Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~276


"Kamu itu tidak punya Daddy jadi pergi dari sini, kami tidak mau berteman dengan anak yang tidak punya Daddy karena kata Mommy nanti Daddy kita di ambil." ujar seorang bocah sembari mendorong Axel menjauh.


"Tapi aku punya Mommy, kalian bilang jika aku punya Mommy kalian mau berteman denganku." timpal Axel tak menyerah, ia memang sering di bully sama teman-temannya.


"Tapi kata Mommy ku, Mommy mu terlalu cantik jadi nanti Daddy ku di ambil." balas salah satu dari mereka hingga membuat Axel nampak sedih, kemudian bocah kecil itu segera menjauh dari kerumunan teman-temannya tersebut lalu duduk sendirian di sebuah kursi untuk menunggu sang ibu menjemput.


Beberapa saat kemudian Elsa nampak melangkah terburu-buru masuk ke dalam sekolah sang putra.


"Sayang, maafkan Mommy ya datang terlambat tadi di kantor banyak kerjaan." ucapnya saat melihat putranya itu duduk sendirian, sedangkan teman-temannya yang lain baru saja pulang bersama para orang tuanya.


Dengan perasaan bersalah wanita itu langsung berjongkok di lantai untuk menyamakan tingginya dengan putranya.


Elsa yang telah memecat sang sopir karena harus berhemat membuatnya mau tak mau harus bisa membagi waktu untuk sang putra dan juga pekerjaannya.


Ia juga telah menghentikan semua karyawannya untuk sementara waktu sampai butiknya kembali ramai hingga kini ia harus memutar otak untuk mencari kerjaan tambahan.


"Tidak apa-apa Mommy, apa Mommy sangat lelah ?" timpal Axel saat melihat keringat di dahi sang ibu hingga membuatnya langsung mengusapnya dengan tangan kecilnya.


"Tidak, sepertinya Mommy terlalu bersemangat." sahut Elsa yang enggan menampakkan kesedihannya di depan putranya itu.


"Ya sudah ayo pulang, apa mau beli es krim dahulu ?" ajak Elsa kemudian namun putranya itu langsung menggeleng.


"Mommy, kenapa aku tidak punya Daddy ?" tanya Axel kemudian yang tentu saja membuat Elsa langsung tercengang karena sudah lama sekali putranya itu tak membahas ayahnya lagi.


"Daddy? Daddy kamu sedang bekerja di luar negeri sayang dan tempatnya jauh sekali hingga membuatnya belum bisa pulang." sahut Elsa memberikan alasan.


"Kalau Daddy bekerja kenapa Mommy juga bekerja ?" tanya Axel penasaran dan lagi-lagi membuat Elsa tercekat dengan pertanyaan putranya itu, namun ia harus memikirkan jawaban yang tepat karena putranya pasti akan terus bertanya jika belum puas dengan jawabannya.


"Karena Daddy bekerjanya sangat jauh jadi belum bisa memberikan uang pada kita, jadi Mommy yang harus bekerja." sahut Elsa kemudian, semoga putranya mengerti dan takkan banyak bertanya lagi.


"Jadi kalau Daddy pulang akan membawa banyak uang untuk kita dan Mommy tidak akan perlu bekerja lagi, bukan begitu Mommy ?" timpal Axel yang mulai tak murung lagi.


"Tentu saja sayang, Daddy pasti akan membawa banyak sekali uang untuk kita." sahut Elsa sembari berkaca-kaca.


"Tentu saja sayang, ayahmu sangat kaya tapi aku berharap sampai kapanpun kamu tidak akan bertemu dengan ayahmu itu. Sungguh Mommy sangat takut jika kamu akan di ambil dari sisi mommy, di dunia ini cuma kamu yang Mommy punya dan Mommy janji akan melakukan apapun untuk kebahagiaanmu." imbuhnya dalam hati, kemudian Elsa langsung membawa putranya itu ke dalam pelukannya.


Setelah itu mereka segera berlalu pergi dari sana dan Elsa yang ingin menyenangkan sang putra nampak mengajak bocah kecil itu mengunjungi sebuah mall di kotanya tersebut.


Brukk


Tiba-tiba Axel yang sedang berlarian tak sengaja menabrak seseorang. "Pelan-pelan sayang, apa kamu baik-baik saja ?" ucap Elsa seraya membantu putranya itu bangun.


"Elsa, kamu Elsakan ?" tiba-tiba seorang wanita yang di tabrak oleh putranya itu nampak memanggilnya.


"Car-Carla ?" Elsa juga nampak terkejut saat tak sengaja bertemu sahabat lamanya itu, seorang wanita yang pernah membantunya dahulu saat pertama kali ia datang ke Jerman.


"Astaga, aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini." ucap Carla kemudian.


"Kapan kamu kembali, bukankah kamu sedang di Paris ?" timpal Elsa yang terlihat sangat senang bertemu dengan wanita itu.


Carla adalah teman kuliahnya dahulu, mereka sempat bersahabat baik sebelum wanita itu pindah kuliah dan menetap di Paris.


Hanya saja sejak Carla pindah ke Paris beberapa tahun silam, hubungan mereka terputus hingga sekarang.


"Aku baru sebulan tinggal di sini, karena harus mengurus perusahaan ayahku. Oh ya apa dia bayi mungil waktu itu ?" tukas Carla seraya menatap Axel yang juga nampak sedang menatapnya.


"Hm, dia Axel putraku." sahut Elsa seraya menarik putranya mendekat.


"Hai sayang, apa kau ingat padaku hm? dulu waktu kamu masih bayi kamu pernah ngompol dalam gendonganku." ucap Carla pada Axel.


"Aku tidak ingat." sahut Axel seraya menggelengkan kepalanya.


"Tentu saja kamu tidak ingat, waktu itu kamu baru berusia dua bulan. Karena Mommy mu harus kuliah jadi kamu di titipkan padaku." tukas Carla mengenang masa lalu mereka.


"Aku sangat merindukanmu, kepergianmu yang tiba-tiba membuatku belum sempat membalas semua kebaikanmu waktu itu Carl." timpal Elsa kemudian.


"Aku juga sangat merindukanmu." balas Carla lalu memeluk wanita itu.


"Baiklah boy apa kamu mau ku traktir makan es krim ?" ucap Carla kemudian seraya menatap Axel.


"Dia sangat menyukai es krim, mungkin karena dulu kamu sering makan di depan dia." timpal Elsa sembari terkekeh.


"Tentu saja, aku adalah tantenya jadi dia harus mirip denganku." sahut Carla yang juga nampak terkekeh.


Kemudian mereka segera berlalu ke sebuah restoran yang menyajikan berbagai macam es krim dan tentu saja itu membuat Axel sangat senang.


"Bagaimana kabarmu, apa kamu sudah menikah ?" tanya Elsa di sela mereka menikmati es krimnya.


Carla nampak menggeleng kecil. "Sepertinya tidak ada pria yang mau denganku." selorohnya kemudian.


"Astaga, hanya pria katarak yang tak menyukaimu." timpal Elsa, mengingat sahabatnya itu sangat cantik dan juga kaya raya.


"Ada seorang pria yang sedang ku taksir, semoga saja aku bisa mendapatkannya dan menjadikannya suamiku." tukas Carla seraya membayangkan seorang pria yang akhir-akhir ini ia kagumi.


"Sepertinya kau benar-benar sedang jatuh cinta." Elsa menatap sahabatnya yang sedang senyum-senyum sendiri itu.


"Begitulah, dia duda yang sangat cool yang menjadi incaran semua wanita." Carla semakin mengulas senyumnya saat membayangkan tubuh kekar Alex.


"A-apa? duda? Astaga Carl, apa pria lajang sudah punah di dunia ini ?" Elsa tak habis pikir dengan sahabatnya itu.


"Kamu belum melihatnya Els, jika sudah melihatnya kamu pasti juga akan jatuh cinta padanya tapi itu tak boleh terjadi karena pria itu hanya milikku." sahut Carla dengan nada posesif.


"Kamu tenang saja itu takkan terjadi, aku masih memegang teguh prinsipku." tegas Elsa kemudian.


Tak berapa lama kemudian ponsel Carla nampak berdering nyaring. "Astaga, jodoh selalu tahu jalan pulang." ucap Carla seraya menunjukkan sebuah kontak yang ia beri nama 'love" pada Elsa sedang melakukan panggilan telepon padanya dan itu membuat Elsa nampak geleng-geleng kepala, sahabatnya itu benar-benar bucin.


"Aku harus segera pergi untuk menjemputnya di bandara." ucap Carla seraya beranjak dari duduknya.


"Bye tampan, tante pergi dulu ya." Carla nampak mengacak rambut Axel kemudian segera pergi dari sana.


Sementara Axel langsung memperbaiki rambutnya yang berantakan. "Aku tidak suka sama tante itu." ucapnya dengan nada ketus dan itu membuat Elsa nampak menahan senyumnya, putranya itu memang selalu peduli dengan penampilannya.