
Roda jet di turunkan saat mendekati hanggar, mereka telah sampai di bandara international ibu kota.
"Tuan bangun.. kita sudah sampai.."
"Hm.."
pelayan segera mengeluarkan koper mereka dari bagasi atas, membantu untuk membawakannya hingga ke bagasi mobil.
Di luar bandara Ars sudah menunggu kedatangan nona dan tuan mudanya.
Pria itu memberikan mereka bow, "Selamat pagi tuan, nona.."
Gaara mengangguk dan langsung masuk ke dalam mobil, duduk santai setelah memakai sabuk pengamannya begitu juga dengan Lovely.
"Ars, kau bisa menurunkan ku di hotel Giant.."
Hotel Giant? Mau apa dia.. baru saja datang sudah harus mengurus pekerjaan lagi? keluh Vely di dalam hatinya.
"Baik tuan.."
"Ars akan mengantar mu pulang sampai ke vila, besok pagi kita akan pergi kerumah mommy.."
"Baik tuan.."
Mobil pun segera melaju cepat setelah di tambahkan kecepatan nya.
***
Hotel Giant..
Sepasang kaki turun dari mobil dengan seribu pesonanya.
Masuk kedalam menapakan kakinya di lobi sembari mengusap layar hp nya.
Memeriksa notifikasi di hp lalu tersenyum, tanpa menunggu lagi Gaara segera masuk ke dalam lift menuju kamar 9999.
Dia senang dan bahagia tapi tak sedetikpun merasa jantungnya berdebar.
Ting!
Pintu lift pun terbuka tepat di depan kamar yang menjadi tujuannya.
Dari dalam kamar pintunya terbuka.
Wajah cantik yang di rindukan seorang Gaara selama beberapa hari ini, pria itu melangkah lebar untuk merengkuhnya.
Menepuk pelan wajah Rani lalu menabrakan bibirnya di bibir Rani, menyesapinya dengan penuh hasrat.
Ciuman panas itu pun selesai, Rani mengalungkan kedua lengannya di leher Gaara dan tersenyum.
"Sangat.."
Tangan kanan Rani meraba dada bidang Gaara sembari mencium pipi nya.
"Ayo masuk, aku tidak ingin ada yang melihat kita di luar.."
Gaara menyeringai, "Siapapun tak akan ada yang berani -"
"Ssssttt!!" telunjuk lentiknya menempel di bibir Gaara.
"Kau sedang bermain api, kau tidak takut jika kau akan benar-benar jatuh cinta padanya?"
Setelah menutup pintu kamar dan duduk ditepi ranjang, Gaara membelai lembut wajah Rani lalu membaringkannya tepat di bawah kungkungan tubuh kekarnya.
"Jatuh cinta.. padanya? Hmph... jangan membuat ku tertawa."
"Emh..." kecupan dan gigitan kecil di leher yang di berikan Gaara membuat Rani mendesah kecil.
"Kenapa kau sangat percaya diri sekali?" tangan mereka saling meremas, sementara Gaara masih sibuk mengecupi leher dan dada Rani.
Meninggalkan banyak stample kepemilikannya.
"Kenapa? Kau takut jika aku benar-benar jatuh cinta pada wanita jelek dan kampungan itu?"
"Mungkin!"
Gaara menyeringai lagi saat Rani mampu membuatnya lebih bernafsu.
"Jangan.." Rani menahan tangan Gaara yang sudah mau membuka dress dari tubuhnya, "Taruhan kita belum berakhir."
"Jangan khawatir, aku hanya ingin menciuminya saja.."
Rani menggeleng namun tak bisa melawan saat tangannya sudah benar-benar terkunci.
2 gunung yang berbalut bra putih membuatnya semakin tak sabaran, Gaara mulai mengecupinya membuat libido di dalam tubuhnya ingin segera tersalurkan.
"Sudah, jangan ingkari perjanjian kita.." tandas Rani dengan kesal.
Gaara mengangkat wajahnya lalu berbisik, "Akan ku menangkan taruhan ini.. sayang.."
Keduanya segera memisahkan diri, Rani segera duduk untuk merapihkan dress nya yang berantakan.
"Setelah ini kau akan pulang?"
"Kita baru bertemu, aku masih rindu.. kenapa ingin aku pulang?"
"Tidak..bukan itu maksud ku, hanya saja apakah kau tidak takut jika Lovely mengkhawatirkan mu?"
Rani menatap Gaara yang menggeleng cuek, masa bodoh untuknya.