Contract Marriage

Contract Marriage
Ch.50


Hingga malam menjelang dan di tengah hujan deras, Vely menatap nanar di jalan bawah.


 


Dirinya sekarang tengah berdiri di atap gedung pencakar langit.


 


Tidak ada lagi hal berharga yang tersisa dariku.. Vely membentangkan kedua tangannya sembari memejamkan erat mata indahnya.


 


Ayah, ibu, sebentar lagi kita akan bertemu..


 


Sedikit dorongan dia hampir terjatuh, namun dengan cepat tangan seorang pria meraih pinggang rampingnya.


 


Menarik Vely ke dalam pelukannya.


 



 


"Kau?" Vely mencoba untuk mendorongnya, berusaha menjauh dari Sagaara, "Lepas.. jangan menyentuku!" air matanya semakin deras mengalir.


 


"Aku tak akan membiarkanmu mati.." mendekat lalu berucap, "Aku menikahimu dengan cara yang baik, jadi aku pun akan mengembalikanmu dengan cara yang baik juga.."


 



 


"Hanya 3 bulan bertahanlah.. hingga saat itu tiba aku akan menjaga jarak dengannya.."


 


Vely menggeleng, "Ceraikan aku, tuan muda Sagaara yang terhormat! Dengan begitu kau bisa berkencan dan menikah dengannya!"


 


"Aku tidak akan menceraikanmu sebelum tiba saatnya." menatap datar pada Vely yang memalingkan wajahnya.


 


"Tentu saja kau bisa melakukan nya, bukankah kau seorang tuan yang tak pernah berasalah? Limpahkan saja semua kesalahannya kepadaku.. dunia hanya akan mengecam ku, bukan dirimu!"


 


"Aku tak butuh argumen mu!" merogoh kunci apartemen lalu melemparkannya ke lantai, "Mulai sekarang kau akan tinggal di apartemen, aku akan membuat alasan agar mommy tak mencarimu lagi!"


 


"Aku tidak butuh, aku tidak sudi menerima itu semua!! Aku tidak akan tinggal di tempat yang kau sediakan.." mendorong Gaara lalu pergi meninggalkannya sendirian di atap itu.


 


Vely mempercepat langkahnya, membuka pintu dan malah bertemu dengan Rani. Betapa santainya dia dengan menyandarkan punggungnya di tembok.


 


Sebuah senyum kebahagiaan tersungging di bibirnya, "Kau menangis? Cup, cup, cup!!" terkekeh dengan tatapan iba nya yang sedang  menghina kemalangan nasib Lovely.


 


"Kenapa kau melakukan ini padaku? Apa salahku padamu, aku menganggapmu seperti adik kandung ku sendiri.." tangannya terkepal erat, "Kau tega menyakitiku seperti ini, Rani!"


 


 


***


 


Gemelugur petir bertabrakan dengan kilat di atas langit malam, semakin menambah derasnya hujan.


 


Di bawah guyuran itu Vely berada di dalam sebuah taxi putih yang akan mengantarnya ke  pafiliun miliknya.


 


Pafiliun putih merupakan gedung yang pernah di tempati Damian untuk pekerjaan keduanya, tempat itu tak seluas gedung lainnya.


 


"Nona kita sudah sampai.."


 


Vely mengusap air matanya, "Terimakasih pak, ini ambil saja kembaliannya.." lalu turun keluar dari mobil, menatap gedung sederhana yang gelap.


 


Vely meraih kunci cadangan yang di letakan di bawah keset, memasukan kunci lalu memutar handle pintu.


 


Gelap sekali, tek!


 


Ruangan pun menjadi terang seketika, di tatapnya manekin yang berjejer menghadap ke dinding kaca. Aku akan tidur dan tinggal di sini saja..


 


Usai mengganti baju dirinya pun langsung masuk ke kamar untuk segera beristirahat.


 


Hati ini begitu melelahkan, semoga saja semua ini cepat berlalu.


 


...


 


Nyanyian angin malam mendesir di sekujur tubuh seorang pria yang tengah berdiri di balkon kamar vila.


 


Gaara, dia sedang menatap langit malam yanh begitu gelap. Kemana kau pergi, upik abu!


 


Tuan muda mengalihkan perhatiannya ke pintu saat Nan mengetuknya, "Tuan maaf mengganggu, sudah jam 8 malam tetapi tuan belum makan."


 


Gaara melangkah mendekat lalu memutar handle, pintupun terbuka.


 


"Kau simpan saja Nan, aku sedang tak berselera untuk makan."