
Ars yang baru saja membuka mata, sebenarnya sudah dari tadi bangun sih hanya saja saat melihat Liora yang mau bangun, saat itulah Ars kembali memejamkan kedua matanya alias pura-pura tidur.
Dia malu kalau sampai Liora mendapatinya terjaga lebih awal. Bahkan Ars sampai menekuk wajahnya di atas meja, dia mendesah kesal.
Bagaimana caranya? Aku sama sekali tidak tahu.. apakah aku harus bertanya pada tuan muda? Ars kembali mengangkat wajahnya ke udara, lalu menggeleng.
Tidak, tidak! Aku bisa kehilangan harga diriku, ataukah aku harus bertanya pada nona muda? Diam sejenak kemudian menggeleng sembari menghela nafas, Mana mungkin, aku bisa di tertawakan nya..
***
Pagi menyingsing menyambut 2 insan yang masih terlelap dalam tidurnya. Hingga akhirnya mereka mendengar suara ketukan dari luar pintu.
"Tuan muda, nona muda.. maaf mengganggu, nyonya dan tuan besar meminta saya untuk memanggil tuan dan nona.." sekali lagi dia mengetuk pintu kamar.
Vely yang samar-samar mendengarnya pun segera bangun, tangan kekar yang melingkar di pinggangnya pun segera ia singkirkan dengan perlahan.
Eh?
Manik coklat itu menatap wajah Sagaara yang tertidur pulas, tapi mengapa dia masih mengeratkan pelukannya?
"Sayang, lepas dulu.. ada yang mengetuk pintu kamar."
"Tidak mau.." dengan suara serak ia berucap, "Awas saja kalau kau berani turun dari ranjang ini."
"Tapi sayang -"
Sagaara membuka kedua mata lalu menepuk bantal yang tadi di tiduri Vely, peringatan untuknya agar kembali berbaring.
"Sayang -"
"Tidak mau menurut?"
Mau tak mau Vely pun kembali berbaring di sebelahnya, dan Sagaara kembali memeluknya. Menempatkan pucuk dagu nya di pundak Vely.
"Aku sangat tidak suka dibantah, apalagi sampai di lawan. Kau bukan orang yang baru mengenalku, kau istriku.. jadi menurutlah.."
Sagaara mengangkat wajahnya hingga sejajar dengan wajah Vely, manik hitamnya menatap wajah polos yang begitu manis.
"Aku mencintai mu.." ucap Sagaara kemudian mengecup keningnya.
"Sayang, ayo kita mandi.."
"Kalau begitu buka dulu pintunya, kasihan pelayan itu sudah menunggu."
"Ck!" menghela nafas kesal, dia turun untuk membuka laci menarik selembar kertas dan meraih polpen, menuliskan sesuatu di atasnya.
"Apa yang kau tulis sayang?"
"Diam dan lihat saja. Setelah ini tidak ada lagi yang berani menganggu kita." dia menyeringai, membuat Vely merinding.
"Apa.. apa yang kau rencanakan sayang?"
"Hehehe.."
Sagaara memperlihatkan buah karyanya SEDANG SIBUK, JANGAN GANGGU!!!
"Aaa.. sayang kenapa tulisan mu jelek sekali seperti tulisan anak TK!" seru Vely lalu tertawa.
"Apa? Hei kurang ajar sekali kau ya, berani sekali menghina tulisanku.." Sagaara sekarang punya alasan untuk melahapnya, dia naik merangkak ke atas ranjang lalu mengurungnya dalam kungkungan tubuh kekar berbalut piyama.
"Sekarang terima hukuman mu dengan tenang.."
Vely menggeleng lalu memukul pelan dada bidang suaminya, "Tidak mau, sayang lepaskan aku.. kenapa juga aku harus di hukum? Tulisan mu juga yang aneh seperti itu."
"Hei.." Sagaara menggesek hidung mancungnya di hidung Vely, "Jika aku tak menjadi CEO maka tulisan ku akan lebih bagus lagi.. karena tulisan ku seperti itu makanya aku bisa jadi CEO."
Tiba-tiba Sagaara bicaranya ngelantur, bicara soal masa depan anaknya. "Aku ingin anak lelaki yang akan mewarisi semua kekayaan ku."
"Anak lelaki? Jika anak perempuan?"
"Dia akan menjadi wanita yang sukses dan menjadi secantik dirimu.." kecupan lembut ia berikan hingga menghujani wajah Vely.
Dan pagi itu pun berakhir dengan yang hangat-hangat 🤭🤭🤭
###
Siapa nih yang suka cerita romantis? Angkat kakinya ya. eh salah, maksudnya angkat tangan.
salam santuy dari nona 🥰