
Tolong like, votte, komennya ya.. votte nya banyakin dong!
####
Sesuai janji semalam, Gaara sudah bersiap untuk segera pergi ke rumah sakit dan untuk konsultasi mengenai kehamilan.
"Sayang, aku ikut ya.."
"Tidak usah, aku hanya pergi ke rumah sakit sebentar.."
Vely menggeleng lalu memeluknya dari belakang, "Pokoknya aku ikut.."
"Sayang, aku -"
"Ikut!!"
Hmph..."Bersiaplah jika memang mau ikut.."
Menunggu sekian menit memang benar apa yang di keluhkan Ars, wanita di manapun selalu sama, lambat!
"Sayang cepat sedikit, aku sudah terlambat.."
"Iya, sebentar.."
20 menit kemudian..
"Ayo, aku sudah siap.."
"Kau benar-benar menguji kesabaran ku.. hanya menunggumu bersiap dan itu memakan waktu setengah jam?" Gaara menggeleng kesal.
Loh, dia marah... "Emh.." Gaara mendorongnya ke atas sofa, bahkan pria itu mulai melonggarkan dasi lalu melepas satu persatu kancing kemeja.
"Sa- sayang?"
"Hm? Apa, kau harus di hukum karena berani membuang waktu ku yang berharga ku.."
"Ta- tapi.."
Gaara membungkamnya dengan sebuah ciuman lembut di bibir, lalu turun menggigit lehernya hingga meninggalkan bekas merah.
Lalu selanjutnya? Aah sudahlah jangan di tanyakan lagi, kalian pasti sudah tahu apa yang terjadi kan? ðŸ¤
***
Jam 10 pagi mereka sudah tiba di rumah sakit, tepatnya di ruangan obgyn.
Seorang dokter wanita cantik bernama Kikan, rambut panjang kuning pirangnya yang menjuntai sepundak serta tubuh langsing yang mendekati tipe Hamish.
"Selamat pagi dokter Kikan, perkenalkan, tuan Sagaara dan istirnya, nona Lovely.. mereka kolega rumah sakit ini."
"Selamat pagi tuan, nona.. silakan duduk.."
"Dokter Kikan, mereka datang untuk berkonsultasi mengenai kehamilan.."
Apa? Kehamilan, apakah itu mengenai diriku?
"Baik, akan saya jelaskan secara detail.." dan mulailah Kikan menceritakan proses awal kehamilan, dari awal trimester pertama sampai trimester ke tiga. Apa saja yang akan di alami oleh wanita hamil selama masa itu.
Perubahan hormon ibu hamil, serta resiko yang akan di dapatkan. Semua informasi itu membuat bulu kuduk Gaara merinding, mengembang sempurna.
"Apa resiko terbesarnya?"
"Kematian ibu dan bayi.."
Deg!
Gaara mengepalkan tangannya dengan erat, "Kau yakin?"
Kikan mengangguk, "Benar, tuan.." jawab Kikan dengan pasti.
"Jika di antara ibu dan bayi mengalami kondisi kritis, siapa yang akan di selamatkan?" imbuh Gaara seolah tak puas.
"Kami akan menyelamatkan ibunya, meskipun yang bersangkutan ingin bayi nya yang di selamatkan.."
Melangkah cepat menuju toilet, menatap sendu pada wajahnya sendiri.
Tangannya mencengkram kuat pinggiran wastafel, sementara itu di dalam ruangan Kikan. "Dokter Hamish, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa suamiku mendadak melakukan hal itu?"
Hamish menggeleng, "Saya tidak tahu nona, semalam tuan muda menelefon dan meminta semua informasi mengenai kehamilan."
"Tapi sepertinya setelah mendengar semuanya, reaksi tuan muda terlihat begitu sulit. Mungkin saja tuan muda sudah menginginkan seorang anak tetapi takut akan resiko yang harus di hadapi." lanjut Hamish.
"Dokter Kikan, bisakah aku meminta print out dari apa yang baru saja dokter jelaskan?"
"Bisa.. sebentar saya ambilkan dulu.."
Setelah mendapatkan print out tersebut Vely segera undur diri, lalu mencari keberadaan suaminya.
.....
Gaara sedang duduk di kursi taman rumah sakit, membiarkan cahaya panas itu menyentuh kulitnya.
"Sayang?" seru Vely dari. belakang kursi. Dia berlari merengkuh suaminya dari belakang. "Maafkan aku.." berucap lirih.
"Kenapa meminta maaf, sudah siang ayo pulang.."
***
Sesampainya di vila, Gaara hanya menekuk wajahnya yang mengatung mendung.
"Sayang, tolong jangan di fikirkan lagi.. apa pun yang terjadi aku tidak akan meninggalkan mu.."
"Lupakan saja soal anak, aku tidak ingin hal buruk terjadi padamu!" berjalan mendahului Vely.
Kenapa malah jadi begini? Vely mencoba menahan air matanya.agar tak jatuh menetes.
____
Gaara duduk termenung di ruang kerja, Nan datang membawakannya teh panas.
"Nan?"
"Iya tuan?"
"Bukankah kau sudah memiliki suami dan pernah melahirkan?"
Nan mengangguk heran, "Iya, tuan.."
"Bagaimana rasanya hamil dan melahirkan?"
"Sulit di jelskan.."
"Jelaskan!"
Vely menerobos masuk memotong pembicaraan mereka.
"Nan, bukankah hamil dan melahirkan itu sesuatu yang hebat?" seru Vely berharap penuh.
Nan mengangguk, "Iya, nona.. memang rasanya sakit tapi semua itu akan sirna saat tangisan bayi memecah ruangan."
"Sayang dengar, kan? Kehamilan dan proses persalinan itu tak seburuk apa yang kau bayangkan.." mengeluarkan kertas print out dari Kikan, "Dan lihatlah ini -"
Gaara merampasnya.
"Lancang sekali kau melakukan nya tanpa izin dariku.."
"Ta- tapi itu.."
"Masuk ke kamar, mu!" Vely sudah mau membuka suara, "MASUK!" bentakannya membuat Vely takut dan menangis.