Contract Marriage

Contract Marriage
Kenapa Kau Menutupinya?


Dengan gemetar dokter Kikan segera memeriksa kondisi Vely, menuangkan gel ke atas perut nya dan meraih stik USG.


Benda kecil itu bergerak kesana kemari dan benar saja, layar itu memperlihatkan sebuah kantung rahim.


Jantung mereka sudah berdegup kencang saat mendengar tuan muda Sagaara mendesis kesal. Dia mengusap wajahnya dengan gusar.


Pemeriksaan pun selesai, dokter Kikan memundurkan langkahnya dia menunduk.


Vely juga segera duduk dan meraih tangan suaminya, "Sayang.." suaranya terdengar lirih, "Maafkan aku -" dia terbelalak saat Sagaara memeluknya dengan erat.


"Kau membuatku takut, sangat!" mengelus kepala Vely, "Kenapa kau menyembunyikan nya dariku?"


"Bagaimana caranya agar aku bisa mengatakannya padamu? Aku takut kau akan marah.."


"Kau tahu seperti apa aku ini, kenapa kau begitu berani melawan?" air mata Sagaara menetes, pundak Vely terasa basah.


"Sayang, maafkan aku.. maafkan aku, ku mohon.."


Sagaara melepaskan pelukannya, dia menarik kursi di dekat meja dan duduk berhadapan dengan sang istri.


Dia menggenggam kedua tangan Vely lalu menciumnya, "Sayang, tadi kau ingin makan pizza kan?"


"Tapi kau membuangnya.."


"Kita beli lagi ya?"


Vely mengangguk, lalu dia mengusap sisa air mata yang masih membasahi kedua sudut mata Sagaara.


Sagaara melirik dokter Kikan dengan ekor matanya, "Bersiaplah menerima hukuman mu!"


"Aaa sayang, jangan.. dokter Kikan tak bersalah, aku yang membohongimu.. ku mohon.."


"Tapi -"


Cup! Ciuman di bibir itu membuat dokter Kikan dan suster di ruangan itu kelabakan.


"Baiklah, karena kau yang memohon aku tidak akan marah atau pun menghukumnya." Sagaara berdiri juga di ikuti Vely, dia memeluk istrinya. Menatap dokter Kikan, "Kalian sudah bekerja keras, ambilah cuti.."


"Be- benarkah? Terimakasih tuan.. terimakasih.."


***


Sagaara membukakan pintu mobil untuk Vely setelah mereka sampai di sebuah restauran.


"Kau mau pizza yang jumbo?"


"Iya, sayang aku mau toping keju mozarella nya yang banyak."


"Jangan terlalu banyak memakan keju, nanti banyak tikus yang mendekati mu.."


Sagaara tersenyum kecil, dia menggerakan tangannya "Ayo.."


Sebuah ruangan khusus VVIP telah di siapkan, hanya ada satu meja di dalamnya.


"Sayang kenapa kita tidak di tempat umum itu saja?"


"Kau ingin aku berbagi pandangan dengan orang lain?"


"Maksudnya?"


"Sudahlah jangan cerewet." menarik kursi, "Ayo cepat duduk.. atau kau mau duduk di pangkuan ku?" menyeringai.


"Iya, iya, aku duduk sendiri."


Pizza jumbo pesanan nona muda pun datang, "Maaf lama menunggu nona, tuan.." ucap seorang pelayan resto sembari meletakan pizza di atas meja, "Silahkan di nikmati.."


"Terimakasih.." Vely.


Dengan lahap dia memakannya dalam potongan yang agak besar, membuat Sagaara terkejut.


"Kenapa kau memakannya seperti itu, kau bisa tersedak nanti."


"Aku lapar sayang, nanti saja mengobrol nya ya.." suaranya terdengar tidak jelas, soalnya dia bicara sambil mengunyah.


"Makan yang benar, pizza ini tidak akan lari kemanapun.." jempolnya mengusap sisa keju di sudut bibir Vely.


"Hm.." mengangguk, "Sayang, coba cicipi.." menyodorkan potongan pizza yang baru.


"Aku tidak suka makan pizza -" Vely mengambil pizza yang ada bekas gigitannya, sekali lahap pizza itu habis di makan Sagaara.


Heeeh? Tadi katanya tidak suka makan pizza.. pft..


"Apa yang kau senyum kan?"


"Tidak ada kok, hehe.. hm.. kenapa suamiku manis sekali ya?"


Tangan Sagaara bergerak dan mengetek kening datar istrinya.


"Aduh!"


"Bicara sembarangan lagi, ku cium kau!"


###


Votte nya dong.. votte.. votte.. votte..