Contract Marriage

Contract Marriage
Ch.81


Nan yang melihatnya pun sedikit banyak dia mengerti permasalahan apa yang terjadi di antara tuan dan nona mudanya, "Tuan muda, apakah tuan sedang -"


"Keluar!"


Nan mengangguk patuh, "Baik tuan muda.. saya pergi dulu.."


"Hm.."


Di dalam kamar Vely menangis, dia menyesal telah menggunakan alat kontrasepsi. Segera dia menghapus air matanya saat mendengar suara pintu.


Vely menatap wajah Gaara yang sulit di artikan, "Sayang?" dia menghampiri Gaara dan memeluknya.


"Maaf, atas perlakuan ku tadi.." Gaara menepuk pelan wajah Vely dengan kedua tangannya, "Percayalah, aku tak ingin hal buruk terjadi padamu.."


"Aku tahu, tapi kita masih bisa mencobanya kan?"


Gaara menjauhkan dirinya lalu memalingkan wajah, "Mulai sekarang jangan lagi membahas soal kehamilan, jangan membuatku mengambil keputusan yang sulit.. aku bisa gila jika hal itu terjadi!" pekik Gaara terdengar emosi.


"Sayang -"


Saat Vely mau menyentuh lengan Gaara, pria itu menggerakkan tangannya ke udara hanya di setengah dada.


Sebuah isyarat untuk Vely agar tetap diam di tempatnya.


"Aku lelah, jadi tolong jangan membahas hal yang bisa membuat ku gila."


Vely mengusap air matanya, siapa yang bisa menolongnya untuk meyakinkan sang suami? Jika hamil dan melahirkan itu bukanlah hal yang buruk.


***


Malam menyapa kedua insan yang lelah dengan perdebatan pemikiran masing-masing, malam ini Gaara tidur di kamar tamu tidak mau tidur sekamar dengan istrinya.


Mungkin karena takut jika tak bisa menguasai hasrat nya, di kamar tamu Gaara membaringkan tubuhnya dengan posisi telentang.


Melipat kedua tangannya di belakang kepala sebagai tumpuan, menatap lurus pada langit-langit kamar.


Masih penasaran dengan yang namanya proses melahirkan, membuat Gaara berselancar di YouTube.


Di penuhi rasa sakit dan bersimbah darah, Sial! Kenapa semengerikan ini.. Gaara menekan tombol kecil di sisi kiri hp membuat layarnya mati.


Kalian pasti tahu kan bagaimana rasanya menjadi tuan muda Gaara? Baru saja dia mengenal cinta, tapi jika harus di hadapkan dengan pilihan seperti itu.. sehebat apapun dia dalam menggenggam kekuasaan tetap saja tak akan bisa menenangkan hatinya.


Sementara itu, Vely masih duduk diam di atas ranjang kamarnya.


Aku harus melepaskan alat kontrasepsi ini, akan ku buktikan jika sebuah kehamilan dan melahirkan itu tak seburuk apa yang di bayangkan nya.


Bahkan sepanjang malam mereka tak bisa tidur, karena keduanya disibukan dengan pemikiran masing-masing.


***


Pagi ini tuan muda Sagaara berangkat ke kantor lebih awal, bahkan sebelum Vely terbangun akibat rasa kantuknya yang luar biasa.


Sekitar jam 10 pagi Vely terbangun, dia segera masuk ke bath room untuk membersihkan diri.


----


Di ruang kerja CEO, Gaara sejak tadi hanya murung saja.


"Tuan membutuhkan sesuatu?" seru Ars membuka suara.


"Mengapa kehamilan dan melahirkan itu, terlalu mengerikan?"


Ars tersenyum, "Karena hal itu membuat seorang wanita menjadi lebih sempurna."


Gaara membelalak, dia menatap heran pada sekretaris nya, "Ars?"


Ars mengangguk, "Seperti daun yang berguguran, maka akan ada daun baru yang menggantikannya agar selalu bisa membuat mata memandang nya dengan indah. Begitu juga dengan kehidupan. Akan selalu ada kehidupan yang baru di dunia ini tuan.."


"Tuan tidak perlu memikirkannya seorang diri, apa yang seharusnya terjadi biarkanlah terjadi.." lanjut Ars, meyakinkannya.


Gaara hanya diam saja, hanya terdengar helaan nafas yang membuat dirinya bingung.