
Sagaara mendudukan tubuhnya dengan lemas, tak lama kemudian Hamish dan Ars datang mendekatinya.
Setelah suasananya sedikit tenang, Hamish meraih tangan Sagaara yang terluka. Dia mengeluarkan suntikan untuk menghilangkan rasa sakitnya saat di jahit.
Namun, Sagaara malah menepis tangan Hamish.
"Jika kau ingin menjahit luka ini, maka jahit lah tanpa obat -"
"Apa yang tuan katakan?" seru Ars yang langsung memotong.
"Lakukan Hamish, aku tidak akan marah."
Sagaara seolah tak menggubris Ars, dia benar-benar marah padanya.
"Apa lagi yang kau tunggu? Kapan lagi kau mendapatkan kesempatan untuk membalas ku? Bukankah aku ini pria yang sangat egois dan menyebalkan?" suaranya lirih bergetar, sementara air matanya masih terus menetes dan hal itu membuat Ars menggigit kecil bibir bawahnya dengan kuat.
"Tuan -"
"Pergilah, tidak ada gunanya juga kau disini!" pinta Sagaara tanpa menatap Ars yang tengah berdiri di sampingnya.
"Saya tidak akan pergi tuan.."
Sagaara diam, lalu dengan kuat ia menghela nafas kemudian berdiri sembari mengayunkan tinjunya tepat di sudut bibir Ars hingga berdarah lebam.
Hamish bahkan merasa ngilu saat melihatnya tapi bahkan ia bisa menjadi lebih dari sekedar ngilu saat melihat Ars hanya diam saja.
Padahal dia bisa menghindarinya, namun Ars memilih untuk tetap diam di tempatnya.. dan menerima tinjuan itu dengan senang hati.
"Sialan kau Ars!" Sagaara menarik kasar kerah jasnya, mendorong Ars dengan kuat, "Sialan kau! Kenapa kau melihatku dalam keadaan termenyedih kan ini!" pekik Sagaara, seumur hidup ia bahkan tak pernah menangis di hadapan Ars.
Sagaara tiada hentinya memaki sekretarisnya, hingga ia terduduk lemah dan segera Ars memeluknya.
Matanya pun ikut memerah menahan kesedihan yang dirasakan tuan mudanya ini.
Tangannya terkepal erat di balik punggung kekar tuan muda, ia bersumpah atas nyawa nya sendiri bahwa pelaku dan dalang dari laka lantas ini akan ia tangkap.
Penuh harap ia berkata, "Bagaimana keadaan anak dan istriku?"
"Tuan istri anda baik-baik saja.."
Mengatakan hal itu dengan wajah tegangnya.
"Lalu kenapa kau setegang ini, dimana anak ku?"
"Tuan tenanglah, saya harap tuan bisa berlapang dada menerimanya."
Deg!
Jantung Sagaara siap meledak saat itu juga, bola matanya membulat sempurna saat itu juga. Tanpa memperdulikan dokter itu berjenis kelamin perempuan, Sagaara menarik jas oprasi nya dengan kedua tangan.
Mencengkram nya dengan kuat, lalu dengan penuh penekanan dia berkata. "Aku akan melenyapkan mu jika ada kabar buruk!"
Namun dokter Kikan hanya diam saja, ia tak merespon dengan kalimat melainkan menggerakan tangannya untuk meraih kedua tangan Sagaara dan menyingkirkannya.
"Tuan fikir saya Tuhan yang memegang nyawa seseorang?"
"Dokter Kikan?" seru Hamish, lalu menggeleng pelan.
"Maaf tuan, saya hanya manusia biasa. Nona muda dan bayi lelaki nya selamat.." lalu dengan suara berat dan sedih ia mengatakan, "Tetapi bayi perempuannya tidak bisa terselamatkan!" tegas Kikan.
Jantung Sagaara serasa berhenti saat itu juga, dia seakan linglung dan bingung. Apa yang harus ia lakukan, haruskah ia menangis namun ada rasa bahagia di dalamnya atau haruskah ia bahagia namun terdapat luka di dalamnya.
Dari lorong itu mommy, daddy, dan juga Liora mereka bertiga berlari kecil menuju ruang oprasi.
Mereka melihat tuan muda seperti kehilangan arah, pria itu duduk di lantai dengan mimik wajah sedihnya.
Sagaara meremas-remas rambutnya, sontak saja hal itu membuat Alea menangis.