
Sekretaris muda itu sepertinya kelelahan, jadi dia memilih untuk tidur sejenak. Tuan dan nona muda entah sedang melakukan apa di ruangan sana.
Liora yang duduk termenung mencoba untuk menghampiri pria yang ia sukai dengan samar, perasaannya belum terlalu jelas tapi dia selalu suka mencuri pandang darinya.
Liora sedikit merunduk agar bisa membelai wajah tampannya, jarak antar wajah mereka semakin menipis dan mendadak jantung Liora berdegup kencang saat Ars membuka kedua matanya.
"Berani sekali kau mencuri pandang dariku.."
"Bu- bukan begitu tuan.. sa- saya.." mundur beberapa langkah saat mendapati Ars beranjak dari tempatnya. "Mm... maafkan saya tuan.."
"Kau fikir kata maaf saja cukup?"
Jadi apa? "Tuan?" punggungnya membentur tembok dan Ars sudah mengunci pergerakan nya.
Pandangan mata tak biasa seorang Ars padanya sungguh membuat jiwanya hampir rontok, Liora membelalak saat merasakan telunjuk pria itu menyentuh bibir ranumnya.
Membuat bayangan ciuman mereka di lokasi proyek milan itu kembali tersuguh kan dengan hangat dalam ingatan nya.
Kenapa aku bisa hilang kendali saat sedang bersama dengan nya! Wajah datar Ars membuat Liora tersadar jika ada ketidak memungkinan untuk merajut asmara dengannya.
Wanita itu mengalihkan pandangannya ke arah lain, sedetik kemudian ia membelalak saat Ars kembali mencium bibirnya.
Apa artinya ini, kami sudah dua kali berciuman.
Jemari lentik itu mencengkram lembut kedua pundak Ars, lalu naik mengalungkan tangannya di leher pria itu.
Begitu juga dengan Ars yang menekan tengkuk wanitanya agar bisa lebih leluasa lagi dalam melakukannya.
Perlahan Ars menyudahinya saat Liora hampir kehabisan nafas.
"Tuan?"
"Ayo pulang.." dia merapihkan rambut Liora kebelakang telinganya.
***
Di dalam ruangan tempat tuan dan nona muda sekarang, mereka sedang pijat spa dimana kimono putih sudah menempel di kulit mereka.
Sagaara tak mau di pijat atau pun disentuh pelayan wanita, dia hanya ingin pelayan pria terlatih yang memijati nya.
Melakukan itu karena sangat menjaga perasaan istri yang ia cintai, untung saja tempat ini memang memiliki pelayan pijat khusus pria.
Yang rencana awalnya hanya pijat kaki, pundak dan tangan, sekarang malah seluruh badan yang di pijat.
Tubuh mereka merasai pijatan jemari yang telah terlatih membuat mereka begitu nyaman, "Tolong pijat juga di kepala ku ya.." pinta Vely pada pelayan wanita itu.
"Baik nona.."
"Baik tuan.."
-------
Satu setengah jam kemudian akhirnya pijat spa mereka selesai, usai membersihkan diri keduanya bergegas untuk segera pulang kerumah.
***
Malam menyapa usai makan malam.
Sepasang suami istri terlihat sedang berbincang, lesehan di atas ambal empuk entah apa yang sedang mereka bicarakan hingga nampak terlihat raut wajah khawatir seorang tuan muda.
"Sayang, kau kenapa terlihat begitu gusar?"
"Aku tidak apa-apa, hanya -"
"Hm? Apa.." bertanya lembut.
"Aku berencana untuk merayakan kembali hari ulang tahun mu yang tak sempat dirayakan."
Vely tersenyum, "Ulang tahun ku sudah lewat sayang.. lagi pula tidak perlu melakukannya, kau tahu?"
"Apa?"
"Sejak usiaku 15 tahun hingga saat ini aku tak pernah merayakannya.."
"Kenapa?"
"Orang tua meninggal saat perayaan ulang tahunku yang ke 14.." Vely menceritakan kisah sedih hidupnya di masa itu, air matanya hampir lolos jika saja Sagaara tak mengusapnya.
"Jangan menangis, sekarang kau memiliki ku kan? Kau tidak sendirian lagi."
"Emh.."
"Terimakasih sayang.." lanjut Vely sembari memeluknya, membuat pria itu bersemu merah samar.
###
slow update ya, tapi votte nya jangan slow ðŸ¤