Contract Marriage

Contract Marriage
Ch.73 Tidak Akan Memaksa Untuk Hamil


Hai guys sebelum baca, budayakan like, komen, dan please votte nya dong 🤩


______________


Di dalam ruangan itu—sofa, Gaara dan Vely sedang duduk di atas sana, sebagai pemilik saham terbesar di rumah sakit ini siapa yang berani menentang?


Gaara mengusap lembut wajah istrinya, "Jangan menangis lagi, aku sudah tidak marah padamu.."


"Maafkan aku sayang.."


"Tidak apa-apa, lagi pula ini semua terjadi karena kebodohan ku.. aku yang telah berani mempermainkan pernikahan, mempermainkan hidup mu.. seharusnya aku lah yang meminta maaf padamu.."


Gaara mengecup kening Vely, "Jangan bersedih lagi, aku tidak akan memaksamu untuk melepaskan alat kontrasepsi itu atau pun meminta mu untuk hamil, aku akan menunggu sampai hatimu yakin kepada ku.."


"Terimakasih sayang.. kau sudah mau mengerti diriku.." Vely membenamkan wajahnya di dada bidang Gaara, membiarkan Gaara mengelus rambut panjangnya.


Lalu Gaara meraih tangan Vely, meletakannya di dada.. membuat Vely benar-benar nyaman.


Kenapa aku bisa jatuh cinta padanya?


"Sayang.."


"Hm?"


Vely mengecup bibir Gaara dan pria itu pun membalasnya, "Ars akan mengantarmu pulang, hari ini kau diam saja di vila. Tidak boleh keluar tanpa mengantongi izin dari ku.."


"Em..." Vely mengangguk, "Iya baiklah sayang, aku mengerti... hari ini, jangan pulang terlambat, ya?" seru Vely dengan nada memanja.


"Hmmm..."


"Janji?"


"Iya aku janji, suudah, ayo cepat Ars pasti sudah menunggu kita di luar..."


Gaara memutar handle, di depan ruangan itu ternyata sudah ada Ars yang menunggu, "Pulanglah bersama Ars, aku masih banyak pekerjaan dan akan langsung berangkat ke kantor."


"Ars, antar istriku pulang," lanjut Gaara sembari menepuk pundak sekretarisnya.


"Hm, pergilah," pungkas Sagaara yang kemudian langsung mencium kening istrinya.


***


Di area parkir Ars pun membukakan pintu mobil untuk Vely, "Silakan masuk nona," ucapnya dengan ramah.


"Terima kasih sekretaris Ars."


Setelah keduanya masuk dan duduk memasang sabuk pengaman masing-masing, barulah sekretaris Ars mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, meninggalkan rumah sakit menuju vila.


Sepanjang perjalanan itu tak satupun yang membuka suara, Vely memilih untuk menyandarkan kepalanya di sandaran jok dan bermain hp.


"Sekretaris Ars?"


"Iya nona?" pria itu menatap Vely dari spion kecil yang tergantung di atas kemudi, "Nona membutuhkan sesuatu?"


"Aku haus, bisakah kita singgah sebentar?"


Ars mengangguk, "Bisa nona, sekitar lima meter kedepan ada sebuah toko —"


"Tidak, aku tidak mau membeli minuman d sana sekretaris Ars," protes Vely membuat Ars mengernyit.


"Lalu nona ingin membelinya di mana?"


"Kalau tidak salah sekitar beberapa meter dari toko di depan itu ada kedai ice Boba kamsia, tolong belikan aku minuman itu, ya?"


"Tetapi nona, tuan muda tidak mau jika nona jajan semba—"


"Sekretaris Ars, saat ini dia kan tidak ada, jadi ayolah tolong belikan aku, ya?!" suaranya terdengar manja dengan ekspresi wajahnya yang imut.


"Haaaah..." hanya helaan napas Ars yang terdengar menjawab.


"Baiklah nona."


Di depan kedai Boba kamsia Ars memberhentikan mobilnya, dan segera membelikan minuman pesanan nona muda—Vely.