
Vely mengangguk menuruti semua yang di katakan sang suami. Manik coklat itu menatap lekat punggung lebar yang menjauh dan hilang di balik pintu.
Selang beberapa menit kemudian hp Vely berdering, telefon masuk dari nomor baru.
Siapa yang menelefonku? "Hallo?"
"Vely sayang.." ternyata mommy, "Anak sialan itu bisa-bisanya mengganti nomor hp mu, membuat mommy sulit menelefon mu.. dimana dia?" seru mommy penuh emosi dari ujung telefon.
"Mmm... mommy, jangan marah se- sebenarnya hp Vely hilang dan semua nomor yang ada juga ikut hilang jadi ini bukan kesalahannya.."
"Oh ya ampun, setelah bulan madu kalian bahkan belum datang ke rumah.. malam ini mommy dan daddy yang akan datang ke vila.. kau jangan memberitahunya ya."
Eh lah ternyata di dalam mobil yang sedang di kemudikan Gaara, di telinganya sudah terpasang earphone bluetooth. Kecanggihan tekhnologi membuatnya bisa menguping.
Dasar mommy, mengganggu saja.. seperti tidak pernah merasakan masa muda. Tapi anehnya tuan muda malah tersenyum selama mendengar obrolan istri dan mommy nya.
"Oh ya bagaimana, apakah sudah ada tanda-tanda?"
"Tanda-tanda?"
"Iya.. hamil.."
Wajah Vely merona merah, "Be- belum.."
"Oh astaga, sepertinya teknik kalian kurang.. bagaimana jika mommy ajari -"
Daddy yang kebetulan duduk di sebelahnya langsung merampas hp itu, "Kalau bicara jangan sembarangan, itu hak mereka mau cepat atau lambat untuk memiliki momongan."
Perdebatan orangtua mereka membuat Vely dan Gaara tersenyum, semoga kebahagiaan ini tidak untuk sementara.
Gaara segera mematikan hp nya saat sudah sampai di kafe 11 Anggur. Di dalam bagian sudut kafe Rani sedang duduk menanti kedatangannya.
"Sayang..." seru Rani langsung beranjak dari duduknya, dia mendekat lalu memeluk Gaara.
Wajah pria yang dulu tergila-gila padanya, saat ini terlihat dingin dan datar.
"Sayang, kenapa?"
Gaara menaikan satu alisnya, diam sejenak lalu menghela nafas. "Aku kalah!"
Eh?
"Pertaruhan ini kau yang memenangkannya, aku mengakui ke kalahanku.. sudah jelas?" Gaara mendekatkan bibirnya di telinga Rani, "Menjauh dariku! Dan... jangan coba-coba untuk menyentuh istriku!" menyeringai, "Atau kau tak akan mampu menanggung akibatnya!"
"Aku mencintaimu.. kenapa.." bergetar, "Lagi pula kalian baru 6 minggu menikah, masih ada 6 minggu lagi pasti perasaanmu akan berubah, dan saat itu tiba kau tahu pasti siapa yang kau cintai.. aku, hanya aku yang kau cintai.." ucap Rani dengan tak tahu malunya.
Sial!! Tak ada seorangpun yang boleh menolak ku, sekalipun itu kau! Tidak akan ku biarkan!
Dengan berani Rani merobek baju di atas pundaknya, "Tolong!! Tolong!! Dia mau menodai ku, seseorang tolong!"
Orang-orang pun datang untuk melihatnya, tapi bukan Sagaara namanya jika tidak bisa menyelesaikan masalah sekecil ini.
Tatapan dinginnya seolah sedang memanggil malaikat pencabut nyawa, bahkan pemilik kafe yang kebetulan ada di situ langsung bersimpuh di kakinya.
"Tu- tuan Sagaara.. tolong jangan menutup kafe kecil saya."
"Kau tahu apa artinya jika ada yang berani membuatku tidak nyaman, apalagi sampai seperti ini.."
"Tuan Sagaara, saya mohon.. saya yang akan mengurus wanita itu untuk anda." lalu berdiri, "Apa yang kalian lihat, cepat pergi.. keluar dari kafe ku.."
Suasananya sudah sepi, hanya menyisakan tuan muda Sagaara, pemilik kafe, dan Rani.
"Lakukan saja sesukamu, aku tidak peduli! Tapi awas saja jika dia masih muncul di hadapanku!"
"Ba- baik tuan, saya jamin hal itu tidak akan terjadi."
Pemilik kafe yang di ketahui bernama Rian itu pun menyeringai menatap Rani dari ujung kepala hingga kaki.
"Ma- mau apa kau? Menjauh dariku.. jangan mendekat.." pekik Rani.
"Bukankah kau tadi mengatakan tuan muda ingin menodai mu? Bagaimana jika aku yang meneruskannya.. hehe.." menyeringai preman.
Gaara hanya menggeleng, "Kabari aku jika sudah selesai!" berbalik badan dan melenggang pergi.
"Baik tuan, baik.." senang, dirinya semakin senang lagi saat menatap wanita cantik di depannya. "Ayo kita bersenang-senang."
Rian menarik Rani hingga ia terseret ke dalam sebuah ruangan, dengan segala kekuatan dia mencoba melawan tetapi tak bisa.
"Brengsek, lepaskan aku! Lepaskan! Jangan!!"
Dia kalah tenaga, dan jadilah pada hari itu menjadi saksi bisu atas hilangnya kesucian Rani di tangan seorang Rian.
"Mulai hari ini kau adalah wanitaku, kapan pun dan di manapun aku ingin menikmati tubuhmu maka kau harus menurut, atau aku akan menyebarkan rekaman cctv itu ke media!"
Sekali lagi dengan brutal Rian menggagahinya, meninggalkan banyak jejak kepemilikannya di sekujur tubuh Rani.
"Ingat, jangan sampai kau menganggu nona muda!"
Sekuat tenaga dia mengguncang tubuh Rani, dimana wanita itu sudah kesakitan, namun tak lama kemudian Rani juga menikmati permainan Rian.
Rasa sakit dan nikmat sudah bercampur aduk menjadi satu.