
Mobil tuan muda baru saja sampai di garasi pemandian air panas tersebut, "Sudah sampai, ayo kita turun."
Sagaara membukakan pintu mobil untuk istrinya, dia mengulurkan tangan agar Vely dapat meraihnya.
"Sayang, aku haus."
"Kau mau minum apa?"
Bola mata Vely mengitari keadaan sekitar, "Sayang lihat itu.. ada ice mangkuk, aku mau itu.."
"Hm.."
"Ayo.." Vely yang tak sabaran pun segera menarik tangan suaminya, menuntunnya ke kedai ice mangkuk.
Kedai yang bersih dan nyaman mereka bisa duduk santai di situ sembari menunggu kedatangan Ars dan Liora.
"Paman, ice mangkuknya 2 .." seru Sagaara sembari meletakan hpnya di atas meja.
"1 mangkuknya pakai toping spesial ya paman." imbuh Vely ikut menimpali.
"Baik tuan, nona.. tolong tunggu sebentar ya, segera saya buatkan.."
5 menit kemudian ice pesanan mereka sudah tersaji kan di atas meja, "Silahkan di nikmati, tuan.. nona.." lanjut si penjual tersebut.
Waah ice mangkuk yang begitu lumer di tenggorokan membuat Vely begitu rakus, ice miliknya sudah habis setengah dengan taburan toping yang spesial itu.
Lalu dia melirik ice mangkuk milik suaminya, "Kenapa lihat-lihat?" Sagaara menarik ice miliknya sedikit menjauh, "Tidak boleh minta."
"Aaa.. sayang, aku mau mencicipinya sedikit saja.."
Telunjuk nya terangkat ke udara, bergerak pelan ke kanan dan ke kiri.
"No.. no.. sudah pesan masing-masing masih mau punya ku juga?" Sagaara menghabiskan nya dalam suapan yang banyak.
"Aaa pelit.." Vely berdiri dan berjalan ke arahnya, rupa-rupanya di lantai yang ia pijaki itu ada serutan ice dan membuatnya terpeleset.
Bruk!
"Aah!!"
"Sakit.." ekspresi wajahnya menyiratkan rasa sakit yang luar biasa, seiring dengan darah segar yang mengalir. Vely yang melihatnya pun menjadi histeris, dia takut. "Darah? Sayang darah.. aku takut.. aku takut.." pekiknya kesakitan dengan memegangi perutnya, "Sakit!"
"Astaga, Tuhan.." seru Sagaara yang juga panik, dia mengusap wajahnya dengan begitu gusar.
Untung saja di dekat pemandian itu ada sebuah klinik dokter yang buka 24 jam, segera saja dia membawanya kesana.
***
Vely sudah berbaring di atas bed, dirinya tengah di rawat di ruang UGD klinik.
Sagaara yang tak di izinkan masuk jadi hanya bisa menunggunya di luar.
Dia mencoba mengintip melalui kaca pintu yang tertutup rapat dengan tirai nya saat mendengar suara Vely yang menjerit kesakitan.
"Aaaa... sakit, ibu.. ayah.. kak Damian.." hiks, dia menangis memegangi perutnya sementara dokter sedang berusaha untuk menghentikan pendarahannya.
Hingga akhirnya Vely merasa sesuatu yang kental seperti gumpalan daging stik keluar dari bagian V miliknya.
Gumpalan yang hangat, wajahnya sudah pucat bahkan nafasnya agak tersengal.
Janin itu keluar dengan sendirinya, perlahan Vely mulai kehilangan kesadarannya hingga beberapa menit kemudian dia pingsan.
"Siapkan ruang oprasi, dan hubungi dokter Sinta." seru dokter Metha.
"Baik dokter.."
Suster Nana keluar dari UGD dengan langkah tergesa.
"Suster tunggu, kenapa kau terlihat panik? Apa yang terjadi pada istriku?"
"Maaf tuan, istri anda keguguran dan kami akan segera menguret nya untuk membersihkan sisa gumpalan darah yang ada di dalam rahim nona.."
"Apa?!" kedua lutut Sagaara serasa lemas dan hampir copot saat mendengar kabar duka itu, "Tidak! Itu tidak mungkin, anakku.." suaranya melemah, dia terduduk di kursi sesaat tatapannya kosong.
###
Tebak apa yang terjadi setelah ini 😁