Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~53


"Bahkan di hari pertamamu bekerja sudah kamu gunakan untuk menggoda karyawan di sini." tuding William setelah mereka masuk ke dalam ruangannya.


"Aku tidak menggoda mereka, aku hanya ingin kenal mereka saja. Bukannya punya banyak teman itu bagus dan apa kamu tahu, ternyata karyawanmu itu baik-baik semua. Sepertinya aku akan betah di sini." Merry nampak antusias tak peduli suaminya itu bahkan ingin menerkamnya hidup-hudup.


William mengeraskan rahangnya, sungguh istri kecilnya itu susah sekali di atur.


"Kantor untuk bekerja kalau kamu lupa, bukan tempat untuk bermain-main." tegur William dengan menahan emosinya.


"Astaga, kenapa hidupmu kaku sekali tuan William. Kantor memang untuk bekerja tapi apa salahnya kita menciptakan suasana kerja yang menyenangkan agar semua karyawan betah dan nyaman." protes Merry dengan entengnya, sepertinya wanita itu tak sadar jika saat ini seorang William sedang sangat emosi.


"Benarkan ?" imbuh Merry meminta persetujuan.


"Ayolah, jika kamu marah-marah terus nanti cepat tua loh." Merry mendekati suaminya yang sedang bersandar di meja kerjanya itu.


Pria itu nampak menatap dingin istrinya dengan tangan bersendekap di dadanya.


"Lihatlah wajahmu sangat kaku dan tak lama lagi pasti akan tumbuh keriput di sini." Merry tiba-tiba menyentuh dahi William lalu turun menyentuh pipi dan rahang pria itu yang di penuhi bulu-bulu halus.


Mendapatkan sentuhan tiba-tiba dari sang istri, membuat hati William perlahan mulai menghangat.


"Apa kau sedang merayuku hm ?" ejek William, namun Merry langsung menggeleng cepat.


"Bukan, aku hanya ingin memberitahumu jika kamu sedikit saja tersenyum pasti akan jauh lebih tampan." ucapnya, kemudian gadis itu berjalan menjauh.


Mendengar ucapan sang istri membuat William sedikit mengangkat sudut bibirnya, namun saat sadar wanita itu sedang mencoba merayunya membuat pria itu langsung mengeraskan rahangnya kembali lalu berdehem kecil.


Ehm


"Segera keluar dari sini dan bantu kerjaan Camela !!" perintahnya kemudian.


"Iya, baiklah." Merry bergegas pergi.


"Dasar kanebo kering." gerutunya dalam hati, namun langkahnya terhenti saat pria itu berbicara lagi padanya.


"Ini terakhir kali aku melihatmu menggoda karyawan pria di sini." tegasnya kemudian.


"Iya, iya." sahut Merry lalu segera menutup pintu dari luar dengan sedikit keras.


"Camela, berikan pekerjaanku." ucap Merry kemudian setelah duduk di meja sebelah Camela.


"Apa tuan William memarahimu ?" tanya Camela ingin tahu saat melihat wajah Merry yang di tekuk.


"Aku tidak tahu jika tuan William akan kembali ke kantor lagi." imbuh Camela kemudian.


"Tenang saja dia memang galak tapi aku selalu mempunyai cara untuk menenangkannya." ucap Merry dengan tersenyum lebar.


"Benarkah? apa aku boleh tahu ?" Camela nampak penasaran.


"Kamu lupa aku keponakannya ?" Merry langsung tersenyum jahil, lagipula mana mungkin dia memberitahu wanita itu jika William akan selalu memaafkannya kalau dirinya membuka pakaian untuk pria itu.


"Oh ya tak biasanya tuan William datang ke kantor lagi apa itu karena ada kamu ya ?" ucap Camela penasaran, sepertinya wanita itu ingin tahu banyak tentang William dari Merry.


"Itu tidak mungkin, dia itu seperti kanebo kering mana mungkin sepeduli itu." sangkal Merry.


"Benar juga sih." Camela nampak tersenyum tipis.


"Tapi sepertinya aku tahu kenapa tuan William kembali ke kantor." imbuh Camela dengan menajamkan pandangannya.


Wanita itu nampak melihat Natalie yang sedang berjalan dengan anggun ke arahnya.


Merry yang penasaran dengan perkataan Camela langsung mengikuti arah pandang wanita itu.


"Mau ngapain dia kesini ?" gumamnya kemudian.


"Kamu di sini sekarang ?" Natalie nampak menatap tak suka ke arah Merry.


"Aku bekerja di sini." sahut Merry tak kalah ketus.


"Oh baguslah, awasi terus wanita murahan itu agar tidak selalu menggoda kekasihku." sinis Natalie menatap Camela kemudian berlalu masuk ke dalam ruangan William.


Merry yang memperhatikan itu nampak menggeleng kecil, rupanya Camela dan Natalie mempunyai hubungan yang kurang baik dan pasti penyebabnya adalah suaminya.


"Dasar playboy awas saja jika sampai aneh-aneh dengan ondel-ondel itu, jangan harap bisa menyentuhku lagi." umpatnya kemudian dengan geram.


Hingga satu jam berlalu Natalie belum kunjung keluar dan itu membuat Merry mulai gelisah.


"Apa Natalie selalu lama jika datang kemari ?" tanyanya kemudian pada Camela.


"Hm, begitulah." sahut Camela dengan enggan, sepertinya wanita itu sedang cemburu berat.


"Apa jangan-jangan mereka sedang berbuat mesum ?" tebak Merry dalam hati, kemudian wanita itu segera beranjak dari duduknya.


"Kamu mau kemana ?" tanya Camela mengernyitkan dahinya.


"Aku ada ide untuk melihat mereka sedang ngapain di dalam sana." sahut Merry dengan tersenyum jahil, lantas wanita itu segera pergi menuju arah pantry.


"Sepertinya kamu bisa ku andalkan." gumam Camela dengan tersenyum miring menatap kepergian Merry.


Beberapa saat kemudian Merry nampak kembali dengan dua gelas cangkir kopi di atas nampan, lalu wanita itu langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Awas saja jika kalian mesum, kopi panas ini akan berakhir di muka kalian masing-masing." gumamnya kemudian.


Klik


Pintu ruangan tersebut terbuka dan Merry nampak melebarkan matanya saat melihat Natalie sedang berdiri di samping kursi William serta sedikit membungkuk saat melihat layar komputer pria itu.


Entah apa yang mereka lihat namun itu sukses membuat Merry cemburu karena mereka terlihat begitu intim.


Kemudian Merry langsung mendekat dengan tersenyum semanis mungkin.


"Aku tadi membuat kopi jadi ku pikir kalian juga mau." ucapnya saat William dan Natalie melihat ke arahnya.


"Kamu yang membuatnya ?" William nampak mengerutkan dahinya karena baru kali ini istrinya itu membuat kopi.


"Tentu saja kopi spesial buat kalian." sahut Merry seraya meletakkan secangkir kopi di hadapan suaminya itu, kemudian membawa secangkirnya lagi mendekat ke arah Natalie yang masih berdiri di samping William.


Sebenarnya ia malas berdekatan dengan wanita itu namun rasa ingin tahu mengenai hal menarik yang mereka lihat di komputer suaminya itu membuatnya mau tak mau memberikan kopi tersebut langsung pada wanita itu.


"Ambillah ini buatmu !!" ucapnya seraya mengulurkan kopi panas tersebut pada Natalie, lalu matanya melirik ke arah komputer.


"Aaaarrgggh panas." teriak Natalie dengan histeris hingga membuat William langsung terperanjat, begitu juga dengan Merry.


"Kamu sengaja kan ingin melukaiku ?" imbuhnya lagi menuduh Merry.


"A-aku tidak tahu." Merry langsung menggeleng cepat, wanita itu merasa sudah menyerahkan kopi tersebut pada Natalie jadi bagaimana bisa tiba-tiba tumpah.


"Merry apa yang kamu lakukan !!" Hardik William menatap istrinya itu, kemudian pria itu segera membawa Natalie menuju kamar mandi untuk mencuci kulitnya yang memerah dengan air dingin.


"A-aku tidak mengerti kenapa bisa tumpah." Merry langsung menyusul mereka.


"Dia sengaja melakukannya Will, sakit banget ini. Tolong suruh dia pergi dari sini." Natalie nampak memohon pada William dengan berderai air mata.


"Cepat pergi dari sini !!" perintah William menatap istrinya itu dengan dingin.


"Aku benar-benar tidak sengaja." ucap Merry membela diri.


"Keluar !!" ulang William dengan menekankan perkataannya.


"Dasar rubah, awas saja aku akan membalasmu." gumam Merry saat melihat Natalie yang nampak mengejeknya.


Kemudian Merry menatap William dengan kecewa, lalu segera melangkahkan kakinya pergi.


"James, segera panggil dokter !!"


William nampak menghubungi sang asisten dan Merry langsung menutup pintunya dengan kasar.