
Keluar
sebentar hanya untuk membeli sebuah cincin pernikahan, dan segera pulang ke
hotel.
Di tengah
jalan mendadak perut tuan muda berbunyi, jadi dia memutar haluan menuju sebuah
restauran cepat saji.
"Tuan,
kita mau kemana?"
"Makan,
memangnya perut kampungan mu itu tidak lapar?"
Vely diam
tak mau menjawab, memilih untuk menatap pemandangan di luar jendela kaca mobil.
"Kenapa,
tidak terima?"
Terserah kau
sajalah, apapun yang kau lakukan tetap saja kau tak pernah salah.
Mobil sampai
di parkiran, "Cepat turun, atau kau mau menunggu di dalam mobil?"
"Saya
menunggu di mobil saja, tuan.."
"Hm.."
______
Tuan muda
sedang asyik menyantap menu makan siang nya yang mewah, hampir satu jam Vely
menunggu di dalam mobil.
Karena bosan
Vely mencoba untuk keluar dan menghirup udara segar, duduk sebentar di gazebo
resto sembari menikmati pemandangan jalan yang ramai akan lalu lintas.
Wajahnya
yang cantik dan manis, serta rambut yang terurai cukup menggoda dua pria yang
baru saja memarkirkan mobil nya.
"Hei
kau, lihat wanita yang sedang duduk sendirian di gazebo itu?"
Pria bertato
di bagian pelipis, sebut saja Mao. "Wah sepertinya siang ini adalah nasib
baik untuk kita." turun dari mobil lalu menutup pintu nya,
"Ayo."
Kedua pria
itu berjalan dengan tergesa-gesa sembari menyeringai jahat.
"Hei
nona.. sendirian saja? Mau kami temani?"
Siapa
mereka? Kenapa menatapku seperti itu?
Lovely tak
menjawab dan memilih untuk segera masuk ke dalam mobil. Namun sialnya Mao
berhasil mencengkram tangannya.
"Hei
ayolah jangan terburu-buru, kau ini jadi wanita sombong sekali ya.."
Tangannya
menjepit dagu Lovely, yang dengan cepat di tepis.
"Lepas,
jangan menyentuhku se enaknya.. tolong jangan kurang ajar, tuan.."
"Haha.."
pria yang satunya, Shin Dan tertawa.
"Dan,
kau mendengarnya? Wanita ini mengajariku tentang sopan santun.." terkekeh.
"Tuan
tolong lepaskan saya.."
"Melepaskan
mu, tentu.." mendekatkan wajahnya di wajah Lovely, "Cium dulu."
Plak!
Satu tangan
Lovely melayang menampar wajah Mao.
"Brengsek!"
tandas Mao sembari mencekik leher jenjang Vely.
"Aaa.." sakit!! Sekuat tenaga Vely berusaha meloloskan diri dengan mengayunkan
kaki nya di tengah-tengah kaki Mao.
"Aaarghhh!!"
"Jangan
kabur, kau sialan!" seru Shin Dan yang juga ikut berlari mengejarnya.
Lari
kemanapun asalkan tidak tertangkap oleh pria berhidung belang.
dalam sebuah bangunan tua tak berpenghuni, keringat peluh bercucuran di sekujur
tubuhnya.
Vely
menyandarkan tubuh nya di balik dinding besar, duduk dengan menjulurkan kedua
kaki nya. Mencoba mengatur nafas yang tersengal sembari meredakan rasa dada nya
yang bergemuruh hebat.
"Kemana
wanita sialan itu?" seru Mao dengan suaranya yang menggema di bangunan tua
ini.
Vely yang
mendengarnya semakin gugup dan takut, dia berdiri di atas kedua kakinya yang
gemetaran.
Bagaimana
ini.. aku harus lari kemana lagi?
Shin Dan
yang berdiri di sisi kanan, beruntung sekali dia bisa melihat punggung indah
seorang Lovely. Pria itu melangkah perlahan bahkan hentakan sepatu nya saja tak
terdengar.
Seolah
sedang berjalan menapaki udara, kedua tangan kekarnya memeluk Vely dari
belakang dan sontak membuatnya berteriak histeris lalu menangis.
"Aaaaa!!!
Lepaskan aku, lepaskan!!" Vely meronta-ronta memohon, namun Shin Dan tak
mempedulikan nya.
Tak ingin
menyerah, Vely menggigit kuat lengan nya dan berhasil melarikan diri lagi.
"Aarggh!!
Kau menggigitku, sialan!"
Langkah kaki
Vely terhenti saat dirinya terkepung, Mao dengan tatapan mesum nya telah
berdiri di hadapan Vely.
Sementara
Shin Dan sudah berdiri tepat di belakang nya.
Tolong
aku... tuan muda..
Brak!
Suara mobil
yang menabrak sesuatu dengan nyaring membuat mereka bertiga menoleh secara
bersamaan ke sumber suara.
Mobil itu
tak sendirian, semenit kemudian satu mobil lainnya sampai bersamaan.
Seorang pria
kekar dengan luka di pipi kirinya turun dari mobil, membukakan pintu mobil
untuk tuan muda Gaara.
Pria itu
menatap Mao dan juga Shin Dan dengan tatapan mematikan.
"Bos
Longe?" seru Shin dan Mao bersamaan memanggil pria yang terdapat luka pipi
kirinya.
Gaara menaikan
satu alis nya, "Longe mereka mengenalmu? Mereka sudah berani membuat
wanitaku ketakutan!" melirik Longe dengan ekor matanya.
Hah, kenapa
pria itu mengenali bos Longe? Siapapun di kota ini tak ada yang berani
berbicara langsung dengannya! Seru Shin dan juga Mao bersamaan di dalam hati
mereka.
"Mm..
ma- maafkan saya tuan muda.. ini semua karena kebodohan saya dalam
mendisiplinkan wilayah kota Liu-Liu."
Air mata
Lovely tiada hentinya menetes, dia berlari cepat lalu menabrakkan tubuhnya
memeluk Gaara.
Tubuhnya
masih gemetaran, nafasnya sedikit berat. Gaara pun membalas pelukannya.
"Tenanglah,
tidak akan ku biarkan siapapun menyentuhmu.. Longe? Kau tahu seperti apa
sifatku, kan?"
"Ah,
haha i- iya tuan muda.." menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "Saya
akan mendisiplinkan mereka dan menjamin tak satupun di antara mereka yang dapat
melupakannya." menyeringai iblis membuat kedua pria itu ketakutan dan
berkeringat dingin.