
"Apa ini! bahkan kamu berani menyimpan nomor lelaki lain!" bentak Sean.
Prank
Sean membanting ponsel Arini sehingga berhentilah nada deringnya, Sean duduk di sofa dengan mengusap rambutnya kasar, dia sungguh tak menyangka kalau Arini bisa berbuat seperti itu.
Di ujung matanya nampak basah, Sean tak tau lagi harus berbicara apa, dadanya begitu sesak akan perbuatan Arini.
Melihat Sean yang nampak tak karu-karuan Arini tergerak untuk mendekati Sean yang duduk di sofa.
"Maafkan aku, aku tau aku salah tapi aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya," kata Arini mencoba menjelaskan.
Sean melemparkan tatapan mautnya pada Arini, dia tak menanggapi perkataan Arini hanya sorot matanya yang menunjukkan betapa kecewanya dia pada istri tercintanya tersebut.
"Sudahlah, aku kecewa padamu entah aku bisa percaya lagi apa tidak dengan perkataan kamu," ucap Sean lalu pergi meninggalkan Arini yang masih di ruang kerjanya.
Arini bingung harus bagaimana, semua memang salahnya.
Dengan menghapus air matanya Arini beranjak dari tempat duduknya dan berniat mengejar Sean, saat di bawah dia berpapasan dengan kepala pelayan.
"Tuan kemana?" tanya nya
"Entahlah nyonya, Tuan mengendarai mobilnya," jawab Kepala pelayan.
Arini bingung harus berbuat apa, ingin menghubungi Sean namun ponselnya sudah remuk redam.
Arini ke kamarnya, dia meringkuk menangis menyesali perbuatannya.
"Marcel, kamu membuat aku dan Sean salah paham," gumamnya.
Arini sangat rapuh sekarang, dia tak menyangka akan seperti ini. Andaikan waktu itu dia tidak menyimpan nomor telepon Marcel pasti semua tidak akan seperti ini.
Namun penyesalan tinggal penyesalan, kini Sean telah kecewa padanya hanya berharap pada sang waktu supaya bisa mengembalikan kepercayaan Sean lagi, dan kembali ceria seperti hari-hari kemarin secepatnya.
"Maafkan aku," gumamnya dengan menangis.
Tendangan, tendangan kecil dia rasakan dari perutnya, bahkan di baby kecil dalam perutnya pun seakan marah pada Arini.
"Maafkan mama sayang," kata Arini dengan mengelus perutnya.
Sean mengendarai mobilnya tanpa arah, hatinya benar-benar sakit. Ingin sekali membunuh Marcel, dengan amarah yang membara Sean pergi ke kantor Marcel.
Setalah bertanya pada resepsionis dan mendapatkan ijin dari Marcel, Sean pergi ke ruangan Marcel dengan diantar resepsionis tersebut.
Saat masuk ruangan Marcel bogeman yang berbicara, Sean tidak memberikan kesempatan pada Marcel sedikit pun untuk berbicara.
Sehingga Marcel terkulai lemas di lantai, Bule Vs Tionghoa jelas Bule yang menang.
"Apa apaan kamu Sean," kata Marcel lirih
"Kamu yang apa-apaan berani sekali mendekati istriku!" bentak Sean
"Karena aku ingin merebutnya darimu, supaya kamu bisa merasakan bagiamana kehilangan orang yang sangat kamu cintai!" seru Marcel.
Tatapannya pada Sean mengisyaratkan betapa bencinya dia pada Sean.
"Jangan mimpi kamu bisa merebutnya dariku, bahkan seekor semut pun tak akan aku biarkan mendekatinya," kata Sean lalu pergi meninggalkan Marcel yang terduduk di lantai karena bogeman Sean.
Marcel mencoba bangun, "Brengsek kamu Sean lihatlah aku akan membalas semua ini," gerutunya
Marcel menghubungi seseorang, dia akan melancarkan niatnya secepatnya, dia tidak peduli lagi dengan Arini, dia hanya ingin membalas dendam pada Sean untuk adik dan untuk dirinya.
Sean melajukan mobilnya ke klub seperti biasa kali ini dia minum lebih banyak dari kemarin, Nick yang mendapat kabar kalau Sean minum lagi segera datang ke bar untuk melihat bagaimana keadaan Sean.
"Pak lebih baik kita pulang, anda sudah mabuk berat," kata Nick.
Prank
"Kapan sih masalah kalian kelar, kenapa masalahnya semakin melebar sekarang," gumam Nick bingung.
(authornya jahat Nick🤣✌️)
Pelayan klub segera membersihkan pecahan botol yang berserakan, sedangkan Nick membawa Sean ke kamar untuk istirahat.
Demi kebaikan Sean, Nick memanggil dokter untuk menyuntikkan obat penenang pada Sean, biar Sean tidur.
Arini yang sedari tadi menunggu Sean kini bingung, sudah jam dua belas malam tapi Sean masih belum pulang. Ingin sekali dia pergi mencari Sean tapi mencari dimana? nggak mungkin juga mencari di kantor.
Hingga jam tiga Sean belum pulang, Arini yang sudah lelah akhirnya merebahkan diri untuk istirahat dan baru saja dia sudah terlelap.
Mentari sudah memancarkan sinarnya, Arini perlahan membuka matanya, Arini tersentak dan melihat sampingnya ternyata Sean tidak pulang.
Dengan kepala yang sedikit pening, Arini pergi ke kamar mandi guna membersihkan diri.
Lalu dia pergi ke taman depan sekalian menunggu Sean.
"Aku sangat tersiksa jika kamu seperti ini, aku lebih suka dibentak dan dimarahi daripada didiamkan seperti ini, sungguh menyiksa sekali sayang," gumam Arini dengan menangis bahkan suara isak tangisnya terdengar oleh tulang kebun yang kebetulan menata bunga di sana.
Dia menatap Arini dengan tatapan iba nya, dia sungguh bingung ada masalah apa dengan majikannya tersebut, biasanya majikannya mengumbar kemesraan dimana-mana apalagi Sean yang sangat tak tau malu.
Lama duduk di taman membuat Arini lelah lalu dia masuk ke dalam.
Arini mengganti pakaiannya dengan pakaian keluar rencannya dia akan keluar ke rumah Vani siapa tau Nick memberi tau dimana Sean berada pada Vani.
Siap dengan outfitnya Arini menyuruh kepala pelayan memesankan jasa taxi online dia sengaja tidak memakai jasa sopir rumah.
Setelah satu jam kemudian Arini sampai di rumah Vani, dia mengetuk pintu dan tak berapa lama Vani membuka kan pintu.
"Lo Rin, tumben kamu kesini, ada apa?" tanya Vani heran.
Arini langsung saja memeluk sahabatnya tersebut sehingga membuat Vani heran, tak biasanya Arini seperti ini.
"Aku bingung Van, semalam Sean nggak pulang," jawab Arini dengan terisak.
Vani menghela nafas, "Ya udah masuk dulu," kata Vani lalu membawa Arini masuk.
Arini menceritakan semua pada Vani tanpa ada yang dia kurangi dan ditambahi.
"Kamu sih Rin, cari masalah itu namanya. Ingat kamu itu seorang istri, wajarlah Pak Sean marah. Mas Nick aja kontak pria di ponselku dihapus semua la kamu malah menambahkan kontak pria yang tak lain rival bisnis pak Sean sempat-sempatnya juga menemui di depan rumah," ucap Vani dengan menggelengkan kepala.
"Iya Van, aku salah," kata Arini menyesal.
Arini menyuruh Vani untuk bertanya pada Nick dimana Sean berada, bisa sih Arini membeli ponsel tapi takut kalau Sean tambah marah padanya.
Vani menghubungi Nick dan bertanya dimana Sean, Nick yang tau kalau pasti Arini yang menyuruhnya pun berbohong semua demi ketentraman bersama. Nick tidak ingin Arini menyusul Sean di klub karena jika itu terjadi sudah pasti akan ada perang dunia di klub.
Nick berbohong kalau ada urusan mendadak di luar kota, setelah mendapat jawaban dari Nick Vani memutus sambungan telponnya.
"Mereka ke luar kota RIn, katanya ada urusan mendadak," kata Vani.
"Ya sudah Van, pesankan aku taxi online lebih baik aku menunggu di rumah saja, badanku kurang fit beberapa hari ini aku kurang makan dan kurang tidur," sahut Arini dengan lemas.
"Iya kamu tunggu di rumah saja, kamu terlihat pucat sekali," timpal Vani.
Beberapa waktu kemudian taxi online sudah datang, Arini berpamitan pada Vani, sepanjang perjalanan Arini hanya diam menatap luar jendela kaca.
Namun tiba-tiba taxi berhenti,
"Ada apa ini!" teriak Arini