
Votte nya dong, please!!
###
Sekretaris muda itu di tugaskan ke luar kota bersama dengan Liora, mereka harus segera menyelesaikan tender yang akan di adakan disana.
Pagi ini Liora memakai dress biru dengan tali pinggang, serta memakai blazer bulu di bagian lingkar lehernya.
Liora menyeret koper tepat di belakang sekretaris Ars, mereka berjalan menuju tempat check-in.
Usai check-in mereka pun segera masuk dan duduk di ruang tunggu.
Duduk bersebelahan membuat Liora berdebar-debar.
"Tuan Ars, anda ingin minum kopi?"
"Tidak!"
"Air putih?"
Pria itu mengangguk, "Hm.."
***
Sementara itu tuan dan nona mudanya sedang asyik jalan-jalan ke pantai kenangan.
Merekapun sampai di tepi pantai, air yang menghantam bibir pantai dengan lembut hembusan angin membelai ujung rambut Vely.
"Sayang, pantai nya bagus sekali.. apakah kau sering datang ke tempat ini?"
"Ya, dulu saat masih SMA.."
"Oh ya? Dengan siapa?"
"Hanya dengan Ars.."
"Wah benarkah?"
"Kemari.." Sagaara menggerakkan tangannya, meminta wanita itu untuk mendekat.
Sagaara membelai rambut panjang istrinya nya, 2 pasang manik yang saling bersitatap. Mendadak Sagaara membayangkan hal yang aneh.
Astaga, apa sih yang ku pikir, kan? Lalu menggeleng.
"Sayang, ada apa dengan mu?"
"Bukan apa-apa.."
Memikirkan dirinya akan memiliki sepasang anak kembar, sedang bermain di kolam renang atau pun di pantai.
Mungkin tidak ada salahnya untuk mencoba rencana kehamilan yang sempat tertunda.
"Ya -" wajahnya mendadak kesal saat Vely menempelkan pasir basah di pipinya.
"Haha.."
"Nona muda, berani sekali kau ya?!"
"Kau melamun, jadi itu bukan salahku.." sekali lagi dia menempelkan pasir basah itu di baju Sagaara, kemudian pergi menjauh sembari tertawa.
Angin kembali menerpa rambut Vely yang terurai, angin itu sedikit kencang hingga membuat pasir halus masuk ke dalam matanya.
"Aa.. sayang.."
"Vely, kau kenapa?"
"Sepertinya mataku kemasukan pasir, aaaah perih.." dia mengusap matanya sedikit kuat.
"Jangan mengusapnya sekuat itu, mata mu bisa rusak. Coba sini ku lihat.."
Dengan hati-hati Sagaara meniup pelan mata Vely yang tadi kemasukan pasir.
"Bagaimana?" lanjut Sagaara.
"Sudah lebih baik.. sayang lihat es kelapa yang di sana?"
"Ya, kau mau?"
"Belikan aku satu ya.. aku akan menunggu di sana.." menunjuk sebuah batang besar yang biasa di pakai pengunjung untuk duduk.
"Kenapa kau tidak ikut saja?"
"Coba lihat itu.." manik Sagaara mengikuti arah telunjuk Vely, dimana dirinya melihat seorang pria tua yang sedang berjalan dengan membawa es kelapa ke arah wanitanya.
Cih, aku tidak akan kalah! "Ya sudah, kau duduk dulu.. sebentar lagi aku kembali.."
"Ok, sayang.."
Dengan penuh semangat Sagaara melangkah kan kedua kaki nya ketempat penjual es kepala itu, "Pak.. es kelapanya 2.."
"Maaf tuan, tapi es kelapanya sudah habis -"
"Apa? Kenapa bisa habis! Pokoknya aku tidak mau tau.. cepat berikan aku es kelapanya.. atau aku akan menuntut mu karena tak bisa memenuhi keinginan pembeli."
"Tuan jangan mengada-ngada, memangnya bisa apa mereka jika tuan melaporkan saya?" penjual menyabet sapu tangan ke udara lalu menaruhnya di pundak sendiri..
Sial! "Hei kau pak tua, memangnya kau tidak tahu siapa aku?!" mulai kesal.
"Memangnya siapa?!" menatap dari ujung kaki hingga kepala, "Hanya seorang pria aneh.."
Dari kejauhan Vely memperhatikan suaminya yang sedang berdebat itu. Hm, haha... kenapa suami ku seperti itu sih?