
Sesampainya di kamar hotel Gaara meletakan semua belanjaannya di atas meja.
Apa itu, kenapa di bungkus dengan plastik besar?
"Berikutnya kau sendiri yang belanja!" tandas Gaara dengan rona merah di wajahnya, Bisa-bisanya menyuruh orang sepertiku berbelanja benda yang memalukan ini..
Vely mengangguk, "E- emh.. terimakasih tuan.." dengan senang hati Vely mendekati meja mencoba untuk membuka plastik tersebut, Apa? Kenapa membeli pampers?
Raut wajah terkejutnya tetangkap mata dingin Gaara, "Kenapa? Kau tidak suka dengan bentuknya?"
"Tuan, inikan pampers.. benda ini bukanlah pembalut yang akan saya pakai.."
"Apa?" Gaara tak kalah terkejutnya, "Sudah, pakai saja.. jangan banyak mulut."
"Mau di paksa juga saya tidak bisa memakainya, tuan.."
Errr.. Gaara di buat geram, dia melangkah mengambil hp lalu memberikannya kepada Vely, "Coba carikan benda yang bernama pembalut itu di internet!"
Uh pertama kalinya dia menyuruhku untuk menyentuh hp nya....
Tangan Gaara bergerak, "Cepat!"
"I- iya, tuan.." meraih hp dan segera berselancar di internet untuk mencarikannya foto pembalut. "Tuan, ini.."
"Hm.." mengambil, lalu memasukannya ke dalam saku celana. "Tunggu di sini, ingat jangan keluar kamar.."
Vely tersenyum sembari mengangguk, saat perintah seorang suami yang harus di turutinya.
***
Waaah... Gaara kembali lagi ke tempatnya berbelanja tadi.
"Kalain berdua, cepat lihat bukankah dia pria yang tadi?" seru seorang SPG yang ada di sisi kanannya dengan lirih kepada dua rekannya.
"Aaaa... ya ampun, dilihat dari manapun dia memang tampan." kyaaa....
"Aaaaah... pria idaman sekali.."
Bisik-bisik ketiga SPG dengan lirikan matanya membuat Gaara tak nyaman, tapi mau bagaimana lagi, salahnya sendiri kenapa saat berbelanja tadi tak mau bertanya-tanya.. gengsinya di GEDEin sih 🤣 jadi salahkan?
Gaara mengusap layar hpnya dan segera membuka galeri, dilihatnya dengan baik seperti apa bentuk pembalut yang akan di pakai istrinya.
Kali ini Gaara hanya mengambil satu bungkus pembalut merk XX dengan isinya yang banyak, membawa benda memalukan itu ke meja kasir dengan wajahnya yang suudah semerah kepiting rebus.
Eh, dia belanja pembalut?
Kenapa dia membelinya?
Uwaaa... manisnya..
"Kenapa kau melamun, cepat bungkus!" tandas Gaara dengan kesal.
"Ma- maaf tuan, segera saya bungkus.."
Selesai bertransaksi Gaara melangkah lebar dengan terburu-buru dia segera masuk ke dalam mobil, dan langsung tancap gas menuju ke hotel X.
Sepanjang perjalanan Gaara hanya menggerutu kesal, bagaimana bisa seorang tuan muda Sagaara Arjun Wijaya melakukan hal se-memalukan ini, membeli pembalut? Hm...
***
"Ini.." menggantung kantong plastik itu di udara.
"Terimakasih tuan, terimakasih.." segera Vely mengambilnya dan membawanya masuk ke bath room.
Hah, leganya... selesai memakai benda itu, Vely langsung mencuci wajah, tangan dan juga kakinya bersiap untuk tidur.
....
Keluar dari bath room, Gaara ternyata sudah rebahan di atas ranjang sembari bermain hp.
Entah apa, tetapi wajahnya terlihat berseri.
"Aku merindukan mu.." pesan terkirim.
"Tak semudah itu kau mengatakannya, tuan muda!" pesan di terima membuat Gaara menyeringai, Rani.. kau memang berbeda dari wanita manapun.. aku sudah tak sabar lagi ingin bertemu denganmu..
Segera dia men-delete semua isi pesan ataupun chatnya bersama Rani saat Vely naik keatas ranjang.
"Selamat tidur tuan.." semoga mimpi mu indah..
"Hm.."
Gaara mematikan total hp nya, meletakan benda itu di atas meja sebelah ranjang kemudian mematikan lampu dan segera tidur.