
Sean sudah melakukan ancang ancang untuk memanjat Arini, setelah melakukan foreplay dia langsung melakukan penyatuan. Suara-suara gaib muncul dengan keras apalagi Sean yang seminggu libur suara gaibnya ngegas.
Waktu sudah berjalan tiga puluh menit tapi Sean belum juga ada tanda-tanda mencapai pelepasannya.
"Sudah tiga puluh menit lo." Arini mengingatkan sambil diiringi suara suara gaibnya.
"Bentar sayang, sepuluh menit lagi," sahut Sean
Dan sepuluh menit kemudian Sean sudah mengeluarkan cairan putihnya.
Setelah itu dia menjatuhkan diri di samping Arini dan memeluk istrinya tersebut.
"Kurang puas ya sayang, cuma satu ronde. Aku pengennya mukbang," kata Sean
Arini hanya bisa geleng-geleng kepala, dikiranya dia makanan sehingga Sean mau mukbang.
"Selain cara seperti ini ada cara lain gak supaya kamu puas tanpa memanjat aku?" tanya Arini
Sean tersenyum licik
"Kamu ingin tau?" tanya Sean balik dengan senyum yang mengembang
Arini mengangguk dengan menatap Sean.
"Nanti aku kasih tau, sekarang mau membersihkan diri dulu setelah itu ayo makan karena aku lapar sekali," jawab Sean
Mereka berdua pun beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi guna membersihkan diri dan juga mandi besar.
Di sisi lain,
Putri sedang menyuapi ayahnya yang sedang sakit. Semenjak kecelakaan ayah Putri tidak bisa berjalan lagi oleh sebab itu Putri harus merawat ayahnya dan merelakan beasiswa yang dia dapatkan lewat jalur undangan.
"Ayah besok Putri akan interview di perusahaan besar, doakan Putri ya yah," kata Putri
"Iya nak, ayah selalu mendoakan kamu semoga kamu sukses, dan menemukan jodoh yang terbaik," sahut Ayah.
"Amin," timpal Putri.
Seusai menyuapi ayahnya Putri minum air putih, supaya perutnya kenyang. Sebenarnya Putri hanya memiliki uang untuk membeli makan untuk ayahnya sehingga dia memilih tidak makan.
Rencananya untuk hidup besok dia akan menjual kalung satu-satunya kenangan dari ibu Putri.
"Kalung ini adalah kalung pemberianmu ibu dulu, maaf besok Putri harus menjualnya untuk melanjutkan hidup dengan ayah sampai Putri mendapatkan gaji," gumam Putri
Air mata Putri menetes mengingat ibunya, dia sungguh tak habis pikir kenapa ibunya tega meninggalkan dirinya dan ayahnya waktu itu bahkan suara tangis Putri tidak mengurungkan niat ibunya untuk pergi.
Meskipun ibunya pergi meninggalkannya Putri tetap menyayangi ibunya. Ayah Putri mencoba menanamkan sugesti positif pada Putri supaya dia tidak membenci ibunya.
Paus memikirkan ibunya Putri membuka lemari baju mencari baju yang akan dia gunakan besok untuk datang ke perusahaan Daffa.
Pilihannya jatuh pada rok warna hitam dan kemeja putih, setelahnya Putri tidur supaya besok bisa bangun pagi.
***********
Keesokan harinya Putri bangun untuk membuatkan sarapan ayahnya, dia merebus ubi untuk sarapan dengan ayahnya. Tak lupa dia juga menyiapkan obat untuk ayahnya.
"Ayah Putri tinggal dulu ya, nanti siang Putri belikan makanan yang enak untuk ayah," kata Putri
"Terima kasih nak, maafkan ayah yang jadi beban kamu," sahut ayah dengan menangis
Putri memeluk ayahnya, mencoba menenangkan lelaki ringkih di depannya. Setelah itu Putri pergi ke Toka emas untuk menjual kalungnya lalu baru menuju kantor Daffa.
Dia mendatangi resepsionis meminta untuk bertemu dengan Daffa.
"Apa sudah ada janji sebelumnya?" tanya resepsionis
"Sudah," jawab Putri
Resepsionis menyambungkan panggilan dengan Daffa dan Daffa menyuruh resepsionis untuk mengantar Putri ke ruangannya.
"Mari saya antar ke ruangan pak Daffa," kata Resepsionis tersebut.
Setibanya di depan ruangan Daffa, resepsionis mengetuk pintu setelah mendapat ijin dari Daffa dia menyuruh Putri masuk
Saat masuk ruangan Daffa mata Putri terus memutar melihat ruang kerja Daffa yang rapi dan luas.
"Sudah puas lihat lihatnya?" tanya Daffa yang mengagetkan Putri
"Eh iya mas, ruang kerja mas Daffa bagus sekali," jawab Putri
Daffa menyuruhnya duduk lalu Putri meyerahkan berkas yang dibawanya.
Daffa mengecek berkas-berkas Putri, senyumnya mengembang melihat deretan nilai 9 dan 10.
"Kamu pintar sekali, tapi ini hasil sendiri apa hasil menyontek?" tanya Daffa dengan terkekeh
Daffa tertawa lalu melanjutkan mengecek berkas Putri. Setelah selesai Daffa menutup berkas-berkas lalu menatap Putri, "Kamu mau bekerja hari ini apa besok?" tanya Daffa
"Besok saja mas, tadi saya pamit siang sudah pulang kalau saya bekerja hari ini ayah pasti cemas," jawab Putri
"Ok ya sudah," sahut Daffa
Karena tidak ada yang dibahas Putri pamit untuk pulang.
Sebelum pulang Putri mampir dulu ke warung untuk membelikan ayahnya makanan.
Di sisi lain Sean mengamuk karena Nick tidak bisa dihubungi,
"Dimana sih dia," gumam Sean
Tak berselang lama Nick datang ke ruangan Sean, " kamu dari mana? kenapa tidak bisa dihubungi?" tanya Sean
"Maaf pak, tadi saya di bawah," jawab Nick
"Ngapain di bawah?" tanya Sean
"Mengobrol pak," jawab Sean
Sean menatap Nick dengan kesal, bisa bisanya Nick mengobrol,
"Mengobrol dengan Vani?" tebak Sean
Nick mengangguk, Sean semakin marah pada Nick
"Kamu kerja apa ingin pacaran? kalau mau pacaran sana pergilah ke hotel, booking hotel nanti tahihannya masukkan dalam tagihan ku," omel Sean
Nick menatap heran pada Sean, "Ini orang salah minum obat atau gimana ya," batin Nick
"Maaf pak, kami tadi hanya mengobrol cuma sepuluh menit saja," sahut Nick
Mereka mengganti topik mereka yaitu mengenai laporan kantor bulan ini, karena laporan tidak sama dengan buku rekapan.
"Cek lagi, bagiamana bisa laporan keuangan selisih sebanyak itu, ini pasti ada yang menggelapkan dana perusahaan, selidiki dan cari siapa," Ujar Sean
Nick pamit untuk segera melaksanakan perintah Sean, dia tidak menyangka ada yang berani menggelapkan dana perusahaan sebanyak ini.
"Saya pamit dulu pak," pamit Nick
Saat hendak membalikkan tubuh, Sean memanggilnya lagi
"Oh ya Nick isi flashdisk ini dengan film panas," Sean melempar Flashdisk di meja lalu diambil oleh Nick
"Bukannya anda sudah ahli pak, kenapa belajar lagi?" tanya Nick
"Bukan buat aku, tapi Arini," jawab Sean
Nick menggelengkan kepala lalu keluar.
Sean yang disibukkan dengan pekerjaannya harus pulang telat, jam tujuh dia baru sampai di rumah.
"Kok pulang telat?" tanya Arini
"Iya sayang karena banyak yang harus dikerjakan," jawab Sean.
Seusai membersihkan diri dan makan malam, Sean meminta Arini untuk diambilkan laptopnya..
"Bawa sini," titah Sean
Arini mendekati Sean yang tidur dengan bersandar di kepala ranjang.
Sean meminta Arini untuk di sampingnya.
"Sini aku lihat kan cara memuaskan suami tanpa memanjat," kata Sean
Sean mencolokkan flashdisk dan memutar film panas, Saat film diputar Arini memejamkan matanya karena dia tidak pernah lihat film begini sebelumnya.
"Lihat dan pelajari," kata Sean
Siapa sangka Arini malah tidur, Sean asik melihat film panas sendiri hingga hasrat memanjat pun datang.
"Gimana sayang?" tanya Sean
Arini yang tertidur tentu tak menjawab pertanyaan Sean, karena tidak ada sahutan Sean mengecek dan betapa kesalnya Sean
"Brengsek dia malah tertidur," umpat Sean
Kini dia tersiksa sendiri dengan rudal yang sudah siap tempur.