Contract Marriage

Contract Marriage
Simalakama (2)


Bagaimana ini? Siapa yang akan dipilihnya?


Apakah mereka datang hanya untuk mengantarkan nyawa secara suka rela?


Sagaara menyeringai iblis, dia berjalan mendekati lubang buaya itu. Menatap buaya-buaya bringas kelaparan, "Bawa dia kemari!"


Apa, bicara apa dia? William terlihat bingung dengan reaksinya, "Kau sudah menentukan pilihan mu?"


"Kenapa aku harus memilih, yang seharusnya memilih adalah kau!" tandasnya dengan tegas tanpa menatap wajah William.


Ars menjetikkan jari lalu terdengar suara isak tangis seorang anak kecil, "Ayah.." ucapnya lirih dengan linangan air mata yang membasahi pipinya.


"Vanya?" apa yang dilakukan William ternyata menjadi boomerang untuk dirinya sendiri, "Sagaara, brengsek kau! Apa yang kau lakukan padanya?!" bentak William.


Jack!


Ketua gangster Elang, dia menyeret Vanya layaknya sedang menyeret seekor binatang yang hampir mati.


Dia membawanya ke arah lubang buaya, dimana tempat tuan mudanya sudah menunggu.


"Sagaara, lepaskan anakku! Dia tak ada hubungannya -"


Matanya membulat sempurna saat Jack mendorong Vanya hingga tersungkur di kaki Sagaara, terlebih lagi saat Sagaara mengokang dan menarik pelatuknya.


Vanya yang sudah berada di dalam genggaman tangan Sagaara, matanya memancarkan pandangan yang begitu dingin dan ancaman besar. Pistol itu terarah di atas kepala Vanya.


Satu tembakan saja, kepala itu akan meledak.


"Katakan, kau ingin aku melakukannya atau memberi buaya-buaya mu ini santapan yang empuk?" Sagaara sungguh tak pernah mengenal lawan, dia begitu keji dan lebih licik dari musuh-musuh nya.


"Jangan gila, kau fikir aku tak bisa menekan mu -"


Tali panjang yang mengikat tangan Vely perlahan mengendur turun, selagi mereka bertukar argumen dan saat itu juga Ars serta Longe menjalankan misinya.


Sialan! Kenapa aku bisa selengah ini! William menggeratkan gigi di dalam mulutnya, "Lepaskan Vanya!"


"Bukankah aku sudah mengatakannya? Sehelai saja rambut istriku jatuh, maka kau tak akan sanggup menanggungnya.." suaranya datar dan dingin, dia menarik pistol itu lalu tangannya bergerak seperti orang yang mendorong namun tak jadi.


Ya, itulah yang dilakukan Sagaara kepada Vanya, seolah mau mendorongnya kedalam lubang itu, "Aaaaaa...." Vanya teriak histeris dan ketakutan, "Ayah.. ayah.."


"Sagaara!"


Tak ada respon, wajahnya semakin dingin dan kali ini Sagaara mau melakukannya dengan serius.


"Tidak! Sagaara, aku mohon jangan sakiti dia.. dia satu-satunya putri adikku, dia meninggal saat melahirkan nya -"


"Dongeng itu tak ada hubungannya dengan ku.." berwajah datar.


Ars dan longe sudah berhasil membebaskan nona muda, serta sudah membawanya ke tempat yang aman.


Vanya merupakan anak dari adik William, dia membesarkan Vanya layaknya anak sendiri.


"Paman, jangan sakiti aku.." gadis kecil berusia 5 tahun itu mengerti apa? Dirinya menjadi korban atas ke egoisan seorang William.


Cih! Sialan, memandangiku dengan wajah seperti itu.. aku tidak akan tertipu!


William menggunakan kesempatan kecil dari kelengahan Sagaara untuk menusuknya, dia mengeluarkan belati tajam dari saku.


Vanya yang sempat melihatnya pun langsung di beri kode olehnya untuk tetap diam, tapi Vanya anak yang cerdas.


Tangan Vanya bergerak menarik tangan Sagaara, "Paman awas, itu.." menunjuk ke arah William yang langsung di ikuti arah pandang Sagaara.


"Lebih baik kau mati saja, sialan!" pekik William sembari berlari dengan menodongkan belati, namun tubuh Sagaara mampu menghindarinya, dia menendang William dan membuatnya terjatuh dalam jebakannya sendiri.


"Aaaa!! Tolong aku Sagaara, tolong aku! Aku tidak mau jadi santapan para buaya ini!!" tubuhnya tergantung dalam bibir lubang tersebut, jika saja dia tak berpegang kuat pada pinggir bibir itu maka sudah pasti dia akan langsung jatuh. "Sagaara ku mohon, tolong aku!"


"Ayah... paman, tolong selamatkan ayahku.." seru Vanya dengan nada gemetar.


"Mati saja kalian berdua!"


----


Vely yang sudah berada di balik dinding ruang bawah tanah, menghentikan langkah kakinya.


"Nona kenapa berhenti?"


"Sekretaris Ars, aku mendengar suara anak kecil itu seperti sedang menangis."


"Lupakan saja nona -" Ars membelalak saat Vely berbalik dan berlari untuk masuk kembali.


Dia membuka pintu, "Sayang?"


Sagaara yang mendengarnya pun terhenyak, "Kenapa kau masih berada disini, cepat pergi!"


Lagi-lagi William mendapatkan kesempatan bagus, dia memanfaatkan kelengahan Sagaara untuk yang ke dua kalinya. Berusaha agar dapat naik dan memijak lantai.


"Sayang, awas dibelakang mu!" teriak Vely yang mendapatkan respon cepat Vanya.


Vanya menggigit tangan Sagaara sekuat mungkin dan membuatnya menghindari tusukan belati.


"Dasar anak sialan! Kenapa kau menyelamatkannya!"


"Ayah, jangan berkelahi.. Vanya takut.."


"Dasar manusia tak tahu di untung!" tandas Sagaara dengan kesal, kali ini dia menendangnya dengan lebih kuat membuat William benar-benar jatuh dan menjadi rebutan para buaya.


"Waaaa!!! Tidak, tidak, tolong selamatkan aku -" tubuhnya terkoyak-koyak menjadi rebutan.


Vely segera berlari kecil, dia memeluk suaminya dengan tubuh yang gemetar.


Lalu melepaskannya, kemudian Vely mensejajarkan tingginya dengan Vanya, "Siapa nama mu, sayang?"


"Vanya, bibi.."


"Vanya anak yang baik.." mengelus pipi tembemnya, lalu berdiri lagi menatap Sagaara, "Sayang.. biarkan Vanya ikut bersama kita."


"Tidak! Ayahnya seorang baj*ngan, dia akan tumbuh seperti itu! Taruh saja di panti asuhan."


"Paman, jangan tinggalkan Vanya di sana.. Vanya takut.."


"Hanya 2 bulan saja sayang, aku janji.. jika selama itu kau tak menyukainya, maka aku sendiri yang akan mengantarkannya."


"Terserah!"


Vanya sebenarnya anak baik yang masih polos, dia begitu imut dan menggemaskan.


Manik perak itu berbinar, lalu memeluk Vely.


"Ibu.."