
"Nan cepat minta pak An untuk menyiapkan mobil, istriku Nan.. istriku.."
"Tuan tenang lah.."
Nan berusaha untuk menenangkan tuan mudanya, yang sudah di rundung kepanikan luar biasa.
"Istriku mengeluh sakit, dia pucat dan bibirnya membiru.."
"Apa?" ikut panik.
"Kenapa kau masih diam, cepat beritahukan pak An.."
"Ba- baik tuan.."
Sagaara pun langsung kembali ke kamar, "Sayang.. katakan padaku, bagian tubuhmu mana yang sakit?!" suaranya gemetar, kedua sudut matanya bahkan sudah basah.
"Sakit.. perutku.."
Sagaara memungut kembali piyama yang berserak di lantai, memakaikannya pada Vely lalu menggendongnya.
Dengan tergesa tapi penuh kehati-hatian dia membawanya menuruni anak tangga, Agatha yang baru saja bangun dan keluar kamar tehenyak.
"Sagaara!"
Pria itu hanya menoleh tapi tak menghentikan langkahnya, "Hei Sagaara, apa yang terjadi pada istrimu?"
"Menyingkir lah, dia kesakitan.. aku mau membawanya ke rumah sakit."
"Apa?" ikut panik, "Aku ikut."
Yah, kedua wanita itu sama-sama memakai piyama. Masuk ke dalam mobil dimana Sagaara membaringkan tubuh istrinya di jok belakang bersama dirinya yang juga ikut duduk memangku kepala Vely.
Sedangkan Agatha, dia duduk di dekat jok kemudi.
"Pak An, cepat jalan.." seru Agatha.
"Baik nona.."
Mobil pun melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.
"Agatha, kau membawa hp? Hp ku tertinggal di kamar."
"Aaa! Hp ku?" sedih, "Aku juga meninggalkannya.. bagaimana ini?"
"Pak An, bagaimana dengan mu?"
"Saya membawanya tuan.."
"Bagus, kemari kan hp mu.."
"Hallo, Ars susul aku ke rumah sakit.. segera!" lalu mematikan telefonnya.
***
Menempuh perjalanan dengan kecepatan tinggi maksimal, akhirnya mereka sampai juga di rumah sakit.
Sagaara membuka pintu mobil dan segera turun dengan menggendong istrinya, bahkan sebelum pak An melakukan tugasnya sebagaimana dia biasanya.
Sagaara mempercepat langkah kaki nya, wajahnya begitu panik.
"Hamish! Hamish!"
Suaranya terdengar menggema di lorong rumah sakit yang tak jauh dari ruangan dokter Hamish.
Suster dan juga dokter yang bertugas berlarian keluar, "Tuan, ada apa?"
"Dimana Hamish?"
"Dokter Hamish sedang cuti, tuan.. biar kami yang menangani.."
"Cepat panggil dia, aku ingin orang itu yang memeriksa istriku.."
"Tuan tolong mengertilah, kita tidak bisa memanggil petugas medis yang sedang cuti untuk bekerja.. itu sudah -"
Mendengar dokter baru itu berucap demikian, Sagaara lekas meletakan tubuh Vely di atas bed. Lalu dia menarik kerah kemeja dokter pria bernama Haris dengan kasar, kemudian melayangkan tinjunya di sudut bibir Haris hingga berdarah.
Haris memekik kesakitan, "Aargh!!"
"Brengsek! Siapa kau berani-beraninya bicara seperti itu! Kau sudah bosan hidup, hah!!" bentakannya membuat gaduh.
Untung saja Ars cepat datang dan melerai saat tuan muda hendak kembali melayangkan tinjunya.
"Tuan, hentikan!!"
Ars berdiri di antara mereka berdua, "Tenangkan lah diri anda tuan.. sekarang ini keadaan nona sedang gawat, dan tuan muda masih sempat membuat keributan? Bisa-bisa nyawa nona melayang!"
"ARS!!!" intonasi nya meninggi, ini pertama kalinya Agatha melihat kemarahan Sagaara dan keberanian sekretaris Ars.
"Maaf tuan, siapa pun yang bertugas disini maka dia yang harus melayani setiap pasien yang datang.." kemudian Ars menatap sigap pada Haris, dengan segala kerendahan hati Ars memberikan nya bow.
"Tolong maafkan tuan muda, sebagai gantinya saya akan memberikan kompensasi kepada anda." lanjut Ars.
"Ti- tidak perlu tuan.." ucap Haris.
"Tuan, biarkan dokter ini memeriksa kondisi nona muda.." berwajah datar.
Dada si tuan muda sudah bergemuruh hebat, "Sialan!!" umpatnya sembari menendang filing kabinet mini di dekatnya hingga rebah.