalu di pikirkan." sang ayah langsung menenangkan.


"Sejak Papa jatuh bangkrut dia selalu bersikap semena-mena, kenapa tidak Papa ceraikan saja ?" rutuk Anne dengan kesal.


"Maafkan Papa mungkin itu kesalahan terbesar yang Papa perbuat, Papa terlalu di gelapkan oleh bujuk rayunya hingga waktu itu menyetujui permintaannya." sahut tuan Wijaya yang langsung membuat Anne mengernyit.


"Maksud Papa ?" tanyanya kemudian.


"Kami telah sepakat akan membagi rumah ini menjadi dua jika suatu saat bercerai kecuali salah satu dari kami berselingkuh maka tidak akan mendapatkan apapun. Maafkan Papa Nak, karena itulah Papa membiarkan dia berbuat sesukanya di rumah ini asal kami tak bercerai. Bukan karena Papa masih mencintainya tapi Papa tidak ingin kehilangan kenangan ibumu di rumah ini. Papa benar-benar menyesal telah menyia-nyiakan kalian dahulu." Tuan Wijaya nampak kembali berkaca-kaca mengingat kebodohannya itu.


"Tapi itu tidak terikat untuk ahli waris Nak, ayah bebas mewariskan rumah ini pada siapapun saat ayah tiada nanti." imbuh tuan Wijaya lagi, lalu pria itu nampak sedikit membungkuk untuk membuka brankas yang ada di dalam nakas sebelah tempat tidurnya.


Menekan beberapa angka hingga brankas tersebut terbuka lalu mengeluarkan isinya. "Ini ambillah, rumah ini Papa berikan padamu tapi biarkan Kartika tetap tinggal di sini sesuai kesepakatan itu kecuali Papa telah tiada maka kesepakatan itu tak berlaku lagi." ucapnya kemudian.


Anne langsung mengambil dokumen yang ternyata telah di pindahkan atas namanya, entah sejak kapan ayahnya itu mengurusnya tapi ia bersyukur posisinya akan semakin kuat di sini.


Seketika banyak sekali ide untuk mengerjai ibu tirinya itu agar tidak betah di rumahnya dan pergi dengan sendirinya.


Dan siang itu juga saat rumah sedang sepi Anne memanggil beberapa tukang untuk memperbaiki rumahnya, ia akan mengembalikan rumah ini seperti dahulu seperti saat ibunya masih ada.


Mengganti cat rumahnya dan mengganti foto-foto ibu dan adik tirinya itu dengan beberapa foto mendiang ibunya dan ayahnya yang sudah lama sekali terasing di gudang.


Hingga malam hari para tukang baru selesai dengan pekerjaannya dan Anne sangat puas dengan hasilnya bahkan sang ayah nampak menitikkan air matanya saat kenangan masa lalunya kembali ia lihat.


"Akhirnya aku bisa tidur lagi di kamarku." ucap Anne saat baru merenovasi kamarnya, kamar yang dulu di tempat oleh Tasya kini sudah kembali ia tempati setelah bertahun-tahun adik tirinya itu menginvasinya.


Malam telah larut dan nyonya Kartika beserta Tasya baru saja pulang dengan membawa beberapa tas belanjaan di tangannya.


Anne yang menatap mereka dari balkon kamarnya segera turun, ia ingin melihat bagaimana reaksi mereka dengan perubahan rumahnya.


Tak sia-sia ia mempekerjakan 20 tukang hingga mampu membuat rumahnya berubah dalam beberapa jam.


"Ma, ini benar rumah kita ?" ucap Tasya saat melihat cat rumahnya telah berubah.


"Tentu saja sayang, entah apa yang sudah di lakukan oleh anak pembawa sial itu." Nyonya Kartika segera masuk ke dalam rumahnya dan seketika bola matanya hampir terlepas saat melihat seisi rumahnya telah berubah.


"Apa-apaan ini ?" teriaknya, ia seperti kembali memasuki rumah tersebut untuk pertama kalinya dimana banyak sekali barang-barang peninggalan istri pertama suaminya itu.


"Bagaimana, apa Mama suka ?" timpal Anne seraya menuruni anak tangga.


"A-apa yang kamu lakukan di kamarku ?" teriak Tasya mengingat di atas hanya ada dua kamar miliknya dan kamar satunya yang lebih kecil ia jadikan gudang penyimpanan barang-barangnya yang jarang ia gunakan.


"Kamarmu ?" Anne langsung tertawa nyaring menatap adik tirinya tersebut.


"Sampai kapan pun itu kamar yang di buat oleh ibuku dengan penuh kasih sayangnya dan sekarang sudah saatnya aku mengambil apa yang menjadi hakku." tegas Anne menatap adiknya itu sejenak.


"Tapi aku masih istri ayahmu dan itu brarti aku masih berkuasa penuh di rumah ini." tegas nyonya Kartika tak terima.


"Berkuasa? Ck, posisimu hanya menumpang di sini ibu tiri. Apapun yang terjadi aku yang berkuasa di sini." timpal Anne seraya menunjukkan salinan kepemilikan rumah tersebut.


"Kau !!" Nyonya Kartika langsung merebut surat tersebut lalu merobeknya begitu saja.


"Baiklah aku mau tidur, jika masih ingin tinggal di rumahku ini bersikaplah dengan baik." ucap Anne seraya berlalu menaiki anak tangga.


"Ma, bagaimana ini aku sudah tak punya kamar lagi." keluh Tasya si anak manja.


"Kamu bisa tidur di kamar mama dahulu sembari kita susun rencana untuk mengusir anak pembawa sial itu dari sini." bujuk nyonya Kartika lalu mengajak putrinya itu ke kamarnya.


"Aku tak yakin rencana kalian akan berhasil ?"


Anne yang mengawasi mereka dari lantai atas nampak tersenyum miring setelah melihat beberapa pesan yang di kirim oleh orang suruhannya di ponselnya.