Contract Marriage

Contract Marriage
Separuh Nyawaku


Bulan pun berganti, kini usia kandungan Lovely tinggal menunggu hari saja.


Pagi ini Lovely terlihat sedang mengikuti senam hamil, dia selalu rutin mengikutinya di setiap bulan.


Sebagai suami siaga tentu saja Sagaara tak mau meninggalkan momen berharga ini. "Sayang setelah mengikuti kelas ini, ayo kita pergi ke toko baby shop ya.."


"Untuk apa lagi? Bulan kemarin kan kita sudah membeli perlengkapan bayi.."


"Aa.. pokoknya kita pergi lagi kesana.. ada barang yang baru datang, dan itu sangat imut sekali sayang.."


Vely mengusap layar hp dan membuka galeri, di perlihatkannya foto baju couple untuk bayi kembarnya.



Lalu Vely menggeser layarnya kesamping untuk memperlihatkan foto selanjutnya.




"Bagaimana? Bagus kan?" manik coklat itu berbinar mengharap Sagaara akan mengatakan iya, atau setidaknya mengangguk.


Haaaah... Sagaara hanya menghela nafas sembari mengelus dadanya dengan sabar.


"Semua baju yang aneh seperti itu pun kau ingin membelinya?"


"Sayang..." saut Vely dengan kesal lalu mengerucutkan bibirnya, "Apanya yang aneh.. jelas-jelas baju ini sangat lucu.. pokoknya aku mau beli."


"Ya.. ya.."


Sebanyak apa pun baju yang sudah dibeli, namanya juga baju bayi ya mana ada habisnya.. ya kan emak-emak kece. 😂😂


Mumpung punya suami kaya seperti Sagaara, jadi kuras habis saja isi ATMnya. CEO kaya sepertinya tidak akan jatuh miskin hanya untuk membeli baju segudang.


💐💐💐💐💐


Usai berganti baju sekarang waktunya untuk belanja, mobil yang di kemudikan Sagaara melaju dengan kecepatan sedang.


"Sayang ayo cepat sedikit, soalnya baju-baju ini limited edition loh.." antusias, "Sayang dengar tidak?"


"Iya, iya sayang bersabarlah.. ini juga sudah menambahkan kecepatan mobilnya."


15 detik kemudian lampu lalu lintas itu berubah menjadi hijau, Sagaara yang kembali mengemudikan mobilnya terhenyak saat sebuah truck menghantam sisi mobilnya dari samping kanan mobil dengan kuat.


Tabrakan itu membuat mobil mereka terseret dan menghantam mobil besar lainnya yang ada di sisi kiri.


Parahnya lagi dari belakang mobil mereka pun, sebuah pick up menabrak bagian belakang mobil yang di naiki Sagaara beserta isrti nya.


Keadaan itu membuat kepala Vely terbentur dengan begitu kuatnya, dan membuatnya terjepit hingga pingsan.


Begitu pula dengan Sagaara yang juga kepalanya terbentur stir kemudi.


"Vely!!" seru Sagaara menguatkan suaranya sedangkan kepalanya sudah terasa berat. Pandangannya mulai kabur.


Setengah mati dia menahan diri agar tidak pingsan, segera dia meraih hp yang ada di dalam saku jasnya dan menelefon Ars.


Deringan telefon itu tak segera terangkat, "Aargh!!!" darah itu mengalir segar dari pelipisnya.


Dia mengernyit sakit, orang-orang berkerumunan di area terjadinya kecelakaan. Hingga akhirnya mobil ambulance tiba.


Begitu juga dengan polisi laka lantas, police line telah terpasang.


"Minggir, minggir jangan halangi jalan kami!" seru petugas medis yang mendorong brangkar medis dari mobil lalu memindahkannya ke dalam ambulance.


Vely yang tak sadarkan diri dengan luka lebam biru di bagian keningnya, membuat Sagaara tak kuasa menahan tangisnya.


Setelah keluar dari mobil ringsek itu, dengan kuat Sagaara memukulkan tangannya di kap mobil hingga lecet.


"Aaaaaa!!" betapa histerisnya dia. Ekor matanya tak sengaja melihat seorang pria berjaket hitam dia mengenakan topi hitam yang hampir menutupi mata juga setengah wajahnya sedang berdiri di bahu jalan yang tak jauh dari lokasi itu.


Mereka bersitatap dan membuat pria itu segera kabur.


Sontak saja Sagaara tak akan melepaskannya, "Brengsek! Tunggu!"


"Tuan, tolong ikut kami ke rumah sakit.. luka anda juga perlu perawatan.." pinta seorang petugas medis sembari menahannya.


"Lepaskan aku! Aku baru saja melihat penjahat itu, lepaskan aku! Lepaskan!"


Tarik menarik di antara mereka pun terjadi, demi keberlangsungan bersama mau tak mau petugas medis tersebut menyuntikannya dengan obat bius.