
Sagaara mulai mengingat hal-hal indah yang ia lalui bersama dengan istrinya, hingga ia mencoba mengingat kembali saat mereka tersesat di hutan.
Lovely si gadis polos yang pernah hadir dalam hidupnya dulu, dan sekarang ia datang untuk menjadi istri dan ibu dari anak-anaknya.
Sagaara menekuk kedua kakinya hingga menyentuh dagu, menggerakan tubuhnya seperti kursi goyang.
Ibu mana yang tega melihat putranya seperti ini, "Anakku.." seru Alea sembari memeluk putranya, "Tenangkan dirimu sayang..." namun Sagaara hanya diam saja, ia tak meresponnya.
Seorang suster keluar dari ruangan oprasi dengan menggendong bayi lelakinya yang sudah di bedong, "Permisi tuan, ini bayi lelakinya.."
Sagaara mendongak ke sumber suara dan segera mengambil alih putranya, ditatapnya wajah yang benar-benar menjadi duplicate nya itu.
Bayi merah yang menangis saat Sagaara memeluknya, "Lalu dimana putri ku?"
Mereka masih diam.
"Bawa kemari sebelum di makamkan, dia juga berhak mendapatkan pelukan ku." Sagaara mengusap air matanya yang jatuh di pipi mungil putranya.
Alea memalingkan wajahnya dari Sagaara, masih dengan air mata yang menggenangi wajahnya.
Tristan ikut menangis pilu, bahkan sebagai ayahnya saja ia tak berani menegurnya.
Liora segera mendekat dan mengambil alih bayi itu, dia menggendongnya dengan hangat lalu membawanya ke sisi Ars.
Seorang suster membawa keluar bayi perempuan yang juga sudah di bedong, bibir kecilnya membiru.
Sagaara tak kuasa menahan tangisannya, ia begitu histeris saat menggendong dan memeluknya.
Membawanya duduk di lantai, mendekapnya dengan hangat sembari mengusap-usap punggung mungil itu.
Dia menyanyikan sebuah lagu untuk putrinya, masih dengan mengusap punggungnya.
"Malam itu kau menangis di dalam pelukan ayah, sedari kecil ayah merawat mu dan membesarkan mu hingga tumbuh dewasa.. bahkan belum sempat ayah mengusap air mata mu, kau telah pergi meninggalkan ayah.. katakan kepada ayah, jika kita memiliki waktu lebih akankah kita bisa duduk berbincang berdua.."
Alea semakin tak kuasa menahan kesedihannya hingga ia jatuh pingsan.
Namun Sagaara tak bergeming dari tempatnya, ia masih ingin memeluk putrinya. Bahkan saat suster tadi yang membawa bayi itu keluar mau mengambil alih malah tak di beri izin oleh Sagaara.
"Oeeeeeekkk....."
Mukjizat Tuhan benar-benar terjadi, bayi perempuan itu menangis dengan suara yang melengking.
Kehidupan baru yang ia dapatkan membuat Sagaara tak percaya, bahkan pelukannya hampir terlepas dari tubuh mungilnya.
Dengan cepat ia mendekapnya lagi, dokter Kikan dan dua suster itu pun benar-benar takjub antara percaya dan tidak.
Namun inilah kebesaran Tuhan yang menggenggam nyawa manusia, segera Kikan mengambil alih dan mencoba mendengarkan detak jantungnya menggunakan stetoskop.
"Oh Tuhan, sungguh besar kuasa Mu.." seru Kikan.. bahkan ia juga menangis haru dibuatnya.
Bayi perempuan itu menangis dan tak lama kemudian di susul tangisan bayi lelakinya.
Suasana bahagia ini semoga saja bukan mimpi belaka.
💐💐💐💐💐
Beberapa jam kemudian setelah Vely di pindahkan di ruangan VVIP, dia pun mulai tersadar.
"Emh..." perlahan ia mengerjap, menatap ke sekitar ruangan.
Sagaara dan yang lainnya pun mendekat, "Sayang..." seru sang suami memeluknya dengan erat.
"Apa yang terjadi, kenapa aku ada disini?"
Lalu tangannya meraba perut, "Ah.. bayiku.. mana bayiku.. kenapa dengan perutku ini?" Vely menangis lalu Sagaara mengusapnya.
"Tenanglah sayang.. mereka baik-baik saja."
Sagaara beranjak ke baby box lalu menggendongnya bergantian, memberikannya kepada Lovely.