Teman Ranjang Billionaire

Teman Ranjang Billionaire
Durian merah


Saat Putri masuk dalam kelasnya teman-temannya pada memandangi pria yang tadi menabraknya.


Ternyata dia adalah anak pemilik kampus yang baru kembali dari luar negeri untuk melanjutkan kuliah di kampus milik ayahnya.


Namanya adalah Lucas, dia memiliki wajah yang sangat tampan sehingga mampu menyihir kaum hawa penghuni kampus.


"Put, lihatlah Mahasiswa baru itu cakep sekali," kata Mega, teman Putri.


"Biasa saja," sahut Putri singkat.


Beberapa anak petinggi kampus juga sekolah di sana mereka membuat geng namun yang terkenal adalah geng yang kini Lucas ikuti dan Lucas diangkat jadi ketua geng tersebut.


Saat jam istirahat Putri dan Mega pergi ke kantin untuk beli camilan lagi-lagi dia ditabrak oleh Lucas hingga camilan dan botol air mineral yang dia bawa jatuh, camilan Putri jatuh berserakan.


"Kamu!" seru Putri


"Kelihatannya kamu suka sekali menjadi obyek tabrakan aku," kata Lucas dengan dingin.


Putri mengambil botol minum yang jatuh lalu dia membuka segelnya dan mengguyurkan air tersebut di kepala Lucas sehingga membuat Lucas murka.


"Berani nya kamu!" bentak Lucas dengan mencengkeram lengan Putri.


Tanpa takut Putri menatap Lucas dengan sinis, "Itu balasan buat kamu yang bersikap seenaknya sendiri, jangan mentang-mentang anak pemilik kampus kamu bisa bertindak seeankanya," kata Putri lalu menarik tangannya dan pergi meninggalkan Lucas yang berdiri mematung sambil melihat punggung Putri yang berangsur menghilang.


Teman satu geng Lucas mencoba menenangkan ketua geng mereka.


Dika dan Andy menepuk bahu Lucas lalu mengajak Lucas pergi.


"Kelihatannya wanita itu menantang Lucas," kata Dika


"Benar Dik," sahut Andy


"Aku harus memberinya pelajaran," timpal Lucas dengan mengusap rambutnya yang basah.


Daffa yang sudah rindu dengan istri mungilnya datang menjemput lebih awal, dia menunggu sambil memantau perusahaannya lewat smartphone yang kini dia pegang.


Tak selang berapa lama Putri keluar, dia berlari kecil menghampiri mobil suaminya tersebut.


Dari kejauhan nampak Lucas, Dika dan Andy melihati Putri.


Melihat Putri yang berlari membuat Daffa keluar mobil lalu memeluk istri tercintanya tersebut.


"I Miss you," bisik Daffa


"I Miss you too mas," sahut Putri.


Daffa membukakan pintu dan menyuruh Putri masuk lalu di berjalan memutar untuk masuk ke dalam mobil juga.


"Kelihatannya itu kekasihnya," kata Andy


"Benar, kelihatannya wanita itu menyukai lelaki dewasa," ucap Lucas.


Lucas, Andy maupun Dika belum tau kalau Daffa adalah suami Putri karena mereka belum mengumumkan pernikahan mereka.


Karena pekerjaan Daffa belum selesai, dia mengajak Putri ke kantornya namun sebelumnya dia makan siang dulu.


"Gimana belajarnya?" tanya Daffa


"Baik mas, bentar lagi akan ujian mas. Doakan aku ya semoga bisa mengerjakan soal ujian," pinta Putri .


"Selalu sayang, semoga kamu bisa menggapai apa yang kamu cita-citakan, amin" kata Daffa dengan tulus


"Amin, makasih mas," sahut Putri dengan tersenyum lalu memeluk bahu Daffa. Dia menyandarkan kepalanya pada pundak Daffa.


Daffa nampak menoleh sedikit, dia tersenyum melihat istrinya.


"Bagaimana kalau aku hentikan mobilnya, kita main sebentar," kata Daffa dengan terkekeh


Putri yang kesal mengangkat kepalanya lalu mencubit Daffa.


"Nanti kalau ada pengendara lain yang lewat saat melihat mobil kita mereka jadi merinding karena heran di siang bolong ada mobil bergoyang," sahut Putri dengan tertawa.


Daffa semakin gemas mendengar kata-kata Putri, memang benar juga yang dikatakan istrinya tersebut.


Di sisi lain Nick dibingungkan sikap Vani, setelah periksa ternyata Fix Vani hamil satu bulan.


"Astaga sayang, darimana aku mendapatkan durian warna merah sayang," timpal Nick dengan mengusap rambutnya


"Banyuwangi kalau nggak gitu Kalimantan," sahut Vani


Nick hanya bisa membolakan matanya, dia berfikir keras apa anaknya ini adalah anak yang langka sehingga keinginannya makan buah yang sulit di dapat.


"Baiklah tapi kasih waktu aku untuk membelinya, minimal tiga hari," tawar Nick


"Ya elah mas, bisa-bisa ileran nanti anak kamu," sahut Vani dengan lesu.


"Kamu pikir aku Doraemon yang memiliki pintu kemana saja dan baling-baling bambu, hingga dengan mudah dapat apa yang kamu mau," omel Nick yang membuat Vani mewek.


Melihat istrinya mewek membuat Nick bingung,


"Iya-iya sayang, diam ya please," pinta Nick.


Dia sungguh frustasi dengan kehamilan pertama istrinya, dia tidak bisa membayangkan dulu bagaimana saat Kinan hamil tanpa dirinya.


Tiba-tiba Nick menjadi mendung mengingat Kinan hamil tanpa dirinya.


"Maafkan aku Kinan," batin Nick dengan mata yang basah di ujung.


Vani yang melihatnya salah paham, dia mengira kalau Nick bersedih karena permintaannya.


"Maaf mas, kalau mas Nick nggak mau juga nggak papa, tapi jangan bersedih ya," kata Vani


"Nggak kok sayang, nanti aku akan menyuruh orang untuk mencari durian merah buat kamu," sahut Nick dengan tersenyum.


Vani yang senang memeluk suaminya tersebut, lalu mereka segera menuju kantor, karena Nick ada kerjaan yang harus dikerjakan.


Vani berdiam diri di ruangan Nick sedangkan suaminya sibuk di ruangan Sean.


Brian kaget saat masuk ruangan Nick ternyata ada adik iparnya.


"Lo Vani," panggil Brian kaget


"Iya kak Brian," sahut Vani


Brian meminta ijin pada Vani untuk mengerjakan pekerjaannya di ruangan Nick.


Status Brian yang jadi asisten sementara memang harus berbagai ruangan dengan Nick.


Wajah Brian tak jauh berbeda dengan Nick, mereka berdua memiliki wajah yang seperti orang Korea.


"Kak Brian katanya mau balik ke luar negeri ya?" tanya Vani basa basi untuk memecah keheningan diantara mereka


"Iya, masa cuti aku sudah habis," jawab Brian.


"Kenapa kak Brian bekerja di luar negeri?" tanya Vani lagi.


Brian menatap adik iparnya dengan ekspresi kesal karena dia harus fokus dengan pekerjaannya sedangkan Vani terus bertanya.


"Aku beri waktu lima menit untuk bertanya setelah itu diam ya, karena aku harus fokus bekerja," kata Brian.


"Astaga kak Brian serius sekali, maaf-maaf lanjut kerjanya," ucap Vani lalu dia berjalan menghampiri jendela, dia melihat kotanya dari ruangan Nick yang terletak di lantai paling atas kantor Sean.


Dia mengoceh sendiri sambil mengelus perutnya, Brian yang mendengarnya mengusap rambutnya dengan kasar, bagaimana tidak Vani mengoceh dengan kata-kata yang konyol sehingga membuat Brian kesal dan juga ingin tertawa.


Nick yang sudah kembali kaget ternyata Brian berada di ruangannya.


"Kak Brian ngapain di sini?" tanya Nick


"Mau tak sentil ginjal kamu Nick? tentu aku bekerja lah bukankan kita satu ruangan?" jawab Brian kesal


Nick hanya terkekeh dengan jawaban Brian, cemburu yang datang tiba-tiba membuatnya lupa kalau Brian satu ruangan dengannya saat ini.


Nick mendekati Vani yang berdiri di dekat jendela


"Kak Brian nggak ngapa-ngapain kamu kan sayang?" tanya Nick sambil melihati tubuh istrinya


"Brengsek kamu Nick, bisa-bisanya bertanya seperti itu pada istrimu, memangnya aku apakan istri kamu?" umpat Brian dengan kesal.


"ha ha ha, siapa tau kan kak Brian mencolek istriku," sahut Nick dengan tertawa.