
Kaki-kaki itu berlarian sembari mendorong bed hospital menuju ruang oprasi, dokter Kikan dan team bahkan sudah bersiap di posisinya.
Sudah tak mungkin lagi jika harus menunggu hari lahir bayi-bayi kembar itu.
Berita laka lantas pun dengan cepat tersebar luas di media-media, bahkan Ars yang ternyata sedang rapat itu seketika menghentikan aktifitasnya saat Liora berlari masuk ke dalam ruangan rapat.
Dia menangis.
"Rapat kita tunda, keluarlah.." seperti biasa wajahnya selalu saja datar.
Setelah ruangan itu hanya menyisakan sepasang kekasih.
"Kenapa kau menangis?"
"Tuan dan nona mengalami kecelakaan.."
Ars membelalak, segera ia melangkah meninggalkan Liora menuju ruang kerjanya dimana ia menaruh hp nya di dalam laci.
Benar saja apa yang di katakan Liora barusan, banyak media internet yang memberitakan hal itu.
Sungguh demi apa pun saat ini Ars mengutuk diri dan hidupnya yang tak berguna. Satu panggilan telefon tak terjawab, dengan gemetar dia membukanya.
Tubuhnya melemah duduk di kursi, sebuah nama yang ada di dalam daftar panggilan tak terjawab Tuan Muda.
Ars melonggarkan dasi yang serasa telah mencekiknya, dan langsung pergi meninggalkan kantor.
Masuk ke dalam lift sembari mengirimkan pesan pada Jack dan Longe, "Kalian sudah melihat berita itu?"
"Sudah tuan." pesan masuk dari kedua orang itu secara bersamaan.
"Segera cari tahu, aku dalam perjalanan menuju rumah sakit. Bagaimana pun caranya bawa orang itu kehadapan ku dalam keadaan hidup."
"Baik tuan."
Ting!
Pintu lift terbuka tepat di area parkir VVIP, seribu langkah cepat dia masuk ke dalam mobil lalu mengemudikannya dengan kecepatan tinggi.
tuan muda ku mohon bertahan lah sedikit lagi. Tak akan ku lepaskan siapa pun yang berani melukai anda!
Sumpah janji setia seorang Ars di hadapan pusaran kakek Sagaara saat ia masih muda dulu, karena kakek lah dirinya bisa menjadi seperti sekarang ini, dia merasa akan sulit untuk meminta maaf pada kakek jika hal buruk terjadi pada cucu sekaligus tuan mudanya.
💐💐💐💐💐
Sampai di rumah sakit Ars segera berlari menuju IGD tempat Sagaara di obati, pria itu sudah sadar dan mengamuk sejadi-jadinya.
Bahkan Hamish saja sampai kualahan karenanya, tangan tuan muda terluka dan menyebabkan robekan di telapak tangannya.
Darah itu terlalu segar menetes, "Tuan.. tolong tenangkan diri anda.. jika nona muda melihatnya, nona pasti akan sedih."
"Diam kau! Bawa kemari petugas medis itu, dia berani menghalangiku untuk menangkap pria itu!" teriak Sagaara benar-benar menyakiti telinga siapa pun yang mendengarnya.
Ruang perawatan itu sudah seperti kandang ayam yang berserakan kesana kemari.
"Tuan tolonglah bekerjasama dengan kami, luka di tangan anda harus di jahit -"
Hamish menoleh ke suara pintu yang terbuka, sekretaris Ars sudah datang.
"Tuan?" Ars masih mengatur nafasnya yang tersengal.
"Jangan memanggilku dengan sebutan itu, sialan!" dia marah karena telefonnya tak terjawab.
Ars mengerti akan hal itu, "Tuan muda tenanglah, tangan anda terluka."
"Kenapa kau begitu mengkhawatirkan ku? Bukankah lebih baik aku mati?" dia menangis.. air matanya jatuh luluh lantah saat ingatan mengerikan itu terlintas di benaknya.
Dengan mata kepalanya sendiri dia melihat betapa mengenaskan nya kecelakaan itu.
"Tuan, tenanglah.." suara Ars terdengar lirih. Wajah nya terlihat tenang namun hatinya begitu gundah.
Sagaara melangkah menuju pintu dengan darah yang jatuh menetes, membuat mereka khawatir. Bahkan dia saja sudah berjalan dengan lemah.
"Tuan?" seru Ars dan Hamish bersamaan.
Namun yang dipanggil hanya menghentikan langkahnya tanpa menoleh sedikit pun, "Aku akan menunggu di depan ruang oprasi, aku tahu kalian membawanya kesana. Anak dan istriku pasti sedang menungguku." sebuah senyum penuh harapan tersuguh di bibirnya.
Nada bicaranya terdengar bahagia.