Contract Marriage

Contract Marriage
Arsya (3)


Keluar dari toko bunga, Ars segera masuk ke dalam mobil dan kembali melajukannya menuju sebuah toko coklat.


Buket bunga yang di taruh dengan sangat aman di jok sampingnya, bahkan sampai di pasangkan sabuk pengaman lagi 😂


Biarlah, biarlah, jangan ganggu dia. Selagi Ars mencari coklat mari kita berpindah sejenak ke vila tuan muda.


***


Di dalam kamar sepasang suami istri itu masih disibukan dengan kegiatan mesra dan hangat mereka di atas ranjang.


Jemari mereka saling meremas, penuh cinta manik mereka saling memandang.


Vely melepaskan remasan tangannya kemudian memeluk suaminya yang masih setia menggahi nya dengan cara yang mengagumkan.


Lenguhan kecil itu pun akhirnya lolos juga dari bibir tipis Vely, "Sayang.." suaranya melemah lembut.


"Tahan sebentar lagi.."


Lenguhan terkahir yang saling bersautan itu mengakhiri kegiatan mereka, Sagaara mencium kening dan bibir istrinya dengan lembut.


"Ayo kita mandi.. sebentar lagi Nan akan datang membawakan makan siang untuk mu.." tapi Vely menggeleng, dia memiringkan tubuhnya agar dapat memeluk suaminya.


"Kenapa?" lanjut Sagaara yang juga membalas pelukannya, "Kau tidak mau makan buatan chef di vila?"


"Aku mau makan soto daging.."


"Kau sangat ingin?"


Vely mengangguk, "Emh.. iya sayang, aku mau.."


"Jika kau memang sangat ingin, cepatlah mandi.. setelah mandi baru kita akan membelinya."


"Oke, boss.." dengan semangat Vely segera duduk lalu turun untuk meraih kimono mandinya.


Soto daging yang membuat siapa pun akan sangat ingin memakannya, apalagi kondisi Vely yang saat ini sedang berbadan dua.


Kini usia kandungannya sudah memasuki 2 bulan, 7 bulan lagi dia akan merasakan yang namanya persalinan.


....


Vely sudah bersiap rapih dengan blouse corak bunga, rambut yang selalu ia biarkan terurai pesona wanita hamil membuat Sagaara yang melihatnya begitu ingin menciumnya.


Sagaara yang juga sudah bersiap rapih dengan kemeja hijau lumutnya, segera menghampiri Vely dan menabrakan bibirnya di bibir Vely.



Tangan pria itu memang nakal dan tak bisa diam, Sagaara kembali menyusupkan tangannya masuk ke dalam pakaian sang istri.


Vely sudah mau melepaskan ciumannya tapi tangan Sagaara yang satunya lagi ia gunakan untuk menekan tengkuk wanitanya.


Dia tak mengizinkan Vely menyudahi kegiatan mereka ini, jemari Vely mencubit lengan kekar Sagaara dan berusaha memberinya kode jika dirinya hampir kehabisan oksigen.


Karena tak mendapat respon akhirnya mau tak mau Vely pun mengigit bibir Sagaara, hingga akhirnya ciuman mereka terlepas.


"Aw!" matanya menyipit lalu tangannya mencubit pelan pipi Vely "Kenapa kau menggigit ku sayang?"


"Aku sudah mau kehabisan nafas, tapi kau malah menikmatinya.. jika aku kehabisan nafas bagaimana? Kau senagaja melakukannya?" Vely meraih bantal di sampingnya lalu memukulkannya tepat di bahu Sagaara dengan cemberut.


"Hei, kau berani memukulku?" bantal itu ambil alih dan melemparnya hingga ke ujung ranjang. Sagaara menarik kaki Vely menahannya lalu menggelitiknya.


"Aaa... tidak, tidak, geli.. maafkan aku sayang, maafkan aku.." Vely tertawa geli di buatnya.


"Sekarang baru meminta maaf? Hm, tak ada kata maaf untukmu."


"Aaa.." Vely refleks menjambak rambut tuan muda garang itu hingga kepalanya tertarik mengikuti arah jambakan.


Hal itu membuat Vely takut setelah ia menyadari ke kurang ajarannya barusan.


Satu tarikan tangan Sagaara membuat tubuh mungil itu terjerembab di bawah tubuhnya, "Lihat, kau benar-benar sudah kurang ajar ya.." menyeringai.


"Aa tidak, sayang maafkan aku.. itukan salahmu sendiri -"


Sagaara kembali membungkam bibirnya dengan lembut.