Contract Marriage

Contract Marriage
Ch.42


Malam panjang belum berlalu saat Gaara telah terlelap di dalam tidurnya, Lovely yang masih terjaga pun beranjak turun dari atas ranjang.


Memilih untuk keluar kamar dan mencari angin segar di luar. Masuk ke dalam lift dan tak sengaja bertemu dengan Keanu.


"Tuan Kean?"


"Lovely, kenapa kau berada di luar?"


"Tidak bisa tidur, karena itu aku keluar untuk mencari angin.."


"Hm begitukah.. mau minum kopi?"


Lovely mengangguk, "Iya, segelas kopi mungkin lebih baik.."


Ting!


Pintu lift terbuka dan segera mereka melangkah bersama menuju kedai kopi yang ada di sebrang jalan hotel.


Saat ini waktu sudah menunjukan pukul 09.00 malam, saat hendak menyebrang Keanu memberanikan dirinya untuk menggenggam tangan Vely agar lebih mudah untuk membawanya menyebrang.


"Ayo.."


"I- iya.." wajahnya merona merah karena malu.


Setelah sampai di kedai dan memesan 2 gelas kopi, mereka duduk berhadapan. Kedai yang cukup setrategis tempat penjualan nya di tepi jalan dan di suguhkan dengan keramaian lalu lintas memang tak akan membuatmu bosan menunggu.


Datang sore, tahu-tahu mentari pagi sudah terbit saja di ufuk timur.


"Permisi tuan dan nona, silahkan kopi nya di nikmati.." seru si penjual.


"Terimakasih pak.." balas Vely dan Keanu bersamaan.


Menyeduh kopi panas dan sesekali saling mencuri pandang membuat keduanya hampir tersedak.


"Setelah acara ulang tahun bibi Alea dan pernikahan mu, ini pertama kalinya kita bertemu lagi, benar?"


Tuan Kean benar, "Iya.. tuan Keanu kenapa bisa ada di kota ini?"


"Em.. Keanu.. Kean.." ucapnya lirih.


"Ya seperti itu.."


Sedang asyik mengobrol di kedai kopi, ternyata tuan muda Sagaara memergoki mereka dari sebrang jalan.


Tangan nya sudah terkepal erat, dia melangkah dengan seribu amarah. Dasar upik abu, bukankah aku sudah memperingatkan mu berkali-kali!


Kean dan Lovely sedang tertawa bersama entah apa yang mereka perbincangkan, sepertinya itu adalah hal yang lucu.


"Upik abu!" seru Gaara meneriaki nya, membuat Vely tergelak dan langsung berdiri tepat di hadapan Gaara.


Pria itu menatap benci padanya, plak!


Kean, bahkan penjual kopi itu saja sampai terkejut dengan apa yang di lakukan Gaara.


"Sagaara!" seru Kean dengan intonasinya yang meninggi, "Kau seorang pria tak sepantasnya bermain tangan dengan istrimu sendiri!"


"Hm.. istri?" terkekeh, "Kau menyebut perempuan ini sebagai istriku?" mencengkram rahang Vely sembari menatap wajahnya dengan lekat.


"Kau tahu dia istriku, lalu kenapa kau mengajaknya keluar di malam hari? Apakah itu perbuatan yang pantas di lakukan oleh seorang ipar?" lanjut Gaara dengan pertanyaan menohoknya.


Gaara, ku mohon berhentilah bermain dengan api yang kau percikan sendiri. Demi apapun Gaara.. sebelum kau menyesalinya.


"Sagaara.." suara Kean mulai datar dan terdengar dingin. Ia membelalak saat melihat langsung Gaara menarik Vely ke dalam pelukannya.


"Hm?" sahut Gaara dengan lebih datar dan dingin, dirinya terlihat begitu santai menjawab.


"Kean, tolong hentikan.. terimakasih untuk segelas kopinya -"


Gaara tak bisa mendengar semua kata manis itu meluncur dari mulut Vely untuk pria lain. Dia menyeret istrinya sendiri dan kembali ke hotel.


"Tuan, sakit.." pergelangan tangannya memerah namun tak bisa berbuat apa-apa.


Tangan kekar itu masih terus menyeretnya menyebrangi jalan, hingga kembali ke dalam kamar.