Contract Marriage

Contract Marriage
Ch.93


Helikopter mendarat sempurna di atap gedung Global Group, perjalanan yang melelahkan meskipun mereka belum menemukan siapa orang yang telah mengacaukan proyek milan ini.


"Tuan, bagaimana dengan kelanjutan proyek nya?"


"Apalagi, kerjakan dari awal.." turun dari heli, "Kali ini aku sendiri yang akan mengawasinya.."


***


Mobil yang di kemudikan Sagaara melaju dengan kecepatan tinggi menuju kediaman orangtuanya.


Begitu sampai di garasi, Sagaara mempercepat langkah kakinya dadanya berdebar-debar sudah tak sabar lagi ingin menemui istri tercintanya.


"Sayang.. sayang.."


Vely yang saat itu berada di dalam kamar pun lekas keluar saat mendengar suara Sagaara menggema di udara memanggilnya.


Klek!


Pintu kamar terbuka, dua pasang mata yang saling memandang rindu.



Sagaara melangkah lebar dan langsung memeluk istrinya, "Maafkan aku sayang, maafkan aku.." mengelus kepala.


"Kenapa meminta ma -"


Uwuwuwuwu bahkan Sagaara langsung membungkam mesra bibir ranumnya, "Kau istriku.. satu-satunya wanitaku.."


Vely sedikit memiringkan kepalanya, bola matanya bersinar mendengar kalimat indah sang suami.


Kata-kata romantis itu sudah seperti sihir, Sagaara menggendong Vely dan merebahkannya di atas ranjang.


"Sayang?"


"Sst.. aku sudah mengatakannya semalam, kan? 3 ronde tidak akan cukup.."


"Iya aku tahu, tapi -" eemh...


Leher jenjangnya me merah saat Sagaara memulai aksinya, "Sayang dengarkan aku dulu.."


"Apa?" menatap tak suka.


"Aku sedang menstruasi.."


"Hah?" sialan! "Tidak bisakah kau menyumbatnya dengan sesuatu?"


Vely menggeleng lalu mendorong pelan tubuh suaminya, hingga pria itu duduk di sampingnya.


"Itu adalah takdir seorang wanita sayang, hal itu kan di pelajari saat di SMP.." tersenyum, "Atau jangan-jangan suamiku yang hebat ini tak pernah sekolah SMP ya.."


"Hanya 5 hari, tunggulah sampai hari itu tiba.." membenamkan wajahnya di dada bidang Sagaara.


"Baiklah.. aku akan menunggu, kau lihat saja nanti ya.. aku akan menghukum mu atas penghinaan mu barusan.."


"Haah? Kenapa menghukum ku sayang?" Vely mendongakan wajahnya agar bisa menatap wajah suaminya yang tampan.


"Pokoknya kau harus di hukum, nanti.. setelah hari itu tiba." membawa Vely berbaring di atas tubuhnya.


"Aaa, sayang.. ganti dulu baju mu.. bukan kah suamiku ini baru pulang dari luar kota? Cepat ganti baju dulu, nanti bajunya bisa rusak."


"Cerewet sekali istriku ini.." Sagaara membalikan posisi tubuh mereka, dimana saat ini dialah yang menindih tubuh mungilnya, mencengkram tangan Vely.


"Sayang, kenapa -"


Bibir mereka kembali bertemu mesra, cukup dalam dan lama.


***


Sebagai sekretaris yang abadi dalam hidup sendiri, tak ada lelahnya dia sudah seperti mesin saja.


Baru pulang dari kota Jiancheng, dan sekarang masih mengurusi pekerjaannya di kantor.


Tangannya bergerak memencet tombol interkom untuk memanggil Liora,"Keruangan ku, sekarang!"


Oh ya ampun.. apa lagi sih? Memangnya tadi tidak lihat ya, sebanyak apa berkas yang menumpuk di meja kami?


"Liora, ada apa?" tanya Mina.


"Tuan Ars memanggilku.." kesal.


"Pft.. kenapa kau malah kesal? Kan jarang-jarang loh bisa bertemu dengannya.. sudah sana cepat pergi sebelum dia meneriakimu.."


"Haaaaah.." menghela nafas, "Aku pergi dulu.."


Sampai di depan ruangan, Liora mengetuk setengah kuat pintunya.


"Masuk!"


Daun pintu terbuka, Liora muncul dari balik pintu. "Tuan memanggil saya?"


Ars mengangguk, "Duduklah.."


Mereka duduk berhadapan di sofa, Duh.. kenapa dia memandangiku terus sih?


Wajah mereka sama-sama merona. ehm..