
Awalnya Liora sama sekali tak menduga akan hal itu, karena menurutnya hal mendesak yang berhubungan dengan rapat memang selalu terjadi.
Dia mendorong pintu masuk resto yang bertuliskan push itu, dan segera menuju ruangan VVIP 2.
Semoga saja tidak terlambat.. kalau sampai telat bisa gawat.. dia pasti akan memarahi ku lagi.
Dengan penuh keyakinan Liora memutar knop pintu dengan warna ke emasan, dan pintu pun terbuka.
Eh?
Dia heran kenapa hanya ada Ars seorang diri duduk di dalam ruangan ini.
Kenapa dia mengatakan akan ada rapat mendesak? Di tatapnya meja yang penuh keromantisan itu.
Apa yang terjadi? Apakah -
"Kemari, dan duduklah.." ucap Ars dengan nada nya yang penuh perintah.
Liora pun mengangguk, "Baik tuan.."
Wanita itu sudah duduk berhadapan dengannya, manik coklat Liora mencoba untuk menatap manik biru yang dingin itu.
Kenapa dia tak bicara?
Kaku.. kaku.. kaku.. dibawah meja itu tangan Ars sudah dingin, keheningan pun tercipta membuatnya hanya bisa menelan.
"Tuan?"
"Hm?" menjawab singkat, dingin maksimal.
Saling bersitatap cukup lama.
"Tuan?"
"Ya?"
Dari tadi jawabannya hanya singkat-singkat saja, membuat Liora mengerutkan keningnya.
Apa yang harus ku katakan, bodoh! Pekik Ars memaki dirinya sendiri.
Dalam-dalam Ars menghirup udara lalu menghelanya.
"Berikan tangan mu."
Eh, apa.. tanganku? "Untuk apa tuan?"
Yang di tanya hanya diam malah membuat Liora salah tingkah, dan berusaha kuat menjaga image nya.
Ars hanya diam tak menjawab, tangannya malah menggantung di udara dan menggerakan jemarinya. "Tanganmu."
"I- iya.." duh.. dia ini kenapa jadi semakin aneh saja sih?
Liora mengulurkan tangannya tepat di atas tangan Ars, tangan mereka sama-sama dingin.
Apakah dia gugup?
Ars dan Liora ternyata memikirkan hal yang sama juga.
Eh?
Keduanya sama-sama terkejut, telinga mereka hanya mendengar suara cicak ribut diatas.
"Tu- tuan.."
Ars seketika ingat apa yang di tanyakan oleh pelayan toko perhiasan itu, Ukuran cincinnya tuan..
Memalukan! Ars membatin dengan begitu menyiksa.
"Aaa.. indahnya, akhir-akhir ini saya terlalu banyak makan.. jadi nya gemuk." cepat-cepat Liora menarik tangannya kemudian melepaskan cincin itu dan memasukannya di jari kelingking.
Dia tersenyum membuat Ars merona samar.
Lima jari itu ia rapatkan dan meletakannya di samping wajah, aigo.. manisnya.
"Tuan, apakah cocok?"
"Menikahlah denganku!" pernyataan tegas, bukan main-main.
Dia mengatakan apa barusan.. me- menikah?
"Kenapa kau diam, cepat jawab." maksa!
Pertanyaan mendadak membuat nya begitu terkesiap, antara senang dan kaget.
"Liora aku sedang bertanya padamu."
Liora mengangguk pelan lalu menunduk, mencoba menyembunyikan wajahnya yang sudah bersemu merah.
Jawabannya membuat Ars senang, lalu tunggu apa lagi.. cepat berikan dia bunga Mawar nya, eh salah.. maksudnya bunga Camelia nya ðŸ¤
"Ini, bunga Mawar untuk mu."
Segera Liora mengangkat wajahnya dan menatap buket bunganya, Ma- mawar? Dia menahan tawanya, "Terimakasih tuan Ars.."
Ars mengangguk.
***
Ars bahkan tak segan untuk menyerang nya terlebih dahulu, dia tak melepaskannya sedetik pun tidak.
Hampir saja Liora kehabisan nafas, jika Ars tak bisa mengendalikan dirinya dengan cepat.
"Saat berada di luar dan hanya ada kita berdua jangan panggil aku dengan sebutan tuan.."
"Mm... sa- sayang?"
Ars kembali menganggukan kepalanya, dan kembali mencium bibir ranumnya.