Contract Marriage

Contract Marriage
Simalakama


Sagaara melangkah dengan penuh emosi sebelum menarik handle pintu tarung tersebut, Ars memperingatinya.


"Tuan, tenanglah.. jangan bertindak gegabah."


"Diam kau! Memangnya kau fikir bisa apa jika hal ini terjadi padamu, hah!"


Ya itu benar, dari sudut pandang Sagaara itu bukanlah hal yang salah. Dia memang benar suami mana yang bisa tenang saat mengetahui istrinya dalam bahaya?


Handle yang terdorong membuat daun pintunya terbuka, suasana di dalam mansion itu hening. Senyap menyapa mereka.


"Longe!"


Bos geng itu sudah faham apa tugasnya, dia yang memimpin penggeledahan di mansion.


Mencari dan mencari, satu persatu pintu di buka hingga akhirnya sebuah pintu yang menuju ke lorong pun mereka temui.


"Tuan.. pintu ini menuju lorong bawah tanah."


Sagaara mengangguk, "Ars!"


Ars mengangguk, kali ini dirinyalah yang memimpin. Menuruni anak tangga dan menjadi tameng untuk tuan muda Sagaara, baginya keselamatan tuan muda adalah hal yang terpenting.


Hingga akhirnya mereka pun sampai di lantai dasar bawah, sebuah pintu besar tertutup.


"Buka!" perintah tuan muda yang di angguki Ars dan Longe.


Kedua pria itu mendobraknya hingga kuncian pintu terbuka dengan paksa.


Gelap, tak ada cahaya. Mereka masuk dengan hati-hati.


"Keluar kau, William!" dia berteriak, Vely yang mendengarnya pun segera membuka suara.


"Tolong... tolong.. Sagaara!" dia merintih, kembali menangis.


Suara wanita itu terdengar jelas di kedua telinga mereka.


"Cepat nyalakan lampunya -"


Tek!


Seseorang menyalakan lampu membuat ruangan itu di penuhi cahaya yang cukup.


Membuat pencahayaannya gelap terang seperti disko hitam putih.


Ars yang menjangkau pemandangan mengerikan di atas dengan mata tajamnya, "Nona!"


Membuat Sagaara menatap hal yang sama, kedua tangannya terkepal erat membuat urat-urat di wajahnya menonjol.


Nyaris darah itu keluar dari dalam matanya, "WILLIAM!!" dia berlari mencoba menjangkau pria sialan itu.


Namun langkahnya terhenti saat tangan William menunjuk ke arah Vely, "Berani menyentuhku? Potong talinya dan biarkan buaya-buaya peliharaan ku menyantap jal*ng itu!" seringaiannya benar-benar membuat Sagaara ingin mencabik-cabik otaknya.


"Lepaskan istriku, apa yang kau inginkan!"


William mengambil benda dari saku belakang celana, melemparkannya hingga menyentuh kaki Sagaara.


Pistol?


"Ambil, pilih salah satu di antara mereka bertiga.." tangannya menunjuki Ars, Longe, dan Lovely.


Mereka semua terhenyak mendengarnya, Ars tak terima.


"Tuan -" Ars terdiam saat melihat tangan Sagaara terangkat ke udara.


Lalu dia memungut pistolnya, membuka dan mendapati satu buah peluru.


"Hanya satu orang saja, jika kau menembak sekretaris mu.." seorang pria dengan senapan anginnya sudah bersiap di tempat, dia mengarahkannya pada Longe.


"Dan jika kau memilih Longe.." pria tadi mengarahkan senapannya ke arah Ars.


"Dan jika kau memilih nya!" telunjuknya mengarah pada Vely, "Maka aku akan menembak ke dua orang itu!" Longe dan Ars.


Yang itu artinya hanyalah sebuah jebakan, dimana sasaran seorang William yang sebenarnya adalah Sagaara sendiri.


Tidak ada satu pun pilihan yang menguntungkannya, Sagaara berusaha untuk memikirkannya dengan tenang.


"Dan jika kau memilih ku.." William mengeluarkan sebuah bom dengan daya ledakannya yang cukup untuk menghancurkan mansion berserta isinya. Dia menyeringai puas, "Nah.. tentukan lah pilihan mu, tuan muda Sagaara Arjun Wijaya yang terhormat!"


###


Kencengin dong vottenya.. bantu masuk 10 besaaarrr doooong!! 🥺🥺🥺