
Satu bulan berlalu dan sekarang pembangunan proyek milan sudah hampir di rampungkan, bangunan itu telah mencapai 87% tahap pengerjaan.
13% lagi bangunan Milan yang megah akan bisa di nikmati.
πππππ
Pagi yang cerah dengan udara segar yang ia hirup, Vely terlihat sedang berdiri di balkon kamar dengan perutnya yang membuncit.
Usia kandungannya kini sudah masuk empat bulan, lima bulan lagi dia akan memasuki masa persalinan.
Dirinya mengerjap saat merasakan pelukan hangat Sagaara dari belakang, tangan kekar itu juga tak mau kalah dan langsung mengelus perut buncit Vely.
"Bahkan jantungku selalu berdebar-debar saat menantikan bulan berganti.." ucap Sagaara sembari mencium pipi tembem istrinya.
"Benarkah?"
"Hm.. aku sudah tak sabar lagi ingin bertemu dengan calon anak kita."
"Sayang bukankah nanti malam sudah waktu nya kita untuk USG?"
"Aaa.. benar, aku bahkan hampir lupa.. aku akan membuat janji terlebih dahulu dengan dokter Kikan."
Vely mengangguk, "Iya, tapi jangan memaksanya ya.. tidak boleh menggunakan kekuasaan mu π"
"Hm.. sejak kapan istriku ini menjadi sangat cerewet sih?"
"Hehe.."
Sagaara segera masuk kembali ke kamar untuk meraih hp yang tadi ia cas di atas nakas, jemarinya berselancar di keyboard hp.
"Malam ini kami akan ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya." pesan terkirim dan langsung ia matikan kembali layarnya, tanpa perlu menunggu jawaban dari dokter Kikan.
Toh disana tak ada dokter mana pun yang berani menentangnya, sekalipun itu Hamish.
***
Jack sepagi ini sudah tiba di lokasi pembangunan proyek milan, mobil yang ia parkir kan itu tepat bersebalahan dengan mobil baru milik Arsya.
"Wah, mobil baru siapa ini?"
Jack menoleh kesana kemari dan mendapati Ars sedang berbincang dengan Liora, rupanya dia tak bekerja sendirian βΊοΈ
"Tuan!" seru Jack dari area parkir sembari melambaikan tangannya ke udara, Siapa wanita yang sedang bersamanya?
Ars pun mengangguk, lalu berbisik pada Liora.
Eh?
Entah mengapa kalimat itu terdengar seperti sebuah peringatan keras untuknya.
"Dengar?!" wajahnya nampak dingin.
"E- emh.." Liora mengangguk pelan lalu memberanikan diri untuk menatap manik birunya.
"Baiklah sayang.. aku kembali duluan.."
"Hm.."
Sikap dingin Ars mampu membuat wanita itu menelan, bahkan saat Jack berjalan mendekat ke arah mereka dan mencoba untuk memberi salam pertemuan.. dengan cepat Liora memberikan Ars bow dan segera pergi tanpa menatap Jack.
Dari apa yang Jack lihat, dia bisa menduganya jika pria yang sedang berdiri menatap punggung ramping wanita itu sedang di landa rasa khawatir akan sesuatu.
"Tuan, kenapa wanita itu pergi dengan cepat? Bahkan aku belum memperkenalkan diri."
"Jangan mendekatinya, dia bukan wanita untuk kau dekati!"
Ops! Caranya dalam menjaga hubungan mereka agar terhindar dari orang ketiga emang safety yang agak gimana gitu ya kawan, cuma ya gitu deh.. namanya juga Arsya π€
"Dia cantik.." sengaja Jack mengatakannya, tahu respon seperti apa yang diberikan Ars?
Pria itu hanya memperlihatkan wajah datar dengan lirikan matanya yang tajam pada Jack.
"Aaah.. aku hampir lupa, proyek ini dalam waktu dekat akan selesai."
Jack yang sadar jika pernyataannya telah memancing rasa cemburu seorang sekretaris Ars pun, Jack langsung mengalihkan pembicaraan.
"Lakukan pekerjaan mu dengan benar.. aku masih banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan." menepuk pundak Jack perlahan tapi pasti, dia menguatkan cengkraman nya hingga membuat Jack meringis sakit. "Jaga pandangan mu!" ucapnya dengan lirih namun dengan banyak tekanan.
Uuuhh..tuan Ars tolong jadikan aku sebagai kekasih mu π₯°π€ @readers
BERSAMBUNG