Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~193


Pagi itu Anne bangun tanpa melihat suaminya di sisinya, sepertinya pria itu tak pulang dari semalam. Kemudian ia mengecek ponselnya namun tak ada pesan apapun yang di kirim oleh pria itu.


Anne terlihat kecewa, lalu wanita itu segera beranjak dari ranjangnya untuk membersihkan dirinya.


Beberapa saat kemudian Anne telah siap pergi ke kantornya dan bi Ester menawarkan diri untuk mengantarnya, pelayannya itu beralasan jika Mark sedang berhalangan datang.


Menggunakan mobil mewah milik wanita itu yang sering ia lihat saat pelayannya itu di jemput pulang oleh seseorang.


Anne yang tadinya tak peduli, rasa penasarannya pun kembali meronta terhadap kehidupan pelayannya tersebut.


"Bi Ester, ku rasa bibi bukan sembarang pelayan." ucap Anne mulai menyelidik.


"Saya hanya seorang pelayan, nyonya." sahut Bi Ester dari balik kemudinya.


"Tapi bagaimana bisa bibi mengendarai mobil semewah ini ?" tanya Anne to the point.


"Ini mobil tuan James." sahut Bi Ester beralasan.


"Wah hebat sekali ya suamiku memberikan fasilitas mewah pada pelayannya ?" sindir Anne mengingat beberapa waktu lalu saat ia pergi ke Mall bersama dengan Andrew ia tak sengaja melihat pelayannya itu mengendarai mobil tersebut bersama dengan kedua anaknya di saat hari libur.


"Beliau memang sangat baik." sahut Bi Ester.


"Ck, sudahlah Bi. Tolong hentikan akting bibi, sekarang katakan padaku siapa sebenarnya bibi? aku yakin bibi bukan orang sembarangan atau bibi berniat jahat pada suamiku ?" tuding Anne kemudian.


Matanya nampak mengawasi wanita seumuran HRDnya di kantornya tersebut yang terlihat sangat tenang meski ia telah memojokkannya.


"Saya istrinya tuan Mark nyonya dan mobil ini memang benar milik tuan James yang di berikan pada suami saya." sahut nyonya Ester pada akhirnya yang langsung membuat Anne nampak terkejut.


"Kau sangat pandai becanda Bi Ester." Anne masih belum percaya, karena selama ini pelayannya tersebut saat bertemu dengan Mark mereka seperti tidak saling mengenal.


"Benar nyonya, Mark suami saya." ulang Bi Ester yang terlihat tak terganggu dengan sikap nyonyanya tersebut dan ia memakluminya karena selama ini ia bersikap seolah tak mengenal Mark.


Itu semua sudah menjadi aturan klan yang setiap anggota di larang keras bersikap mesra dengan wanita di tempat umum.


Bi Ester dahulu juga anggota klan, wanita itu sangat ahli menjadi mata-mata seorang William Smith namun dengan berjalannya waktu dan usianya yang tak lagi muda membuatnya lebih banyak menghabiskan waktunya sebagai ibu rumah tangga biasa.


Namun saat mendapatkan tugas untuk menjadi pelayan sekaligus menjaga nyonya mudanya tersebut, Bi Ester nampak sangat senang akhirnya di usianya yang tak lagi muda ia masih berguna bagi klannya.


"Kau berhasil membuatku terkejut, baiklah aku harus segera masuk jika tidak harimau betina di dalam sana akan mengaum dengan keras." ucap Anne saat kendaraannya telah berhenti di parkiran kantornya.


Bi Ester nampak geleng-geleng kepala. "Anda sangat suka mempersulit diri anda sendiri, nyonya." timpalnya kemudian.


"Sebagai sesama wanita, bibi pasti tahu apa alasanku." sahut Anne, kemudian segera turun dari mobilnya tersebut.


"Nyonya !!" panggil bi Ester tiba-tiba yang langsung membuat Anne urung pergi lalu menoleh ke arah pelayannya tersebut.


"Apapun yang terjadi tolong tetaplah berada di sisi tuan James." ucap bi Ester yang terdengar seperti sebuah permohonan.


Anne nampak menghela napasnya sejenak. "Aku harus segera masuk." ucapnya seraya tersenyum tipis, kemudian wanita itu berlalu pergi dari sana.


Anne terus saja melangkah menuju ruangannya dan tiba-tiba Andrew dengan tergesa-gesa menghampirinya. "Bu, gawat." ucapnya kemudian yang membuat Anne makin tak mengerti.


Sebenarnya ada apa dengan orang-orang pagi ini, Anne merasa bingung. "Ada apa ?" timpalnya menatap asistennya tersebut.


"Nona Jennifer, bu." sahut Andrew seraya menunjuk ke arah ruangan wanita itu.


Mengerti apa yang di maksud oleh asistennya tersebut, Anne segera melangkahkan kakinya menuju ruangannya dan seketika ia nampak terkejut saat melihat Jennifer sudah duduk di kursi kerjanya.


"Apa yang sedang kau lakukan di ruanganku ?" tegur Anne tak terima saat kursinya di duduki oleh keponakan HRDnya tersebut.


"Apa yang sedang ku lakukan? tentu saja bekerja. Aku manager marketing baru di kantor ini." sahut Jennifer dengan wajah angkuhnya seraya menunjukkan papan nama di atas mejanya, benar-benar penuh persiapan.


Anne nampak menghela napasnya, kenapa ia tidak tahu jika posisinya tiba-tiba di ganti. Apa itu berarti ia di pecat?


"Oh kamu sudah datang, mulai hari ini Jennifer yang menjadi manager marketing yang baru dan karena tuan James belum memutuskan posisimu jadi sementara waktu kamu jadi tenaga pembantuan saja dulu." tiba-tiba nyonya Darrien yang baru datang langsung menyela mereka.


"Aku tidak mau." tegas Anne, belum ada surat keputusan jika ia di pindahkan dari jabatannya jadi ia akan bersikeras menolak.


"Ini surat keputusan yang di tanda tangani oleh tuan James kemarin, bacalah !!" Nyonya Darrien memberikan sebuah amplop putih pada Anne yang langsung di buka oleh wanita itu dan di sana nampak tanda tangan suaminya terpampang nyata.


"Bedebah."


Anne langsung melemparkan surat tersebut ke tong sampah, lalu ia segera meninggalkan ruangan tersebut.


"Tunggu, apa kamu ingin menemui tuan James? beliau belum datang dan sepertinya sedang ada pekerjaan di luar kota. Jadi untuk sementara waktu pergilah ke pantry kebetulan OB tiba-tiba sedang izin jadi ku rasa tenagamu sangat berguna menggantikannya." ucap nyonya Darrien yang langsung membuat Anne menghentikan langkahnya, lalu tersenyum sinis menatap wanita itu.


"Maaf nyonya Darrien, mulai hari ini saya resign dari sini." tegas Anne lalu segera pergi dari sana.


Sesampainya di luar kantornya nampak sepi, karena bi Ester pasti sudah pergi dan beberapa pria bertubuh tegap yang biasanya selalu mengintainya juga tidak terlihat batang hidungnya dari kemarin.


Anne tahu akhir-akhir ini ia merasa di ikuti oleh beberapa pria dan ia tahu itu pasti anak buah Mark yang di perintahkan oleh sang suami agar ia tak kabur.


Namun sejak kepergian suaminya yang misterius sejak kemarin, beberapa pria itu juga tidak nampak di sekitarnya.


Anne mengingat setelah percintaan hebat mereka kemarin, ia terlelap tidur namun saat terbangun di sore hari suaminya sudah tak ada di sisinya.


Hanya sebuah pesan singkat di ponselnya yang di tinggalkan oleh pria itu.


"Aku mendadak ada urusan yang sangat penting, nanti pulanglah bersama dengan Mark."


Anne nampak membaca ulang pesan tersebut, kemudian ia menekan kontak sang suami menjadi sebuah panggilan telepon. Namun tak aktif dan bersamaan itu sebuah pesan tiba-tiba masuk.


"Aku masuk rumah sakit pagi ini karena detak jantung bayiku tiba-tiba sangat lemah, apa kamu akan terus-menerus membuat bayiku yang tak berdosa tersiksa seperti ini? kapan kamu akan pergi ?"


Anne nampak mendesah kasar saat membaca pesan tersebut, kemudian wanita itu memilih segera melangkahkan kakinya menuju stasiun.