
"Jadi ini istri kamu?" tanya wanita tersebut dengan marah
"Iya," jawab Sean dengan singkat.
Bola mata wanita tersebut menatap Arini dengan tatapan tak suka, dia melemparkan tatapannya dari atas ke bawah.
"Cih, wanita seperti apa yang kamu jadikan istri, dia seperti wanita jadi-jadian," ucap wanita tersebut.
Arini yang kesal meletakkan kedua tangannya di pinggang, ingin sekali menghajar wanita yang ada di depannya namun matanya melihat banyak mata yang menatap mereka jadi Arini mengurungkan niatnya.
Tak ingin berlama-lama berhadapan dengan wanita setan, Arini pun merangkul pundak Sean yang masih duduk di kursinya.
" Sayang lebih baik kita pulang, kan ini malam Jumat, bukankah kalau setiap malam jumat lebih baik kita melakukan sunah rosul," bisik Arini yang masih bisa didengar wanita di depannya.
Arini menatap wanita di depannya, "Da da kita pulang dulu ya, karena banyak yang harus kita lakukan di ranjang," kata Arini sambil melambaikan tangannya.
Wanita tersebut memandang Arini kesal, "Lihatlah aku akan buat perhitungan dengan mu," gumamnya.
Arini yang kesal membuang tangan Sean yang tadi digandengnya. Sebenarnya Arini kesal karena Sean hanya diam saja tak membelanya sedikit pun.
Arini masuk mobil dengan wajah yang cemberut, bahkan dia menutup pintu mobil dengan keras sehingga membuat Sean heran.
"Kamu marah?" tanya Sean
Arini melemparkan tatapannya pada Sean dengan mendengus kesal
"Nggak, aku lagi happy, bahagia, senang, riang, gembira, puas!" jawab Arini
Sean hanya tertawa melihat istrinya marah.
"Sabar sayang, ibu hamil nggak boleh marah-marah kasian bayi kita di dalam," Sean mencoba menenangkan Arini.
"Ini semua gara-gara bekas teman ranjang kamu, lagian kamu juga kenapa nggak bela aku sedikitpun," kata Arini dengan kesal. Kamu sebenarnya cinta nggak sih ma aku, apa jangan-jangan kamu mau tidur dengan mereka lagi," imbuh Arini sesudahnya.
"Aku nggak suka ya kamu nuduh aku dengan tuduhan seperti itu, semenjak aku menikah dengan kamu hanya kamu lah teman ranjang aku dan itu berlaku selamanya," jelas Sean.
"Alasan kenapa aku hanya diam karena aku nggak ingin mencari keributan, lagipula kamu kan handal pasti bisa menyelesaikan wanita itu tanpa harus aku ikut campur," imbuh Sean.
Arini terdiam, memang benar yang dikatakan Sean. Kalau Sean ikut bicara pasti akan ada drama besar dan akan semakin mempermalukan mereka.
"Lagian kamu dulu tidur dengan berapa wanita sih, tadi pagi juga ada wanita yang datang ke rumah sekarang ada lagi, pasti besok-besok akan ada lagi," omel Arini
"Entahlah, aku lupa bahkan nama-nama mereka saja aku nggak ingat," sahut Sean dengan terkekeh.
Arini yang frustasi berteriak
Arrrgggggg
"Menyebalkan kenapa aku terjebak dengan orang sepertimu," kata Arini dengan memegang kepalanya.
"Takdir," sahut Sean singkat yang membuat Arini bertambah kesal.
"Aku harap pemerintah menemukan vaksin untuk para pria supaya tidak terpapar virus wanita penggoda yang meresahkan masyarakat," ujar Arini
Sean sungguh gemas sekali dengan Arini, Sean sungguh tak sabar sampai rumah karena ingin bermalam Jumat bersama istrinya tersebut.
Lima belas kemudian mobil Sean memasuki halaman rumahnya, Arini keluar terlebih dahulu tanpa menunggu Sean.
Dengan kesal Arini masuk kamar dan merebahkan dirinya di tempat tidur.
Sean yang baru sampai kamar menggerutu karena Arini telah meninggalkannya.
"Kenapa aku ditinggal?" tanya nya lalu melepas blazer yang ia pakai.
"Nggak papa lagian aku masih kesal denganmu," jawab Arini
Sean ikut merebahkan diri di samping Arini, dia memiringkan tubuhnya menetap Arini.
Tangannya membelai wajah istrinya yang masih mengerucutkan bibir.
"Kondisikan bibir kamu sayang atau aku lahap," kata Sean yang lebih terdengar ke ancaman,
seketika Arini mengondisikan bibirnya.
Tangan Sean turun kebawah dan berhenti di perut Arini yang mulai terlihat buncit.
"Halo sayangnya papa," sapa Sean dengan mendekatkan bibirnya ke arah perut Arini
"Halo pa," sahut Arini seolah dia adalah sang jabang bayi.
"Maaf ya nak, papa kali ini nggak bisa menjenguk kamu, karena kelihatannya mama lagi ngambek lagian papa nggak mau ganggu kamu tidur dengan guncangan guncangan saat papa datang," kata Sean yang membuat Arini pengen ngakak.
"Kamu tu sayang, ada-ada saja," ucap Arini
Melihat Arini tertawa membuat Sean lega, lalu mereka tidur dengan saling peluk tanpa acara panjat memanjat.
Keesokannya pagi sekali Nick sudah sampai di kantor, dia mempersiapkan berkas-berkas yang diperlukan untuk bertemu dengan CEO BIA Grup pagi ini.
CEO BIA terkenal dingin, jaim dan juga kritis sekali. Untuk itu Nick mempersiapkan semua supaya saat pertemuannya tidak ada kendala.
Jam yang ditentukan sudah datang, Nick menemui CEO yang bernama Viona Maharani Admadja di kantornya.
Nick menyerahkan berkasnya dan mata lentik Viona menyusuri setiap kata yang tertulis di sana.
"Baiklah, saya akan pertimbangkan dahulu" kata Viona lalu menutup berkas yang diajukan Nick.
"Baik nona saya tunggu kabar baiknya," sahut Nick
"Saya rasa tidak ada yang dibicarakan saya harap anda bisa meninggalkan ruangan saya," pinta Viona lalu menunjukkan pintu keluar dengan tangannya
Nick hanya mengangguk, lalu mengambil berkas-berkasnya. Satu ditinggal untuk perusahaan Viona.
"Sombong sekali wanita itu," batin Nick
Setibanya di kantor Sean, Nick menceritakan semua pada Sean. Mereka pun memikirkan cara untuk membuat Viona terkesan dan menyetujui kerja sama mereka.
"Bagaimana kalau kita memberinya perhiasan pak, mengingat wanita suka sekali dengan perhiasan," ide Nick
Sean berfikir sesaat, lalu dia setuju dengan ide Nick
Lalu Sean memerintahkan Nick untuk membeli perhiasan mewah untuk Viona.
"Kamu cari dan besok berikan perhiasannya," kata Sean.
Nick datang ke sebuah toko perhiasan, dia melihat lihat dan matanya tertuju pada sebuah kalung berlian mewah.
"Apa ini model terbaru?" tanya Nick pada pelayan toko perhiasan tersebut.
"Iya pak, ini adalah model terbaru. Kalungnya terlihat simpel tapi rumit sekali dalam pengerjaanya," jawab sang pelayan.
"Bandulnya ini berkilau sekali, ini batu apa?" tanya Nick lagi
"Berlian pak, namun ini yang berwarna pink," jawab pelayan tersebut.
"Ya sudah mbak saya pesan ini sekalian dengan kotaknya ya," timpal Sean
Setelah membungkusnya pelayan tersebut menyodorkan paper bag kertas kecil.
Karena diberikan besok Nick meninggalkannya di mobil.
Waktu berjalan dengan cepat tak terasa sore hari sudah datang.
Sore ini Sean pulang sendiri sehingga Nick bisa mengantar Vani pulang.
"Van, aku antar pulang ya," kata Nick menghampiri Vani di ruang cleaning service.
"Kebetulan sekali saya tidak membawa sepeda pak," sahut Vani.
"Van kalau saat kita berdua panggil mas saja atau sayang, ga enak banget dengernya masak iya kekasih sendiri dipanggil pak," ujar Nick
"Baik mas," timpal Vani.
Mereka pun berjalan menyusuri koridor kantor yang sudah sepi.
Nick membukakan pintu mobil untuk Vani lalu dia memutar dan masuk.
Bensin mobil terlihat sudah habis untuk itu dia membelokkan mobil ke pom bensin.
Setelah mengisi bahan bakar, Nick menepikan mobilnya
"Bentar ya Van, ada temen aku," kata Nick lalu turun dari mobil
Mata Vani tertuju pada bungkusan yang terletak di jok belakang mobilnya.
Vani yang penasaran pun mengambilnya dan membuka isinya.
Vani membolakan matanya melihat isi dari bungkusan tersebut.
"Cantik sekali pasti ini buat aku," gumam Vani lalu mengembalikan kembali pada tempat semula.