
Sebelum senja dokter sudah memperbolehkan Henry untuk pulang, meskipun tidak jadi mandi-mandi di water park tapi ya sudah lah toh mereka bisa pergi kapan pun.
Sepanjang perjalanan pulang menuju ke vila Henry dan Kyara sudah terlelap dalam mimpi indahnya. Entah seperti apa mimpi mereka hingga membuat keduanya begitu pulas.
"Sayang kita singgah sebentar ya di market, aku ingin membeli bahan hamburger."
"Hamburger, lagi-lagi hanya makanan kesukaan mereka yang kau buat.. lalu untuk ku mana?"
"Hehe.. maafkan aku ya sayang, soalnya sekarang ini agak sulit membagi waktu dengan mu.. kau sendiri juga tahukan kedua anak kita seperti apa?"
Lalu Vely menoleh kebelakang, wajah manisnya menampakan seulas senyum manis.
"Hm..." jawab Sagaara dengan singkat.
"Kau tidak marah kan, sayang?"
"Kenapa aku harus marah.." mobil berhenti di area parkir, "Turunlah, kau bisa pergi sendiri kan? Aku disini saja menjaga anak-anak."
"Iya sayang tidak apa-apa.. tunggu sebentar ya.."
"Hm.."
Setelah menunggu sekitar empat puluh menit akhirnya Vely kembali juga, masuk kedalam mobil dan memakai sabuk pengaman.
"Sayang maaf lama ya, soalnya banyak pembeli yang antre di kasir."
"Hm, ya tak masalah.. lalu belanjaan mu?"
"Ini.." Vely menggantung kan kresek belanjaan nya ke udara.
๐๐๐
Sampai di vila, masing-masing menggendong anak. Sagaara menggendong putri kecilnya dan saat Lovely mau menggendong Henry.
Putra kecilnya itu membuka mata, "Mamah jangan gendong Henry.. Henry kan bukan anak kecil lagi.." cemberut.
Ehehe.. duh sikapnya ini benar-benar duplikat papahnya.. Vely tersenyum, "Hm.. ya sudah ayo turun. Tadi mamah membeli bahan untuk hamburger kesukaan kalian berdua."
"Benarkah?"
"Iya.."
Mereka melangkah bersama dari garasi hingga masuk kedalam vila, dibantu Nan makan malam ini akan ada humberger.
๐๐๐
Malam usai menyantap menu makan malam suasananya menjadi sepi karena Henry dan Kyara sudah tidur lebih awal dari biasanya.
Di dalam kamar yang besar itu Vely terlihat sedang menyisir rambut coklatnya, menatap cermin sambil menggembung-gembung kan kedua pipinya.
Sagaara tiba-tiba saja datang memeluknya dari belakang, "Sayang?" seru Vely
"Ya? Aku sudah tak bisa menahan diri lagi.."
"Apa yang kau bicarakan, semalam kan kita sudah melakukannya masa mau lagi malam ini.."
"Kenapa sekarang kau ini suka protes sih? Padahal dulu sebelum anak-anak lahir juga hampir melakukannya tanpa - Aaaaaa...."
Sakit... Sagaara mengelus hidungnya yang di cubit nya.
Sagaara ah tubuhmu itu loh apalagi dibagian perutmu uh..
"Yakin?" ah, lagi-lagi dia menggoda istrinya sendiri.
Vely menunduk malu dia menyembunyikan rona merah di wajahnya dari sang suami.
"Tidak mau.. ya sudah -"
Vely langsung menghamburkan diri memeluk suaminya, merangkul kan kedua tangannya di leher Sagaara.
"Kau selalu saja menggodaku.. kenapa?"
"Karena aku ingin memiliki seorang anak lagi darimu."
"Kita sudah punya dua, kan.."
"Mereka akan tumbuh besar dan tak akan mau di timang lagi.. memangnya kau tidak ingin melakukannya sampai hamil?"
Hm, alasan mu itu oh tuan muda yang maha benar.
"Sayang."
Tubuhnya menekuk saat Sagaara menggendongnya lalu merebahkannya di atas ranjang yang empuk.
"Setiap malam kita harus melakukannya.."
Baru saja dirinya mulai menegang dan akan menyalurkan libido.
"Papah... papah.. mamah.."
Ah tidak! Kedua anaknya datang mengacau ๐ต๐ต
๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท
๐จPapah :
"Kenapa kalian suka mengganggu papah dan mamah?"
๐ถHenry :
"Dulu saat kami masih menjadi janin di dalam perut mamah, setiap kali kami mau tidur papah selalu saja membuat gempa di tempat kami."
๐ถKyara :
"Aku tidak mendengar apapun! Kakak obrolanmu ini terlalu dewasa! Papah, kau ini sudah tua jadi tolong di kondisikan ya.." ๐
๐ฉโ๐ฆฐ Mamah :
"Ssstttt... kalian ini berisik, malu sama pembaca!" ๐
๐๐๐๐๐๐๐๐๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ
๐๐๐๐๐๐๐THE END๐๐๐๐๐๐